SEMARANG, Kabarjateng.id – Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) Tingkat Jawa Tengah Tahun 2026, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah menggelar Dialog Lima Rektor yang menghadirkan pimpinan sejumlah perguruan tinggi di Semarang dan Tegal. Kegiatan berlangsung di Ruang H. Panoet Harsono Lantai 4 Universitas BPD Semarang, Kamis (5/2/2026).
Mengangkat tema “Menyehatkan Peran Kontrol Sosial untuk Memperkuat Kemerdekaan Pers”, kegiatan diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PWI Jawa Tengah dan Universitas BPD.
Kerja sama ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara dunia akademik dan insan pers dalam mendorong praktik jurnalistik yang berkualitas dan berintegritas.
Lima narasumber yang hadir antara lain Rektor Universitas Dian Nuswantoro Prof. Dr. Pulung Nurtantio Andono, S.T., M.Kom., Rektor Universitas BPD Prof. Dr. Sri Tutie Rahayu, M.Si., Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Semarang Dr. Eny Winaryati, M.Pd., Rektor Universitas Panca Sakti Tegal Prof. Dr. Taufiqulloh, M.Hum., serta Wakil Rektor I Universitas Semarang Prof. Dr. Ir. Haslina, M.Si.
Sejumlah tokoh juga turut hadir, di antaranya Ketua YKKP Bank Jateng Joko Sambodo beserta jajaran, serta pengurus PWI Jawa Tengah seperti Ketua Dewan Kehormatan Amir Machmud NS, Sekretaris Achmad Ris Ediyanto, Wakil Ketua Bidang Organisasi Sunarto, Wakil Ketua Bidang Kerja Sama Hery Pamungkas, dan Ketua Panitia HPN Jateng 2026 Alkomari.
Dalam pemaparannya, Prof. Pulung Nurtantio Andono menilai pers memiliki fungsi vital sebagai sarana penyebaran informasi pembangunan sekaligus pengontrol kebijakan publik.
Menurutnya, media berperan sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat.
Prof. Sri Tutie Rahayu menegaskan pentingnya menjaga integritas pers sebagai pilar demokrasi.
Ia menyebut perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membekali mahasiswa dengan pemahaman etika komunikasi dan literasi media.
Prof. Taufiqulloh menyoroti pentingnya kontrol sosial yang berimbang, baik melalui regulasi formal maupun kesadaran masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa kebebasan digital harus diiringi tanggung jawab agar ruang publik tetap sehat.
Sementara itu, Dr. Eny Winaryati menekankan pentingnya edukasi, partisipasi, dan nilai moral dalam praktik bermedia.
Ia menilai media harus mampu menghadirkan informasi yang bermanfaat sekaligus membangun kesadaran publik.
Prof. Haslina menambahkan bahwa kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pers dan generasi muda.
Ia mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan teknologi secara kreatif dan kritis.
Ketua PWI Jawa Tengah Setiawan Hendra Kelana dalam sambutannya menyoroti masih adanya tekanan terhadap jurnalis yang berdampak pada indeks kemerdekaan pers Indonesia.
Ia menilai dialog dengan kalangan akademisi menjadi langkah strategis untuk memperkuat fungsi pers sebagai kontrol sosial yang profesional dan berbasis data.
Selain itu, ia menekankan pentingnya literasi media bagi mahasiswa di tengah maraknya arus informasi digital.
Mahasiswa diharapkan mampu membedakan informasi yang benar, disinformasi, maupun hoaks.
Melalui dialog ini, PWI Jawa Tengah berharap terjalin kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi dan insan pers dalam menjaga kemerdekaan pers serta memperkuat demokrasi di Indonesia.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian HPN Jateng 2026 yang mendapat dukungan dari berbagai mitra pemerintah, swasta, dan institusi pendidikan.
Editor: Mualim







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.