SEMARANG | Kabarjateng.id – Jawa Tengah terus mematangkan persiapan untuk menghadapi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI 2026.
Ambisi menjadi juara umum dibangun melalui pembinaan berjenjang yang telah berlangsung sejak April lalu.
Para anggota kafilah menjalani berbagai tahapan persiapan, mulai dari karantina, pembinaan khusus sesuai cabang lomba, hingga pemusatan latihan terakhir di Asrama Haji Manyaran, Semarang.
Dalam tahap akhir ini, kemampuan peserta terus diasah melalui latihan teknis, penyusunan strategi, serta evaluasi secara berkala.
Salah satu peserta yang merasakan ketatnya pembinaan tersebut adalah Manbaul Ulum dari Jepara.
Ia akan mewakili Jawa Tengah pada cabang kaligrafi digital putra.
MTQ Nasional 2026 menjadi debutnya di tingkat nasional setelah sebelumnya berhasil meraih juara II pada MTQ tingkat Jawa Tengah.
Menurut Ulum, latihan untuk cabang kaligrafi membutuhkan konsentrasi dan stamina tinggi.
Peserta bahkan harus terbiasa bekerja dalam waktu lama karena durasi lomba dapat mencapai delapan jam.
“Memang digembleng dari pagi sampai malam kalau di kaligrafi,” kata Ulum ketika ditemui di Asrama Haji Manyaran, Semarang, Rabu (2/9/2026).
Ia menjelaskan, sejak April dirinya bersama peserta kaligrafi telah mengikuti pola pembinaan secara bertahap.
Mereka sempat menjalani karantina di Jakarta selama dua pekan, kemudian kembali ke daerah selama dua pekan sebelum mengikuti pembinaan lanjutan.
Pola tersebut dinilai penting karena karakter cabang kaligrafi berbeda dengan cabang lainnya.
Peserta tidak hanya dituntut memiliki kemampuan artistik, tetapi juga harus mampu menjaga konsentrasi dan kualitas karya selama perlombaan berlangsung.
Saat ini, Ulum dan peserta lainnya menjalani training camp selama kurang lebih satu bulan di Asrama Haji Manyaran.
Program tersebut menjadi bagian dari persiapan akhir sebelum seluruh kafilah diberangkatkan ke arena MTQ Nasional.
Ulum menilai pembinaan yang diberikan tahun ini jauh lebih intensif. Jawa Tengah menghadirkan pelatih yang memiliki pengalaman di berbagai level kompetisi, termasuk tingkat internasional.
“TC kali ini benar-benar luar biasa, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Dihadirkan para pembina yang tidak hanya kelas nasional, tetapi internasional,” ujarnya.
Materi yang diberikan tidak sebatas peningkatan kemampuan teknis. Peserta juga dibekali strategi menghadapi perlombaan dan mendapatkan koreksi secara mendalam terhadap hasil latihan.
“Trik dan tips untuk menjadi juara diajarkan. Tidak ada yang disembunyikan dari para pelatih,” katanya.
Semangat yang sama juga ditunjukkan Arifa Dini Islamiaty, kafilah asal Pemalang yang akan berlaga pada cabang tilawah golongan dewasa putri.
Arifa mengatakan, masa karantina dimanfaatkan untuk menemukan berbagai kekurangan yang masih dimiliki peserta.
Setiap kesalahan kemudian dievaluasi bersama pembina agar penampilan saat perlombaan dapat lebih maksimal.
“Selama karantina ini kita dibimbing betul-betul. Kekurangan-kekurangan kita diperbaiki, dinilai oleh pembina, sehingga arahan dari pembina insyaallah kami para peserta bisa menampilkan yang terbaik,” tutur Arifa.
Pengalaman Arifa di ajang MTQ Nasional terbilang cukup panjang.
Sejak 2012, ia telah mengikuti sejumlah penyelenggaraan MTQ nasional di berbagai daerah, di antaranya Bangka Belitung, Batam, Nusa Tenggara Barat, Medan, Kepulauan Riau, hingga Padang, Sumatera Barat.
Pada penyelenggaraan sebelumnya di Padang, Arifa menempati peringkat keenam atau meraih harapan III untuk cabang tilawah remaja.
Kini ia menghadapi tantangan berbeda karena untuk pertama kalinya tampil di kategori dewasa putri.
“Ini pertama kali memasuki cabang tilawah golongan dewasa putri. Semoga Allah memberi pertolongan dan perlindungan sehingga nanti pada saatnya tampil di hadapan masyarakat menjadi sebuah syiar dan kesuksesan, keberkahan untuk kita semua,” ucapnya.
Target Jawa Tengah untuk menjadi juara umum justru dijadikan motivasi bagi Arifa dan anggota kafilah lainnya.
Menurut dia, target tersebut mendorong peserta untuk semakin serius memaksimalkan waktu yang tersedia.
“Menjadi sebuah semangat untuk terus berlatih sehingga kami bisa menyiapkan lebih optimal dan maksimal lagi,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat Jawa Tengah memberikan doa serta dukungan kepada seluruh anggota kafilah yang akan berjuang di tingkat nasional.
“Mohon doa dan dukungannya juga dari semua, terkhusus untuk masyarakat Jawa Tengah. Semoga kami kafilah Jawa Tengah bisa memberikan sesuatu yang maksimal untuk masyarakat Jawa Tengah,” ujarnya.
Dukungan terhadap persiapan kafilah turut diberikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah sekaligus Ketua Umum LPTQ Jateng, Taj Yasin Maimoen. Keduanya meninjau langsung pelaksanaan training camp di Asrama Haji Manyaran.
Dalam kunjungan tersebut, Ahmad Luthfi meminta peserta memanfaatkan masa pemusatan latihan untuk memperbaiki kemampuan hingga bagian-bagian terkecil. Bagi peserta tilawah, ia secara khusus mengingatkan pentingnya ketepatan makhraj serta penguasaan cengkok.
“Saya minta dengan sangat, dengan adanya karantina ini kita betul-betul dilatih makhrojnya, cengkoknya,” ujar Luthfi.
Kunjungan pimpinan daerah itu disambut positif oleh para peserta. Ulum menyebut kehadiran gubernur dan wakil gubernur memberikan tambahan semangat menjelang keberangkatan.
“Kebetulan Pak Gub dan Pak Wagub datang ke sini, alhamdulillah jadi motivasi bagi kami untuk terus semangat. Semoga nanti Jawa Tengah bisa juara umum,” katanya.
Perhatian Pemprov Jateng juga diberikan dalam bentuk dukungan kebutuhan peserta.
Luthfi menyampaikan bahwa Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) telah diminta memberikan uang saku kepada seluruh anggota kafilah sebelum mereka mengikuti perlombaan.
“Yang dapat sangu semuanya. Sebelum tanding wis oleh sangu, apalagi nanti juara, ngih Gus,” kata Luthfi.
Setelah menjalani pembinaan selama beberapa bulan, pemusatan latihan di Asrama Haji Manyaran menjadi salah satu tahapan penting menjelang keberangkatan kafilah Jawa Tengah ke MTQ Nasional XXXI 2026.
Bagi para peserta, perjuangan di MTQ Nasional tidak semata mengejar predikat juara umum.
Mereka juga membawa misi untuk menampilkan kemampuan terbaik sekaligus menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari syiar di tengah masyarakat.
Dengan persiapan yang telah dilakukan sejak April, kafilah Jawa Tengah kini bersiap menghadapi persaingan nasional dan membuktikan hasil pembinaan selama berbulan-bulan. (dkp)






