SEMARANG | Kabarjateng.id – Program pembinaan kemandirian di Lapas Kelas I Semarang mulai menunjukkan hasil.
Warga binaan dilibatkan dalam produksi kerajinan berbahan sabut kelapa yang kini berhasil dipasarkan hingga ke luar negeri.
Melalui kerja sama dengan PT Chewy Louis, produk berbahan sabut kelapa tersebut telah dikirim untuk memenuhi permintaan dari Yunani.
Salah satu produk yang dihasilkan berupa paranet hasil olahan dan anyaman sabut kelapa.
Kerja sama tersebut bukan kali pertama membawa hasil karya warga binaan ke pasar internasional.
Sebelumnya, Lapas Semarang juga telah memproduksi dan mengekspor mainan anjing yang dibuat menggunakan bahan serupa.
Kepala Lapas Kelas I Semarang Ahmad Tohari mengatakan, jumlah warga binaan yang cukup besar menjadi potensi yang dapat dikembangkan melalui berbagai program keterampilan.
Menurut dia, pembinaan kerja diberikan agar warga binaan memiliki kegiatan produktif selama menjalani masa pidana sekaligus memperoleh bekal keterampilan.
“Lapas memiliki potensi dari sisi tenaga. Saat ini jumlah penghuni sekitar 1.300 orang. Mereka kami bekali keterampilan agar dapat melakukan kegiatan produktif selama menjalani masa pidana,” kata Tohari, Kamis (1/10/2026).
Ia menjelaskan, hingga saat ini pihaknya telah menerima bahan produksi sebanyak dua kali.
Dari bahan tersebut, warga binaan telah menyelesaikan 80 unit produk yang kemudian dikirim ke Yunani.
Salah satu warga binaan, Bayu Firman, mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk menguasai proses pembuatan kerajinan sabut kelapa.
Bayu sebelumnya bertugas di unit kebersihan. Setelah mendapat kesempatan bekerja di unit pengolahan sabut kelapa, ia belajar langsung melalui instruktur sebelum akhirnya mampu mengerjakan proses produksi secara mandiri.
“Awalnya saya hanya melihat instruktur. Setelah mencoba beberapa jam, ternyata langsung bisa dan tidak terlalu sulit,” ujarnya.
Bayu mengatakan, dirinya sengaja mengikuti kegiatan kerja di dalam lapas agar memiliki aktivitas positif selama menjalani hukuman.
Menurutnya, bekerja membuat waktu lebih bermanfaat sekaligus membantu mengurangi pikiran negatif.
Selain mendapatkan pengalaman dan keterampilan, warga binaan juga memperoleh premi atau upah dari hasil pekerjaan.
“Daripada hanya berada di kamar, lebih baik melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Bisa mengalihkan pikiran negatif. Setiap bulan juga ada premi dari hasil kerja yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Program tersebut diharapkan tidak hanya menjadi aktivitas selama warga binaan berada di lapas, tetapi juga menjadi bekal keterampilan ketika mereka kembali ke tengah masyarakat. (lim)






