KAB SEMARANG | Kabarjateng.id – Kekecewaan warga Kecamatan Bergas terhadap kondisi Jalan arah PTP Ngobo akhirnya memuncak.
Kerusakan jalan yang tak kunjung tertangani secara tuntas membuat masyarakat melakukan aksi simbolis dengan menanam pohon pisang di sejumlah lubang jalan sebagai bentuk protes dan harapan agar pemerintah segera bertindak.
Ruas jalan yang berada di kawasan Waringin Putih tersebut merupakan akses penting bagi aktivitas warga.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, kondisi jalan terus mengalami penurunan.
Lubang menganga, aspal yang pecah, serta debu yang beterbangan saat kendaraan melintas menjadi pemandangan yang hampir setiap hari dihadapi masyarakat.
Warga menilai tingginya intensitas kendaraan bertonase besar yang melintasi jalur tersebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat kerusakan jalan.
Meski beberapa kali dilakukan perbaikan, hasilnya dinilai belum mampu memberikan solusi jangka panjang.
Riyanto, salah satu warga setempat, mengatakan masyarakat telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada pihak terkait.
Namun hingga kini belum terlihat upaya perbaikan yang benar-benar menyelesaikan persoalan.
“Yang kami harapkan bukan sekadar tambal sulam. Jalan ini membutuhkan perbaikan menyeluruh agar tidak terus rusak dan membahayakan pengguna jalan,” katanya.
Selain kerusakan fisik jalan, warga juga harus menghadapi persoalan debu yang muncul akibat lalu lintas kendaraan berat.
Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan dan berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Aksi penanaman pohon pisang yang dilakukan warga menjadi simbol keresahan sekaligus pesan kepada pemerintah dan pihak terkait agar segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi infrastruktur di wilayah tersebut.
Dukungan terhadap aspirasi masyarakat juga datang dari sejumlah elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan yang menyatakan siap mengawal tuntutan warga hingga ada langkah konkret dari pihak yang berwenang.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat segera melakukan evaluasi terhadap kondisi jalan, mengatur pengawasan kendaraan berat yang melintas, serta menyusun langkah perbaikan permanen agar jalur tersebut kembali layak digunakan.
Bagi warga Bergas, jalan yang aman dan nyaman bukan hanya soal kelancaran transportasi, tetapi juga menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat yang selama ini terdampak oleh kerusakan infrastruktur tersebut. (ar)






