SEMARANG, Kabarjateng.id – Fenomena pengemis musiman bermodus manusia karung kembali mencuat di Kota Semarang menjelang Hari Raya Idulfitri 2026.
Sejak pertengahan Ramadan hingga mendekati Lebaran, jumlah pengemis yang beraktivitas di sejumlah ruas jalan utama terus meningkat.
Pantauan di lapangan menunjukkan para pengemis menyebar di berbagai titik strategis, terutama di ruas protokol yang ramai kendaraan.
Mereka memanfaatkan tingginya mobilitas masyarakat untuk menarik simpati para pengguna jalan.
Salah satu lokasi yang terlihat padat berada di sepanjang Jalan Prof. Hamka, kawasan Ngaliyan, tepatnya di sekitar Kampus 2 UIN Walisongo, seberang Perumahan BPI, hingga jembatan Ngaliyan.
Di titik-titik tersebut, para pengemis duduk di pinggir jalan sambil menunggu uluran tangan dari pengendara yang melintas.
Gunakan Modus “Manusia Karung”
Sebagian pengemis menggunakan berbagai modus untuk menghindari penertiban petugas.
Salah satu modus yang sering muncul ialah “manusia karung”.
Dalam praktiknya, mereka membawa karung dan berpura-pura sebagai pemulung yang sedang beristirahat, namun tetap mengharapkan pemberian dari masyarakat.
Seorang pengemis bernama Siswati yang berasal dari Purwodadi memilih turun ke jalan di Semarang karena kebutuhan ekonomi menjelang Lebaran.
“Pados pemasukan damel bodo pak. La teng kampung susah pados kerjaan (Cari pemasukan untuk lebaran pak. Karena di kampung susah cari kerja),” ungkapnya saat ditemui di lokasi, Kamis (19/3/2026).
Hal serupa juga disampaikan pria yang mengaku bernama Pakde Ko. Ia membawa karung dan duduk di tepi jalan, namun ia menampik aktivitas mengemis.
“Ini habis muter cari rongsokan. Capek lagi istirahat saja,” ujarnya.
Perlu Penanganan dan Kesadaran Masyarakat
Maraknya pengemis musiman ini menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu ketertiban lalu lintas dan kenyamanan pengguna jalan.
Fenomena ini juga kerap muncul setiap tahun menjelang hari besar keagamaan, terutama lebaran.
Pemerintah daerah dan aparat terkait perlu mengambil langkah tegas sekaligus humanis untuk menangani persoalan ini.
Di sisi lain, masyarakat perlu lebih bijak dalam memberikan bantuan agar tidak memicu praktik serupa.
Dengan meningkatnya aktivitas menjelang Lebaran, petugas perlu memperketat pengawasan di titik-titik rawan guna menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama di Kota Semarang. (dkp)






