Menu

Mode Gelap
 

Kabar Jawa Tengah

Beasiswa Santri Jateng Buka Jalan Pendidikan hingga Luar Negeri

badge-check


					Beasiswa Santri Jateng Buka Jalan Pendidikan hingga Luar Negeri Perbesar

SEMARANG | Kabarjateng.id — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat pemberdayaan pesantren melalui berbagai program peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Salah satunya diwujudkan lewat pemberian beasiswa bagi santri dan pengasuh pondok pesantren.

Program tersebut menjadi bagian dari perhatian Pemprov Jateng di momentum Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah.

Tidak hanya membuka akses pendidikan tinggi di dalam negeri, program beasiswa tahun 2026 juga memberikan kesempatan bagi santri untuk menempuh pendidikan hingga ke luar negeri.

Seleksi penerima beasiswa berlangsung di Ruang Muria, kompleks Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDM) Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026).

Para peserta mengikuti rangkaian wawancara dengan materi yang berkaitan dengan kemampuan membaca kitab kuning, hafalan Al-Qur’an, pengetahuan kepesantrenan, serta wawasan kebangsaan.

Berdasarkan data Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jawa Tengah, tercatat 942 orang mengikuti proses pendaftaran.

Jumlah tersebut terdiri atas 702 santri dan 240 pengasuh pesantren. Setelah melalui tahapan seleksi, sebanyak 73 peserta dinyatakan berhak menerima beasiswa.

Ketua LFSP Jawa Tengah Hasyim Muhammad mengatakan, dari 73 penerima tersebut, sebanyak 15 orang memperoleh beasiswa untuk menempuh pendidikan S1 di luar negeri.

Sementara 58 lainnya mendapatkan beasiswa untuk jenjang S1, S2, dan S3 di perguruan tinggi dalam negeri.

Para penerima beasiswa luar negeri akan melanjutkan studi di sejumlah negara, di antaranya China, Mesir, dan Yaman.

Pilihan bidang pendidikan juga beragam, mulai dari kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, pertanian, humaniora, ilmu keislaman hingga teknologi.

Untuk penerima beasiswa luar negeri, Pemprov Jateng menanggung sejumlah kebutuhan pendidikan dan penunjang, seperti biaya kuliah, visa, biaya hidup, asuransi kesehatan, serta tiket perjalanan pulang-pergi.

Sedangkan penerima beasiswa dalam negeri mendapatkan bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga delapan semester.

Hasyim menjelaskan, program tersebut merupakan salah satu bentuk implementasi Program Pesantren Obah yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.

LFSP mendapat mandat untuk melaksanakan proses seleksi setelah lembaga tersebut dibentuk pada November 2025.

Menurut Hasyim, program ini sengaja dirancang untuk memberikan kesempatan lebih luas kepada kalangan pesantren, termasuk santri salaf yang selama ini mungkin menghadapi tantangan ketika mengakses berbagai program beasiswa.

Sosialisasi program telah dilakukan melalui berbagai kanal, baik secara daring maupun tatap muka.

Informasi mengenai program juga disediakan melalui aplikasi Jateng Ngopeni Nglakoni (JNN) serta laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Program beasiswa tersebut menjadi pengalaman perdana bagi Pemprov Jateng dan direncanakan kembali dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya.

Salah satu penerima beasiswa, Aqila Keisha Haulina dari Kudus, menyambut kesempatan tersebut dengan penuh syukur.

Ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan Kedokteran Gigi di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Aqila sebelumnya menempuh pendidikan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an 2 Muria dan kemudian melanjutkan ke MA Mu’allimat NU Kudus.

Keinginannya menjadi tenaga medis sejak kecil membuatnya memilih bidang kedokteran gigi.

Namun, persoalan biaya kuliah sempat menjadi salah satu pertimbangan.

Dengan adanya beasiswa dari Pemprov Jateng, beban pembiayaan pendidikan yang harus ditanggung keluarga menjadi lebih ringan.

