SEMARANG, Kabarjateng.id – Ribuan umat muslim memadati halaman Museum Lawang Sewu, Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat (6/6), untuk menunaikan Salat Iduladha 1446 Hijriah/2025 Masehi.
Ibadah berlangsung dalam suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan, disertai cuaca cerah yang mendukung jalannya kegiatan sejak pagi hari.
Takbir menggema mengiringi pelaksanaan salat berjemaah dan khotbah yang diadakan di ruang terbuka, berpadu harmonis dengan kemegahan arsitektur bangunan bersejarah peninggalan era kolonial tersebut.
Warga dari berbagai wilayah di Kota Semarang tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian ibadah hingga selesai.
Vice President of Asset Optimization PT KAI Wisata, Anton Poniman, menyampaikan bahwa penyelenggaraan kegiatan keagamaan ini merupakan wujud komitmen pihaknya dalam mengelola aset milik negara secara inklusif dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
“Lawang Sewu adalah salah satu aset yang kami kelola, dan kami ingin keberadaannya dapat memberi nilai tambah, baik secara historis maupun sosial. Ini bukan kali pertama kami menyelenggarakan kegiatan seperti ini,” ujar Anton.
Ia menambahkan, bangunan yang dirancang arsitek Jacob K. Klinkhamer dan telah berusia lebih dari 160 tahun ini, secara rutin menjadi tempat pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan, tidak terbatas hanya untuk umat Islam.
“Kegiatan yang pernah digelar di sini antara lain Salat Idulfitri, peringatan Maulid Nabi, Isra Mikraj, hingga kebaktian memperingati Kenaikan Isa Almasih. Kami ingin Lawang Sewu menjadi ruang publik terbuka yang dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, lintas agama,” jelasnya.
Dulunya merupakan kantor pusat perusahaan kereta api Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), Lawang Sewu kini telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi budaya dan sejarah unggulan di Kota Semarang.
“Kami berharap Salat Iduladha tahun ini tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga sarana masyarakat untuk menikmati nilai-nilai sejarah dan budaya dari situs cagar budaya ini,” tambah Anton.
Salah satu jemaah, Vivi (23), mengaku senang dapat menjalankan ibadah sekaligus menikmati nuansa bersejarah Lawang Sewu.
“Biasanya mudik, tapi tahun ini salat di sini karena nggak pulang kampung. Tempatnya bagus, salatnya khusyuk, habis itu bisa foto-foto juga. Tadi malah gratis masuknya,” ucapnya sambil tersenyum.
Dengan pendekatan inklusif dan terbuka, Museum Lawang Sewu kini tak hanya menjadi ikon sejarah, tapi juga simbol toleransi dan ruang spiritual bersama bagi masyarakat Kota Semarang. (day)






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.