SEMARANG, Kabarjateng.id – Perubahan arus musik Jawa mulai muncul, selain identik dari ambyar, campursari, dangdut koplo, yaitu lagu berkonsep anime Jepang Jawa.
Tema patah hati dan melankolia kerap mendominasi tangga lagu maupun platform digital.
Namun dari tema itu justru muncul sebuah warna baru yang cukup berbeda.
Seorang musisi asal Semarang, Hendra Kumbara, menghadirkan konsep musik yang tidak biasa, memadukan energi rock Jepang ala soundtrack anime dengan lirik berbahasa Jawa.
Sekilas, perpaduan mungkin terdengar tidak lazim.
Namun atas keberanian menggabungkan dua dunia budaya yang berbeda inilah lahir sebuah identitas musik unik dan mulai menarik perhatian publik.
Khususnya untuk para generasi muda yang akrab dengan budaya pop Jepang.
Inspirasi konsep “Jepang Jawa” tidak muncul secara tiba-tiba.
Hendra mengaku ide berakar dari pengalaman masa kecilnya yang akrab dengan berbagai serial anime televisi.
Sejak kecil, ia sudah mendengar lagu pembuka maupun penutup anime yang energik dan penuh emosi.
Beberapa judul yang membekas dalam ingatannya antara lain Doraemon, Crayon Shin-chan, hingga Dragon Ball.
Bagi Hendra, bukan hanya ceritanya yang menarik, tetapi juga musiknya yang sangat khas.
“Dari kecil saya sudah sering dengar soundtrack anime dan lagu-lagu Jepang. Akhirnya saat bikin lagu, nadanya gaya rock Jepang, tapi liriknya tetap Jawa,” ujar Hendra.
Era 1990-an
Pengaruh itu kemudian semakin kuat ketika ia mulai mengenal berbagai band Jepang yang populer pada era 1990-an hingga awal 2000 an.
Salah satu yang paling berpengaruh untuk gaya musiknya adalah L’Arc-en-Ciel.
Band rock legendaris Jepang ini memiliki karakter musik dinamis, progresi chord yang unik, serta melodi yang kuat dan dramatis.
Unsur-unsurnya secara tidak langsung membentuk karakter musikal Hendra hingga saat ini.
Meski inspirasi muncul dari musik Jepang, Hendra tetap menjadikan bahasa Jawa sebagai medium utama dalam lirik lagu-lagunya.
Bagi dirinya, keputusan itu bukan hanya soal bahasa, tetapi juga identitas dan kenyamanan dalam berekspresi.
Nyaman Bahasa Jawa
Ia mengaku lebih mudah menuangkan perasaan maupun cerita melalui bahasa Jawa daripada bahasa Indonesia.
“Kalau saya menyanyi bahasa Indonesia rasanya masih medok, jadi lebih nyaman pakai bahasa Jawa. Dari situ malah jadi ciri khas,” katanya.
Di tengah dominasi lagu Jawa dengan tema patah hati atau ambyar, musik Hendra hadir dengan nuansa berbeda, ritme cepat, energi tinggi, dan atmosfer dramatis khas rock Jepang.
Perpaduan ini membuat lagu-lagunya segar sekaligus berbeda dari tren musik Jawa yang sedang populer.
Konsep “Jepang Jawa” mulai dikenal luas setelah beberapa karya Hendra viral lewat media sosial.
Tidak hanya dari segi musik, tetapi juga dari tampilan visual yang ia hadirkan dalam video klip.
Dalam beberapa penampilan, Hendra menggunakan kostum dari karakter anime maupun gaya fashion Jepang.
Hal ini membuat penggemar anime merasa memiliki kedekatan dengan karya-karyanya.
Menariknya, banyak penonton yang justru aktif menebak karakter anime yang menginspirasi kostum itu dari kolom komentar.
“Banyak yang komentar soal kostum. Mereka malah tahu nama karakternya, sementara saya sendiri kadang tidak tahu,” kata Hendra sambil tertawa.
Interaksi ini menunjukkan bagaimana musiknya mampu menjangkau komunitas yang sebelumnya mungkin tidak dekat dengan musik Jawa.
Sejauh ini, Hendra telah merilis delapan lagu dengan konsep “Jepang Jawa”.
Beberapa lagunya mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat serta nuansa religi yang berkaitan dengan bulan Ramadan.
Tiga lagu yang memiliki tema Ramadan antara lain adalah Abab Poso, Kawan Sahur, Rasito Bali (dirilis pada awal Ramadan 2026).
Dari ketiga lagu itu, Kawan Sahur menjadi salah satu yang paling populer.
Lagu ini bahkan sempat dibawakan ulang oleh dua penyanyi Jawa yang memiliki basis penggemar besar, yakni Denny Caknan dan Ndarboy Genk.
Cover dari dua musisi ini membuat lagu Kawan Sahur semakin viral untuk penikmat musik Jawa.
Menurut Hendra, perpaduan musik Jepang dengan lirik Jawa membuka peluang pasar yang cukup menarik.
Banyak anak muda yang sebelumnya hanya menikmati anime atau musik Jepang akhirnya mendengarkan lagu Jawa karena menemukan nuansa yang familiar.
“Banyak anak muda suka anime atau budaya Jepang akhirnya mulai suka karena musiknya familiar, tapi liriknya Jawa,” jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa musik daerah sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang jika mampu beradaptasi dengan selera generasi baru.
Alternatif Baru
Bagi Hendra, konsep “Jepang Jawa” bukan sekadar eksperimen musikal semata.
Ia berharap pendekatan ini bisa menjadi alternatif baru dalam perkembangan musik Jawa di Indonesia.
Menurutnya, musik daerah tidak harus selalu terjebak dalam formula lama.
Dengan keberanian memadukan berbagai unsur budaya, musik lokal justru dapat menemukan audiens baru yang lebih luas.
Terlebih di era digital saat ini, ketika media sosial mampu mempercepat penyebaran karya hingga menjangkau komunitas global.
Jika tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin musik Jawa dengan sentuhan global seperti “Jepang Jawa” akan semakin populer di kalangan generasi muda.
Dan dari Kota Semarang, eksperimen musikal itu telah dimulai oleh seorang musisi yang tumbuh bersama anime, gitar listrik, dan bahasa Jawa.(whs)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.