TEGAL, Kabarjateng.id — Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, menegaskan bencana tanah bergerak yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, masih terus berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Ia menyampaikan hal tersebut saat meninjau langsung kondisi pengungsian bersama jajaran NU Peduli Kemanusiaan, Senin (16/2/2026).
Gus Rozin menyatakan pergerakan tanah di wilayah itu masih terjadi sehingga warga belum bisa kembali ke rumah masing-masing.
Dampingi Masyarakat Jangka Panjang
Karena itu, PWNU Jawa Tengah memastikan kehadiran dan komitmennya untuk mendampingi masyarakat dalam jangka panjang.
“Bencana ini belum berakhir. Tanah masih terus bergerak. Kami datang untuk melihat langsung kondisi riil di lapangan dan menyampaikan empati setinggi-tingginya,” ujarnya.
“Insyaallah PWNU Jawa Tengah melalui NU Peduli Kemanusiaan akan terus membantu masyarakat, termasuk pesantren yang terkena musibah,” lanjut Gus Rozin di lokasi posko.
Ia menjelaskan, Posko NU Peduli Kemanusiaan Jawa Tengah saat ini menampung sekitar 190 lebih pengungsi.
Tim relawan mengelola layanan secara terpadu, mulai dari dapur umum, distribusi logistik, hingga pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.
PWNU Jawa Tengah berkomitmen terus mendampingi para pengungsi hingga mereka memperoleh tempat tinggal yang layak.
Menurutnya, kondisi di Padasari, Jatinegara, berpotensi berlangsung lama.
Oleh sebab itu, NU Peduli menyusun skema pendampingan sosial dan kemanusiaan untuk beberapa bulan ke depan.
“Ini tidak akan selesai dalam waktu singkat. Karena itu NU Peduli mempersiapkan diri untuk mendampingi masyarakat Padasari Jatinegara dalam jangka waktu yang cukup panjang,” tegasnya.
Gus Rozin juga mengajak warga Nahdliyin bergotong royong menunjukkan empati kepada para korban.
Ia menyebut mayoritas warga terdampak merupakan bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama.
“Warga Padasari dan Jatinegara mayoritas Nahdliyin. Kantor ranting NU, madrasah, pesantren, semuanya terdampak. Karena itu perhatian dan pendampingan dari keluarga besar Nahdlatul Ulama sangat penting,” katanya.
Ia turut menyoroti kondisi pengungsi yang kehilangan rumah, tempat tinggal, bahkan anggota keluarga.
Menurutnya, situasi tersebut menuntut kepedulian nyata dari semua pihak.
“Ada yang kehilangan rumah, kehilangan tempat tinggal, bahkan tidak memiliki keluarga. Ini persoalan kemanusiaan yang tidak bisa kita abaikan,” imbuhnya.
Sebagai langkah konkret, NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah berencana membangun mushalla darurat untuk umum di Posko PCNU Tegal serta ruang kelas darurat bagi Pesantren Al-Adalah Tegal yang ikut terdampak bencana.
Sementara itu, Ketua LPBI PCNU Tegal, Imam Kusyairi, menjelaskan LAZISNU PCNU Tegal mendirikan posko pengungsian sejak 3 Februari 2026, sehari setelah tanah bergerak melanda wilayah tersebut. Posko itu berdiri di SD Negeri 2 Padasari.
“Hingga hari ini, jumlah pengungsi korban tanah bergerak di Desa Padasari mencapai 197 orang,” ujarnya.
Relawan Bangun Mushalla
Ia menambahkan, relawan membangun mushalla darurat di area posko untuk melengkapi kebutuhan para pengungsi.
“Setelah dapur umum dan toilet tersedia, mushalla menjadi kebutuhan penting. Apalagi menjelang bulan suci Ramadhan, agar para pengungsi tetap bisa beribadah dengan aman dan nyaman,” jelasnya.
Imam menegaskan, donatur NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah menggalang dan menyalurkan dana untuk membangun mushalla darurat tersebut.
Tim merancang mushalla berukuran 10 x 12 meter dengan rangka baja ringan, dinding galvalum, serta lantai permanen.
Relawan menargetkan proses pembangunan selesai dalam tiga hari.
“Insyaallah besok sudah bisa digunakan. Kami berharap mushalla ini bisa dipakai saat malam pertama tarawih. Karena hunian sementara kemungkinan masih dibutuhkan dalam waktu lama, mushalla ini menjadi fasilitas yang sangat penting,” pungkasnya. (arh)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.