WONOSOBO | Kabarjateng.id – Musim kemarau memberikan hasil positif bagi petani tembakau di Kabupaten Wonosobo. Kondisi cuaca yang relatif mendukung membuat kualitas daun tembakau meningkat dan harga jual ikut terdongkrak.
Situasi tersebut menjadi perhatian Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah, Amir Masduki.
Ia turun langsung ke Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, untuk melihat aktivitas petani sekaligus menyerap aspirasi terkait kondisi pertanian tembakau.
Dalam kunjungan itu, Amir berdialog dengan Sukirno Kusumo, petani sekaligus pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI).
Berbagai persoalan petani dibahas, mulai dari proses budidaya hingga kondisi harga tembakau saat panen.
Sukirno mengatakan, rendahnya curah hujan ketika memasuki masa panen justru memberikan keuntungan bagi petani.
Daun tembakau yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik sehingga harga di tingkat pabrikan mengalami peningkatan.
“Alhamdulillah, tahun ini hasilnya cukup menggembirakan. Kualitas tembakau bagus dan harga juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sekarang sekitar Rp70.000 sampai Rp75.000 per kilogram,” kata Sukirno.
Menurutnya, peningkatan harga tersebut menjadi angin segar bagi petani setelah melewati proses panjang dalam mengelola lahan hingga memasuki masa panen.
Wonosobo sendiri dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau di Jawa Tengah.
Komoditas tersebut tidak hanya menjadi sumber pendapatan petani, tetapi juga turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah sentra produksi.
Amir Masduki mengapresiasi kerja keras petani yang tetap bertahan dan mengembangkan komoditas tembakau.
Namun, ia menilai peningkatan kesejahteraan petani tidak semestinya hanya bergantung pada kondisi cuaca dan fluktuasi harga.
Menurut dia, pemerintah perlu memastikan berbagai program bantuan benar-benar menjawab kebutuhan petani di lapangan.
Salah satu yang menjadi sorotannya adalah pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
“Petani tembakau jangan hanya menikmati keuntungan ketika cuaca mendukung. Pemerintah harus hadir memberikan dukungan yang berkelanjutan,” ujar Amir.
Ia menegaskan akan mendorong agar DBHCHT dapat dimanfaatkan secara tepat sasaran dan memberikan manfaat langsung kepada petani tembakau.
Beberapa kebutuhan yang dinilai perlu mendapat perhatian antara lain dukungan pupuk untuk tanaman tembakau, peralatan pertanian dan pascapanen, serta skema perlindungan bagi petani ketika harga tembakau mengalami penurunan.
Amir juga menyoroti pentingnya penguatan tata niaga tembakau lokal.
Menurutnya, keberadaan tembakau impor jangan sampai membuat posisi petani daerah semakin tertekan di tengah persaingan pasar.
“Dana cukai harus kembali dirasakan masyarakat, khususnya petani yang menjadi bagian penting dari rantai produksi tembakau,” tegasnya.
Usai berdialog, Amir bersama warga kemudian meninjau lokasi penjemuran tembakau rajangan.
Di lokasi tersebut, hasil panen tampak tengah dipersiapkan sebelum dipasarkan ke pembeli.






