SEMARANG, Kabarjateng.id – Setiap anak terlahir dengan potensi yang unik, termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus atau penyandang disabilitas. Namun, menemukan dan mengembangkan bakat mereka bukanlah perkara mudah.
Diperlukan kesabaran, pendekatan personal, serta dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.
Hal inilah yang dirasakan oleh Komunitas Difabel Harsa Abipraya (Hasbi) yang berdiri di Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Komunitas ini menjadi wadah pembinaan sekaligus ruang aman bagi anak-anak difabel untuk mengenali kemampuan diri dan berinteraksi dengan lingkungan sosial.
Pendiri Hasbi yang juga Ketua Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kelurahan Sendangguwo, Tutik Wahyuningtyas, menuturkan bahwa setiap anak yang ia dampingi memiliki kelebihan masing-masing.
Namun, proses untuk menemukannya memerlukan waktu dan kepercayaan, terutama dari orang tua.
“Langkah awal selalu dengan mendekati orang tua. Setelah anak ikut berbagai kegiatan, baru terlihat bakatnya. Tugas kami mendampingi, selebihnya tetap peran keluarga,” ujar Tutik, yang akrab disapa Tyas, saat kegiatan pertemuan difabel di Balai Kelurahan Sendangguwo, Sabtu (17/1/2026) sore.
Komunitas Hasbi resmi berdiri sejak 29 September 2021. Sejak itu, Tyas bersama timnya secara konsisten menggelar Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) khusus penyandang disabilitas yang dilaksanakan setiap Jumat pada akhir bulan.
Kegiatan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan serta pembinaan sosial.
“Waktu peluncuran dulu dihadiri Ketua TP PKK Kota Semarang saat itu, Ibu Tia Krisseptiana Hendi. Setelah itu kami langsung bergerak dan rutin melakukan kegiatan,” ungkapnya.
Tyas mengakui, mendirikan komunitas ini tidak mudah. Dibutuhkan waktu sekitar 10 bulan untuk melakukan sosialisasi secara intensif, baik melalui pendekatan langsung dari rumah ke rumah maupun melalui forum PSM.
Tantangan terberat datang dari keluarga yang masih menutup diri dan enggan memperkenalkan anaknya ke lingkungan sosial.
“Ada orang tua yang tidak mengizinkan anaknya keluar rumah karena merasa malu atau takut. Tapi dengan niat baik dan pendekatan yang terus-menerus, perlahan mereka mulai terbuka,” tuturnya.
Pengalaman serupa juga disampaikan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Tembalang, Dwi Supratiwi.
Ia menyebut pernah menemukan anak difabel yang selama belasan tahun tidak pernah berinteraksi dengan masyarakat.
“Ada yang sampai 15 tahun disembunyikan. Orang tuanya merasa bisa mengurus sendiri dan menolak bantuan. Tapi setelah melihat langsung komunitas yang sudah berjalan, akhirnya mulai terbuka,” katanya.
Kini, anak tersebut sudah beberapa kali mengikuti kegiatan bersama meski belum sepenuhnya aktif.
Bakat Berkembang, Prestasi Bermunculan
Dalam salah satu kegiatan bersama, PSM Sendangguwo melibatkan Komunitas Difabel Kinasih Mataram Semarang Tengah dan Komunitas Kecil (Komcil) Petelan.
Lebih dari 50 anak difabel turut serta bernyanyi, bermain, dan berinteraksi dalam suasana penuh kebersamaan.
Selain kegiatan sosial, Komunitas Hasbi juga membina kemandirian melalui produksi telur asin yang dikelola langsung oleh para penyandang disabilitas.
Sentra produksi berada di wilayah RW 07 Sendangguwo. Mereka juga mendapat pelatihan pengembangan motorik, seperti bermain alat musik angklung.
“Ada yang berbakat main drum, ada yang telaten membuat telur asin, dan banyak juga yang senang bernyanyi. Kelompok angklung kami bahkan pernah tampil di acara Pemkot Semarang dan diundang ke Solo,” jelas Tyas.
Ia pun mengapresiasi para orang tua yang bersedia mendukung anak-anak mereka hingga mampu menunjukkan prestasi.
Salah satunya Ani Riwayati, orang tua dari anak penyandang disabilitas tuli yang kini berusia 15 tahun dan bersekolah di SLB Negeri Semarang.
Ani mengaku bangga karena putranya pernah meraih juara tiga dalam turnamen bulu tangkis khusus difabel di Magelang.
“Pernah juara tiga, meski sekarang latihan bulu tangkis berhenti karena anaknya ingin pindah ke tinju. Sayangnya biaya tinju cukup mahal,” katanya.
Ani juga bersyukur telah belajar bahasa isyarat secara mandiri sehingga dapat berkomunikasi dengan baik bersama anaknya.
Menurutnya, keterbatasan pendengaran tidak menghalangi kecerdasan sang anak.
“Alhamdulillah hanya pendengarannya saja. Secara akademik tidak ada hambatan, bahkan bisa mengikuti pelajaran dengan baik,” ucapnya.
Ia menambahkan, anaknya sudah dua kali menerima bantuan alat bantu dengar dari pemerintah.
Namun, sang anak memilih tidak menggunakannya karena merasa kurang nyaman.
“Dulu dapat dari Pak Hendi saat masih wali kota, tapi rusak. Kemarin dapat lagi dari kelurahan, dipakai sebentar lalu tidak mau lagi karena katanya tidak nyaman,” pungkasnya. (arh)






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.