BREBES, Kabarjateng.id – Suara dari masyarakat Brebes Selatan kembali menggema melalui kegiatan Dialog Pembangunan Brebes Beres Brebes Selatan yang digelar di Pendopo II Bumiayu, Selasa (21/10).
Acara ini menghadirkan berbagai elemen masyarakat dari enam kecamatan, antara lain Bumiayu, Paguyangan, Bantarkawung, Salem, Sirampog, dan Tonjong, bersama tokoh masyarakat serta perwakilan pemerintah daerah.
Forum tersebut menjadi wadah strategis untuk menyampaikan aspirasi warga sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mendorong pemerataan pembangunan di wilayah selatan Brebes.
Selama ini, kawasan tersebut dinilai masih tertinggal dibandingkan wilayah utara dan pusat kabupaten.
Ketua Panitia, Imam Santoso, dalam sambutannya berharap kegiatan ini tidak berhenti pada tataran seremonial, tetapi benar-benar menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah daerah.
“Mudah-mudahan dialog ini membawa hasil nyata. Ini langkah awal menuju arah pembangunan Brebes Selatan yang lebih merata dan berkeadilan,” ujarnya.
Beragam isu strategis muncul dalam forum tersebut. Perwakilan dari Kecamatan Paguyangan menyoroti kondisi infrastruktur jalan di daerah pegunungan seperti Desa Pandansari yang dinilai rawan longsor dan memperlambat distribusi hasil pertanian.
“Kami berharap perbaikan jalan kabupaten di wilayah pegunungan bisa menjadi prioritas APBD, terutama di titik-titik yang sering longsor,” ungkap salah satu peserta.
Dari Kecamatan Bantarkawung, perhatian tertuju pada pentingnya pengembangan potensi lokal.
Warga menilai perlunya pendampingan bagi petani mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran hasil bumi.
“Potensi alam kami besar, dari bambu, briket, hingga tanaman pangan. Tapi tanpa dukungan pemasaran, hasilnya tak maksimal. Pemerintah perlu menjembatani petani dengan koperasi dan pasar,” ujar perwakilan Bantarkawung.
Sementara itu, peserta dari Bumiayu menyoroti mandeknya pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta kerusakan Bendungan Notog yang sejak 2016 belum diperbaiki.
“Bendungan Notog rusak sudah bertahun-tahun. Akibatnya lahan pertanian sering kering dan hasil panen menurun. Kami sudah sering mengadu, tapi tak ada tindak lanjut,” tutur salah satu tokoh masyarakat.
Dari Kecamatan Salem, isu lingkungan dan pemerataan ekonomi menjadi sorotan.
Warga menilai eksploitasi hutan berlangsung tanpa pengawasan ketat, sementara manfaat ekonomi untuk masyarakat sekitar belum terasa.
“Kami hanya jadi penyumbang sumber daya alam tanpa mendapat nilai tambah. Kalau dibiarkan, hutan kita habis tanpa meninggalkan kesejahteraan,” kata seorang peserta dari Salem.
Peserta forum juga menyoroti minimnya investasi industri di wilayah selatan, yang dianggap sebagai penghambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Karena itu, mereka mendorong pemerintah membuka ruang kerja sama dengan pihak ketiga, terutama dalam pengembangan sektor wisata dan ekonomi kreatif.
“Brebes Selatan punya potensi wisata dan budaya yang luar biasa. Kalau dikelola serius dengan melibatkan investor, bisa jadi sumber pertumbuhan baru,” ujar peserta lain.
Dialog diakhiri dengan doa bersama serta penandatanganan komitmen dari seluruh peserta untuk mengawal hasil pertemuan agar tidak berhenti di atas kertas.
Aspirasi masyarakat Brebes Selatan ini diharapkan menjadi masukan penting bagi pemerintah daerah dalam penyusunan rencana pembangunan jangka menengah dan panjang Kabupaten Brebes. (wb)






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.