GROBOGAN, Kabarjateng.id – Suasana berbeda tampak di tepian Sungai Tuntang, Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan.
Warga Desa Ngombak dan Desa Kentengsari berkumpul untuk menyaksikan berdirinya jembatan gantung yang selama ini mereka nantikan.
Jembatan yang membentang di atas Sungai Tuntang itu kini menghubungkan langsung dua desa yang sebelumnya terpisah oleh aliran sungai.
Bagi masyarakat setempat, jembatan sepanjang sekitar 80 meter tersebut bukan sekadar sarana penghubung, tetapi juga solusi atas keterbatasan akses yang mereka alami selama puluhan tahun.
Penantian Panjang Warga Dua Desa
Sekretaris Desa Kentengsari, Wartoyo, menyampaikan rasa syukur atas hadirnya jembatan tersebut.
Ia menegaskan warga sudah sangat lama menantikan akses penghubung yang aman dan layak.
“Terima kasih atas pembangunan jembatan ini. Warga sudah berpuluh-puluh tahun menunggu adanya jembatan yang bisa menghubungkan dua desa,” ujar Wartoyo.
Sebelum jembatan berdiri, masyarakat harus berjuang menyeberangi Sungai Tuntang.
Warga sempat menggunakan rakit sederhana yang mereka tarik secara manual dengan tali dari kedua sisi sungai.
Namun cara tersebut tidak selalu bisa mereka gunakan, terutama saat arus sungai deras.
“Dulu warga memakai rakit yang ditarik manual untuk menyeberang. Kalau arus sungai deras, rakit tidak bisa dipakai. Sekarang akses warga jauh lebih mudah,” tambahnya.
Akses Lebih Dekat dan Cepat
Warga Kentengsari lainnya, Daryanto, juga merasakan perubahan besar setelah jembatan itu berdiri.
Menurutnya, wilayah sekitar sungai sebelumnya terasa seperti terisolasi karena tidak memiliki jalur penghubung langsung.
“Sudah lama daerah ini seperti terisolasi. Dulu ada perahu penyeberangan manual, tapi akhirnya hanyut terbawa arus,” kata Daryanto.
Tanpa jembatan, warga yang ingin menuju Desa Ngombak atau Kentengsari harus memutar melalui Kecamatan Kedungjati.
Jarak yang sebenarnya dekat berubah menjadi perjalanan cukup jauh.
“Kalau lewat Kedungjati jaraknya bisa sekitar 12 kilometer dan butuh waktu lebih dari 20 menit. Sekarang hanya sekitar lima menit,” jelasnya.
Keberadaan jembatan itu juga membantu anak-anak sekolah. Mereka kini bisa menempuh perjalanan lebih singkat tanpa harus memutar jauh.
“Sekarang anak-anak sekolah bisa lewat sini, tidak perlu mutar jauh lagi,” lanjut Daryanto.
Bagian dari Program Jembatan Garuda
Program Jembatan Garuda dari TNI Angkatan Darat mendorong pembangunan jembatan tersebut untuk membuka akses wilayah yang sebelumnya terisolasi.
Di wilayah Kodam IV/Diponegoro, program ini menargetkan pembangunan 39 jembatan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Prajurit TNI bersama masyarakat telah menyelesaikan 13 jembatan, sementara 26 jembatan lainnya masih mereka kerjakan.
Program ini mencakup pembangunan 20 jembatan Armco, 17 jembatan gantung, serta dua jembatan Bailey di berbagai wilayah Kodim jajaran Kodam IV/Diponegoro.
Kepala Staf Angkatan Darat meluncurkan program pembangunan Jembatan Garuda secara serentak di berbagai daerah.
Di wilayah Kodam IV/Diponegoro, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin memimpin langsung kegiatan tersebut dari lokasi Jembatan Gantung Sungai Tuntang di Desa Ngombak.
Membuka Harapan Baru bagi Warga
Kini jembatan yang menghubungkan Desa Ngombak dan Desa Kentengsari itu tidak hanya memperpendek jarak tempuh, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat sekitar.
Sekitar 1.073 kepala keluarga atau 6.418 jiwa kini merasakan manfaat dari hadirnya akses penghubung tersebut.
Warga lebih mudah menuju sekolah, lahan pertanian, pasar, serta berbagai pusat aktivitas ekonomi.
Bagi masyarakat setempat, jembatan itu bukan sekadar bangunan yang melintang di atas sungai.
Kehadirannya menjadi jalan baru menuju pendidikan, pertanian, dan masa depan yang lebih baik setelah penantian panjang selama puluhan tahun. (rs)






