MAKKAH | Kabarjateng.id – Perjalanan ibadah umrah di Tanah Suci tidak hanya diisi dengan rangkaian ibadah, tetapi juga menjadi momentum bagi jemaah untuk mengenang kiprah para ulama Indonesia.
Salah satunya melalui ziarah ke kompleks pemakaman Ma’la, Makkah, Selasa (18/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, jemaah umrah Biro Alfazza (PT Alfazza Nabawi Tour dan Travel) berziarah ke makam sejumlah ulama asal Indonesia, yakni KH Muslih bin Abdurahman atau Mbah Muslih Mranggen, KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen, serta Syekh Nawawi al-Bantani.
Ketua Kelompok Umrah Biro Alfazza, Ustaz Ahmad Rifqi Hidayat AH, mengatakan ziarah tersebut menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan hidup para ulama yang tidak hanya berkiprah dalam bidang keagamaan, tetapi juga memiliki perhatian besar terhadap bangsa dan negara.
Menurut Rifqi, Mbah Muslih Mranggen merupakan salah satu ulama yang turut mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selain dikenal sebagai tokoh tarekat dan pengasuh Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Mbah Muslih disebut pernah terlibat dalam Laskar Hizbullah.
“Beliau tidak hanya dikenal sebagai ulama tarekat dan tokoh yang mengembangkan Pesantren Futuhiyyah Mranggen, tetapi juga mempunyai sejarah dalam perjuangan kemerdekaan,” ujar Rifqi seusai kegiatan ziarah.
Ia menjelaskan, Mbah Muslih pernah mendapatkan pelatihan kemiliteran bersama KH Abdullah Abbas dari Buntet Cirebon.
Dalam perjuangan tersebut, Mbah Muslih juga disebut memimpin pasukan Sabilillah yang beranggotakan para kiai dan ulama di kawasan Demak bagian selatan hingga wilayah tenggara Semarang.
Rifqi yang pernah menjabat Ketua Keluarga Santri Semarang (Kesis) Mranggen itu menambahkan, kiprah tersebut menjadi bagian dari sejarah keterlibatan ulama dalam perjuangan bangsa.
Ia juga menilai perjuangan para ulama Indonesia tidak dapat dilepaskan dari upaya mempertahankan kemerdekaan sekaligus menjaga nilai-nilai keagamaan.
“Sejarah menunjukkan bahwa banyak ulama Indonesia memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa. Bahkan, sampai sekarang semakin banyak tokoh ulama yang diusulkan memperoleh gelar pahlawan nasional,” tuturnya.
Sementara itu, Tour Leader Biro Alfazza, Ustaz Muhammad Zainuddin AH, menyampaikan bahwa ziarah ke makam para ulama tersebut bukan agenda wajib dalam perjalanan umrah.
Kegiatan itu dilakukan atas kesepakatan dan keinginan bersama para jemaah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah.
Menurut Zainuddin, para jemaah ingin menggunakan waktu luang untuk berziarah sekaligus mengenang jasa para ulama Indonesia yang memiliki kontribusi terhadap kehidupan beragama dan kebangsaan.
“Ziarah ini merupakan inisiatif bersama para jemaah. Mereka ingin mendoakan sekaligus mengambil hikmah dari perjuangan para ulama yang dikenal memiliki semangat kebangsaan,” katanya.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat memperkuat pemahaman jemaah bahwa kecintaan terhadap agama dan bangsa dapat berjalan beriringan.
“Ulama Indonesia tidak hanya memiliki peran dalam pendidikan dan dakwah keagamaan. Banyak di antara mereka juga memberikan teladan tentang pentingnya menjaga persatuan dan nasionalisme,” pungkasnya. (arh)






