SEMARANG, Kabarjateng.id – Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes kembali menghadirkan kegiatan ilmiah bertema Vidya Parinama berupa pameran data dan seminar Pendidikan Seni yang digelar di Aula Gedung FBS Unnes, Senin-Selasa (24–25/11).
Kegiatan yang mengusung tema “Dialektika, Tradisi dan Inovasi dalam Pendidikan Seni” ini diikuti dosen, mahasiswa magister dan doktor Pendidikan Seni, serta pembahas dari berbagai perguruan tinggi mitra.
Sebagai kampus dengan reputasi unggul di bidang Pendidikan Seni, Unnes menempatkan kegiatan Vidya Parinama sebagai ruang akademik yang mempertegas komitmen universitas dalam memperkaya kajian seni berbasis data.
Tidak hanya menjadi agenda tahunan, Vidya Parinama kini diposisikan FBS Unnes sebagai wadah integratif antara tradisi, praktik seni, dan inovasi metodologis dalam pendidikan.
Wakil Dekan I FBS Unnes, Dr. Eko Raharjo, M.Hum, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bukti keberlanjutan ruang ilmiah bagi sivitas akademika Unnes.
Ia menegaskan bahwa Unnes melalui Pendidikan Seni terus memperkuat tradisi akademik berbasis riset.
“Mudah-mudahan kegiatan seminar dan pameran ini berjalan lancar dan membawa manfaat bagi pengembangan Pendidikan Seni di Unnes,” ujar Eko.
Strategi Prodi Menguatkan Riset Mahasiswa
Koordinator kegiatan sekaligus dosen pengampu Program Magister dan Doktor Pendidikan Seni Unnes, Prof. Dr. Agus Cahyono, M.Hum, menjelaskan bahwa Vidya Parinama merupakan bagian langsung dari mata kuliah Kajian Data untuk S2 dan Penyajian Data untuk S3.
Ia menegaskan bahwa Unnes membutuhkan strategi yang mampu mendorong mahasiswa turun ke lapangan dan mengumpulkan data penelitian secara komprehensif.
“Mahasiswa diharapkan menyiapkan seluruh data penelitian tesis maupun disertasi. Kegiatan ini mengkondisikan dan mempercepat mereka agar tepat waktu. Mau tidak mau mereka harus turun gunung, mendapatkan data sebanyak mungkin,” jelas Agus.
Menurutnya, strategi ini merupakan bagian dari kebijakan Prodi Pendidikan Seni Unnes dalam menjaga kualitas riset.
Harapannya, mahasiswa baik di tingkat magister maupun doktor dapat menyelesaikan penelitian dalam satu semester setelah proses penyajian data.

Pameran 33 karya mahasiswa S2 dan S3 Pendidikan Seni FBS Unnes
Untuk memperkaya perspektif, Prodi menghadirkan pembahas eksternal dari berbagai perguruan tinggi seperti ISBI Bandung, FKIP UNS, dan UNESA.
“Kami mengundang pembahas dari luar Unnes agar mahasiswa memperoleh masukan yang seimbang dan beragam,” lanjut Agus.
Ia juga menekankan bahwa roadmap penelitian Unnes menjadi dasar utama penentuan topik riset, mulai dari tingkat universitas, fakultas, hingga Prodi.
Karena itu, Pendidikan Seni di Unnes memiliki cakupan luas, mencakup pendidikan formal, non-formal, hingga komunitas seni.
Fleksibilitas inilah yang menjadi kekuatan Unnes dalam memposisikan seni sebagai media universal.
Pameran Data: 33 Mahasiswa Terlibat
Panitia pelaksana sekaligus mahasiswa S3 Pendidikan Seni Unnes, Tatang, menjelaskan bahwa Vidya Parinama tahun ini menampilkan pameran data penelitian dari total 33 mahasiswa, terdiri atas empat mahasiswa doktoral dan sisanya mahasiswa magister dari rombongan reguler, fast track, dan RPL.
Pameran menampilkan data penelitian yang mencakup empat bidang seni: tari, musik, seni rupa, dan seni pertunjukan.
Seluruh data disajikan dalam bentuk poster beserta alat pendukung lainnya.
“Pameran data ini dikoreksi oleh dosen pengampu maupun pengunjung untuk memberikan masukan terhadap arah penelitian mahasiswa,” jelasnya.
Selain pameran, Vidya Parinama Unnes juga menghadirkan empat pembahas eksternal dengan kepakaran berbeda.
Yakni, Prof. Dr. Jaeni, S.Sn., M.Si (Guru besar ISBI BANDUNG) materi Transformasi Data-Data Riset dalam Dialektika Tradisi dan Inovasi Pendidikan Seni.
Dr. Nanang Yulianto, S.Pd., M.Ds. (Kaprodi Seni UNS) materi Pameran Seni Rupa Sebagai Media Untuk Penguatan Literasi Budaya.
Dan Nyak Ina Raseuki, Ph.D.(Dosen Pascasarjana IKJ) materi Penelitian Musik.
Dr. Setyo Yanuartuti, M.Si. (UNESA) materi pendekatan penelitian seni dan pendidikan seni.
Keempatnya memberi pembahasan mendalam atas data penelitian mahasiswa.
Seminar S2: Ruang Kolaborasi Kajian Ilmiah
Pada hari kedua, mahasiswa S2 Pendidikan Seni Unnes mempresentasikan topik penelitian masing-masing dalam sesi seminar ilmiah.
Tidak hanya menghadirkan pemateri internal, panitia juga mengundang pemakalah dari luar Unnes untuk memberikan perspektif baru.
Seminar ini menegaskan sifat kolaboratif dan akademis dalam pendidikan seni di Unnes.
Tatang menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar tugas kuliah, tetapi ruang belajar bersama.
“Di Unnes, seni tidak hanya dipraktikkan, tetapi juga dikaji secara akademis. Inilah yang membedakan Unnes dengan perguruan tinggi lain,” ujarnya.
Mimpi Membesarkan Vidya Parinama
Sebagai kegiatan tahunan, panitia memiliki visi agar Vidya Parinama tumbuh menjadi agenda ilmiah nasional yang lebih besar.
“Harapan kami, kegiatan ini bisa diekskalasi untuk memajukan Pendidikan Seni di Indonesia. Unnes merupakan salah satu pionir Pendidikan Seni, dan kami ingin kontribusi ini semakin besar,” tutup Tatang.
Dengan kepadatan riset, kolaborasi, dan komitmen akademik yang kuat, Vidya Parinama kembali menegaskan posisi Unnes sebagai rumah unggulan bagi pengembangan Pendidikan Seni di Indonesia.
Penulis: Wahyu Hamijaya







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.