SEMARANG | Kabarjateng.id – Sejarah Jawa Tengah kini bisa ditelusuri melalui layar digital. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menghadirkan Pameran Virtual Kearsipan Jawa Tengah 2026 bertajuk “Jawa Tengah dalam Arsip” untuk membuka kembali berbagai rekaman masa lalu kepada masyarakat.
Pameran tersebut menampilkan beragam arsip bersejarah, mulai dari kehidupan Karesidenan Semarang pada era kolonial sekitar 1800-1900 hingga perjalanan panjang perkebunan kopi di Jawa Tengah.
Masyarakat dapat mengakses pameran secara daring melalui laman arpusda.jatengprov.go.id/pameran-virtual/ mulai 23 September hingga 12 Oktober 2026.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Rahmah Nur Hayati, mengatakan kegiatan tersebut melibatkan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) serta 35 dinas kearsipan dan perpustakaan kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Menurut Rahmah, digitalisasi menjadi salah satu cara untuk membuat arsip lebih mudah dikenal, khususnya oleh generasi muda yang sehari-hari dekat dengan teknologi dan berbagai platform digital.
“Arsip tidak lagi terkungkung di dalam depo arsip yang tertutup, tetapi terbuka, interaktif, dan mudah diakses oleh siapa pun, di mana pun,” kata Rahmah, Rabu (23/9/2026).
Selain pameran virtual, Pemprov Jateng dalam kesempatan yang sama memperkenalkan Diorama Virtual Jawa Tengah (Diva Jateng).
Rahmah menjelaskan, Diva Jateng merupakan layanan digital berbasis tiga dimensi yang dirancang interaktif dan imersif.
Platform tersebut menyajikan sejumlah ruang yang menggambarkan perjalanan kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah dari masa ke masa.
Diva Jateng juga memuat informasi mengenai Memori Kolektif Bangsa atau Memory of the World yang berkaitan dengan Jawa Tengah serta sejumlah tokoh penting dari provinsi tersebut.
Kepala ANRI Mego Pinandito mengapresiasi penyelenggaraan Pameran Virtual Kearsipan Jawa Tengah 2026 sekaligus peluncuran Diva Jateng.
Menurut Mego, pemanfaatan teknologi digital memberikan ruang baru bagi arsip agar tidak sekadar menjadi kumpulan dokumen, tetapi dapat dikemas menjadi cerita yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Arsip yang tadinya merupakan sebuah rekaman, kertas saja, nantinya bisa diramu dan dijadikan cerita-cerita menarik,” ujarnya.
Dalam pameran tersebut, ANRI turut menghadirkan tema “Sak Seruput Sak Cerita: Lelakon Kopi Jawa Tengah ing Arsip”.
Tema ini mengajak masyarakat melihat perjalanan kopi di Jawa Tengah melalui berbagai rekaman arsip.
Mego menilai, sejarah kopi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas minum kopi. Tradisi ngopi juga kerap menjadi bagian dari interaksi sosial, ruang diskusi hingga pembicaraan mengenai perkembangan ekonomi dan budaya masyarakat.
“Kalau kita bicara kopi, bukan hanya minum kopi. Ngopi-ngopi biasanya dilanjutkan dengan diskusi, rapat-rapat yang mendalami perjalanan sosial sebuah masyarakat, dari sisi ekonomi, budaya, dan sebagainya,” katanya.
Melalui pameran virtual tersebut, arsip Jawa Tengah diharapkan tidak hanya tersimpan sebagai dokumen sejarah, tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran yang lebih menarik bagi masyarakat lintas generasi. (dkp)






