MAKKAH | Kabarjateng.id — Keinginan untuk memperbaiki kualitas ibadah membuat Sutarto, 69 tahun, mengambil keputusan yang cukup berbeda dari rencana hidupnya.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan itu memilih mengalokasikan tabungannya untuk menunaikan ibadah umrah dan mengesampingkan niat menikah lagi.
Sebelumnya, Sutarto sempat menjadi perbincangan di lingkungan tempat tinggalnya karena dikabarkan akan menikah dengan seorang perempuan yang telah lama dikenalnya.
Namun, sekitar dua tahun lalu, muncul keinginan kuat dalam dirinya untuk berangkat ke Tanah Suci.
Keinginan tersebut muncul setelah melihat panjangnya masa tunggu ibadah haji.
Ia pun mulai menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit agar dapat mewujudkan niat tersebut.
“Sekitar dua tahun lalu sudah terpikir untuk umrah. Waktu itu uangnya baru sedikit,” ujar Sutarto seusai mengikuti khataman Alquran di Masjidil Haram, Makkah, Minggu (23/8/2026).
Rencana umrah itu kemudian dibicarakan bersama keluarga.
Anak-anaknya, termasuk seorang putri dan dua putranya, ternyata kurang mendukung rencana Sutarto untuk menikah kembali.
Keluarga akhirnya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Sutarto. Ia pun memilih memprioritaskan ibadah.
“Anak saya bilang, kalau bapak mau umrah dulu, silakan. Saya ikut keputusan bapak,” tuturnya.
Menabung Sedikit demi Sedikit
Selama bekerja sebagai buruh bangunan, Sutarto terbiasa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk kebutuhan masa depan.
Sebagian uang tersebut bahkan dipercayakan kepada putrinya agar dapat digunakan ketika sudah tidak lagi bekerja.
Dari kebiasaan menabung itu, terkumpul sekitar Rp10 juta.
Selain itu, masih ada uang Rp13 juta yang dipinjam adiknya.
Sutarto mengaku tidak pernah memaksa sang adik segera mengembalikannya karena saat itu dirinya belum memiliki kebutuhan mendesak.
Ia juga menyimpan sekitar Rp7 juta yang dititipkan kepada keponakannya.
Jika digabungkan dengan uang yang tersedia, tabungannya mencapai sekitar Rp40 juta.
Setelah merasa dana yang dimiliki cukup, Sutarto mulai mencari informasi mengenai perjalanan umrah.
Ia kemudian tertarik mengikuti program umrah selama 12 hari yang mencakup tujuh hari di Makkah dan lima hari di Madinah.
Begitu mantap mendaftar, seluruh dana yang telah dikumpulkannya langsung disiapkan untuk biaya keberangkatan.
“Saya memang ingin memastikan uangnya sudah ada dulu. Jadi ketika bertanya tentang umrah, uangnya memang sudah terkumpul,” katanya.
Pendaftaran kemudian diurus oleh adiknya pada Agustus 2026 di kantor PT Alfazza Nabawi Tour & Travel, Semarang.
Bekal Umrah Disiapkan Keluarga
Persiapan keberangkatan juga menjadi momen berkesan bagi Sutarto.
Ia sempat mengira adiknya membawa kardus berisi pakaian.
Namun, setelah dibuka, ternyata kardus tersebut berisi perlengkapan perjalanan, termasuk koper.
Dua koper, tas punggung, tas pinggang, hingga pakaian ihram telah disiapkan.
Keluarga juga menggelar selamatan sederhana sebagai bentuk syukur sebelum Sutarto berangkat ke Tanah Suci.
Selama berada di Makkah, Sutarto terlihat antusias menjalankan rangkaian ibadah.
Ia juga rutin berkomunikasi dengan keluarga, terutama putrinya.
Setiap hendak menuju Masjidil Haram, ia kerap melakukan panggilan video untuk berbagi suasana dengan keluarganya dari Tanah Suci.
Selama tujuh hari berada di Makkah, Sutarto mengaku telah melaksanakan umrah sebanyak tiga kali.
Ia berharap seluruh rangkaian ibadahnya diterima Allah SWT.
“Alhamdulillah, umrah berjalan relatif lancar. Semoga menjadi umrah yang mabrur dan membawa keberkahan,” ujarnya.
Kini, Sutarto mengaku tidak lagi memikirkan rencana menikah.
Selain ingin lebih fokus beribadah, ia juga telah melaksanakan badal umrah untuk mendiang istrinya.
Kisah Sutarto menjadi gambaran bahwa usia bukan penghalang untuk mewujudkan niat beribadah.
Dengan kesederhanaan dan ketekunan menyisihkan penghasilan, seorang buruh bangunan mampu membawa impiannya hingga ke Tanah Suci. (arh)






