MEDAN | kabarjateng – Komitmen Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, dalam menyelamatkan artefak dan arsip sejarah mendapat apresiasi dari kalangan sejarawan dan akademisi.
Langkah Pemerintah Kota Semarang mengumpulkan kembali dokumen-dokumen bersejarah dinilai sebagai upaya penting untuk menjaga identitas kota sekaligus melestarikan memori kolektif bangsa.
Apresiasi tersebut disampaikan dalam pertemuan Agustina dengan para pakar sejarah, akademisi, dan kolektor artefak di Medan pada Rabu (1/7).
Hadir dalam pertemuan itu antara lain Jimmy Lassang Manahara Siahaan, Saparudin Barus, Ikhwan, Robert Sibarani, serta perwakilan Masyarakat Sejarah Indonesia.
Menurut Prof. Robert Sibarani, tidak banyak kepala daerah yang memberikan perhatian serius terhadap penyelamatan arsip dan artefak sejarah. Ia menilai langkah Wali Kota Semarang menjadi contoh kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan karena turut menyelamatkan identitas dan peradaban masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kota Semarang menerima sejumlah koleksi bersejarah, di antaranya 13 lembar saham Hotel du Pavillon (kini Hotel Dibya Puri) tahun 1892, surat sero NV Seng Tek Jia tahun 1955, obligasi Semarangsche Administratie Maatschappij senilai lima juta Gulden, serta lampu badai kapal kuno.
Agustina menegaskan bahwa arsip dan artefak sejarah merupakan sumber pengetahuan penting untuk merekonstruksi perjalanan Kota Semarang.
“Pelestarian sejarah bukan hanya menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga memperkuat identitas kota sebagai bekal pembangunan di masa depan,” ujarnya.
Dukungan para sejarawan dan akademisi dinilai menjadi penguat bagi upaya Pemerintah Kota Semarang dalam melestarikan warisan budaya dan sejarah maritim Indonesia.(day)