“Saya berharap bisa menjadi dokter gigi yang adil, yang sungguh-sungguh, dan tidak melupakan ajaran agama yang sudah saya bawa sebelumnya dengan tetap menerapkan sisi kemanusiaan,” ujar Aqila, Rabu (12/8/2026).

Ia berharap program tersebut terus dilanjutkan, sekaligus memperluas pilihan jurusan dan menambah jumlah penerima pada masa mendatang.

Harapan serupa disampaikan Akhmad Khafidz Al Mubarok. Ia mendapat kesempatan menempuh pendidikan S1 bidang sains dan teknologi di Dalian University of Technology, China.

Khafidz memilih jurusan Computer Science and Technology karena ketertarikannya terhadap teknologi sejak kecil.

Ia berharap pendidikan yang ditempuh di China dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus membantu perekonomian keluarga.

“Sangat bahagia karena bisa membantu perekonomian orang tua. Saya memilih Computer Science and Technology karena sejak kecil sudah berminat dan ingin mendalaminya di salah satu pusat teknologi, yaitu China,” katanya.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, santri memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam berbagai bidang.

Menurutnya, pendidikan pesantren memberikan bekal tambahan berupa nilai toleransi, agama, dan pemahaman terhadap kehidupan bermasyarakat.

Ia mendorong agar program beasiswa santri terus dikembangkan.

Luthfi juga berharap pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah ikut mengambil peran dalam memperluas dukungan terhadap pendidikan santri.

Sementara itu, Taj Yasin Maimoen menegaskan bahwa tujuan program tidak berhenti pada pencapaian akademik.

Para penerima beasiswa diharapkan nantinya membawa keahlian yang diperoleh untuk memberikan manfaat bagi pesantren dan masyarakat.

Pesantren, kata dia, membutuhkan tenaga profesional dari berbagai disiplin ilmu, termasuk dokter, ahli pertanian, tenaga teknologi, hingga pengelola usaha.

Karena itu, penerima beasiswa diharapkan tetap memiliki ikatan dengan pesantren yang memberikan rekomendasi.

Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka didorong untuk kembali dan ikut mengembangkan lingkungan pesantren.

Selain beasiswa pendidikan, Pemprov Jateng juga menjalankan program tali asih atau bisyaroh bagi santri penghafal Al-Qur’an.

Sejak 2025, ribuan santri telah mendapatkan bantuan masing-masing sebesar Rp1 juta.

Taj Yasin menegaskan, pemberian tali asih tersebut tidak dibatasi berdasarkan asal kartu tanda penduduk.

Santri penghafal Al-Qur’an yang belajar di pesantren wilayah Jawa Tengah dapat memperoleh bantuan, termasuk mereka yang berasal dari luar provinsi.

Penerima program tersebut tercatat berasal dari sejumlah daerah, antara lain Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta, Yogyakarta, hingga Kalimantan.

Menurut Taj Yasin, perhatian terhadap para penghafal Al-Qur’an diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar membangun Jawa Tengah sekaligus membawa keberkahan bagi masyarakat dan pemerintahan. (dkp)

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

SAMBARA Resmi Dideklarasikan di Semarang, Siap Jadi Pengawal Aspirasi Rakyat

28 Agustus 2026 - 01:17 WIB

Kodim 0728/Wonogiri Peringati Maulid Nabi, Perkuat Keimanan dan Kebersamaan

27 Agustus 2026 - 21:17 WIB

Viral di Media Sosial, Polisi Cegah Dugaan Duel Pelajar Bersenjata Celurit di Ambarawa

27 Agustus 2026 - 21:07 WIB

Polres Tegal Gerak Cepat Tindak Laporan Tawuran, Lima Remaja Diamankan

27 Agustus 2026 - 19:30 WIB

Maulid Nabi Muhammad SAW, SMK Ma’arif NU 1 Paguyangan Teguhkan Keteladanan Rasulullah

27 Agustus 2026 - 19:19 WIB

Peringati Maulid Nabi, Polres Demak Perkuat Pembinaan Moral dan Integritas Personel

27 Agustus 2026 - 17:53 WIB

Trending di Daerah