SEMARANG | Kabarjateng.id – Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) mulai mengembangkan alat peraga praktikum kedokteran sebagai bagian dari upaya mengubah hasil penelitian kampus menjadi produk yang bisa dimanfaatkan secara nyata.
Inovasi tersebut menyasar kebutuhan mahasiswa Fakultas Kedokteran, khususnya untuk latihan tindakan sirkumsisi atau sunat.
Pengembangan alat ini juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap alat peraga buatan luar negeri.
Wakil Rektor III Unwahas bidang Kemahasiswaan, Alumni, Hilirisasi, Kewirausahaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Dr. Ratih Pratiwi, mengatakan pengembangan produk dalam negeri menjadi salah satu peluang yang perlu dimanfaatkan perguruan tinggi.
Menurut Ratih, hasil penelitian tidak seharusnya berhenti dalam bentuk publikasi ilmiah.
Inovasi dari lingkungan kampus perlu didorong hingga menjadi produk yang memiliki manfaat langsung sekaligus mempunyai nilai ekonomi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari program IDEA Unwahas yang meliputi Internasionalisasi, Digitalisasi, Entrepreneurship, dan Leadership.
Program itu tetap dikembangkan dengan berlandaskan nilai-nilai Aswaja.
Salah satu produk yang tengah dikembangkan adalah alat peraga sirkumsisi.
Produk tersebut merupakan hasil kolaborasi Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran Unwahas.
Dekan Fakultas Teknik Unwahas, Dr. Imam Syafa’at, memperkenalkan inovasi tersebut dalam kegiatan Nostalgia Dugderan dan Bazaar Expo di Alun-Alun Masjid Agung Semarang, Kampung Kauman.
Dalam kegiatan itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti turut mengunjungi stan Unwahas dan melihat sejumlah hasil penelitian serta inovasi yang dipamerkan.
Imam menjelaskan, pengembangan alat peraga sirkumsisi dilatarbelakangi kebutuhan mahasiswa kedokteran yang selama ini masih menggunakan produk impor untuk kegiatan praktikum.
“Unwahas mengembangkan alat peraga untuk sirkumsisi karena saat ini alat peraga untuk praktik mahasiswa Fakultas Kedokteran masih diimpor dari luar negeri. Akibatnya, biaya praktikum menjadi mahal,” kata Imam.
Selain berupaya menekan biaya, tim pengembang juga merancang material alat agar memiliki karakteristik yang mendekati kulit manusia.
“Keunggulannya, selain lebih murah, elastisitas bahannya menyerupai kulit manusia. Dengan demikian, saat digunakan untuk latihan tindakan sirkumsisi, alat peraga ini lebih mudah digunakan dan tidak mudah sobek,” ujarnya.
Pengembangan produk tersebut menunjukkan kolaborasi lintas bidang di lingkungan Unwahas.
Fakultas Teknik menangani aspek rekayasa dan pengembangan alat, sedangkan Fakultas Kedokteran memberikan masukan berdasarkan kebutuhan pembelajaran dan praktik klinis.
Unwahas berencana terus mengembangkan kolaborasi tersebut sehingga hasil riset dari berbagai bidang tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dilanjutkan menuju produk yang siap dimanfaatkan.
Upaya itu juga dikaitkan dengan agenda penguatan produk dalam negeri dan hilirisasi.
Unwahas berupaya mengambil bagian dalam membangun ekosistem inovasi dengan menghasilkan produk yang sebelumnya masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Kehadiran Wali Kota Semarang di stan Unwahas sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai hasil penelitian sivitas akademika kepada masyarakat.
Dalam Nostalgia Dugderan dan Bazaar Expo tersebut, Fakultas Teknik Unwahas menampilkan sejumlah inovasi.
Selain alat peraga sirkumsisi, terdapat alat sasaran tembak WahidArmor yang telah memiliki paten, aplikasi permainan atau game, serta maket pabrik kimia interaktif.
Berbagai produk tersebut menjadi bagian dari upaya Unwahas mendorong hasil penelitian agar tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki manfaat dan peluang pemanfaatan lebih luas. (lim)






