SEMARANG, Kabarjateng.id – Panitia Konferensi Cabang (Konfercab) X Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Semarang menggelar debat kandidat calon Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kota Semarang untuk masa khidmah 2026–2030.
Kegiatan tersebut menjadi ruang adu gagasan dan visi para kandidat dalam memajukan organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama (NU) di tingkat kota.
Debat kandidat berlangsung di Pondok Pesantren Raudlatul Qur’an An Nasimiyah, Jalan Pusponjolo Selatan, Kecamatan Semarang Barat, Jumat (2/1/2026) malam. Hadir sebagai panelis, Amrul Hidayat dan K. Ahmad Mundzir, yang menggali gagasan strategis para kandidat.
Panitia menetapkan tiga kandidat calon Ketua yang berhak mengikuti kontestasi, yakni Arif Rahman, Masyhudi, dan Abdul Aziz. Dalam pemaparan visi dan misi, ketiganya memiliki benang merah yang sama, terutama pada agenda pembenahan administrasi organisasi hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
Para kandidat sepakat mendorong optimalisasi teknologi informasi melalui sistem database organisasi berbasis aplikasi.
Langkah ini dinilai penting untuk mempermudah pendataan kader serta mendukung proses akreditasi organisasi agar lebih tertib dan efisien.
Selain isu tata kelola organisasi, kemandirian ekonomi juga menjadi fokus utama. Ketiga kandidat menegaskan komitmen untuk menggerakkan potensi ekonomi kader dengan mendorong pengembangan serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di lingkungan GP Ansor.
“Persoalan administrasi, digitalisasi, hingga ekonomi yang disampaikan para kandidat hampir sama,” ujar Amrul Hidayat saat memberikan tanggapan.
Ia pun mendorong para kandidat agar mampu menyampaikan program yang lebih spesifik dan berdampak langsung, baik bagi kader secara personal maupun bagi organisasi secara kelembagaan.
Amrul juga mengingatkan pentingnya membuka diri terhadap praktik baik dari kepengurusan GP Ansor di daerah lain.
“Kita tidak perlu ragu meniru program yang sudah terbukti berhasil, seperti beasiswa pendidikan bagi Banser atau penguatan dakwah melalui Rijalul Ansor,” jelasnya.
Sementara itu, pada sesi materi Aswaja dan Ke-NU-an, para kandidat tidak hanya diuji pemahamannya secara konseptual, tetapi juga diminta menunjukkan kedalaman tradisi keilmuan melalui kemampuan membaca kitab kuning serta Al-Qur’an dengan tartil dan mujawad.
Panelis K. Ahmad Mundzir menilai penguasaan tradisi tersebut penting, mengingat GP Ansor kerap disebut sebagai masa depan Nahdlatul Ulama.
“Jika Ansor diproyeksikan menjadi generasi penerus NU, maka tradisi membaca kitab kuning harus mulai dibiasakan sejak dini,” ungkapnya.
Sekilas Profil Kandidat
Arif Rahman dikenal luas di kalangan organisasi kepemudaan. Ia aktif di Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Semarang dan Jawa Tengah.
Berangkat dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Arif kini dipercaya sebagai sekretaris umum DPD KNPI Kota Semarang.
Selain itu, ia juga berprofesi sebagai advokat dan menjabat Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kota Semarang.
Masyhudi merupakan kader yang telah lama berproses di lingkungan NU. Ia pernah menjadi Wakil Ketua PC IPNU Kota Semarang dan saat ini menjabat Wakil Ketua GP Ansor Kota Semarang bidang sumber daya manusia.
Di bawah perannya, sejumlah kader berhasil mengikuti program magang kerja ke Jepang. Sebagai pendidik, Masyhudi konsisten mengawal kaderisasi pelajar NU hingga berlanjut di GP Ansor.
Sementara itu, Abdul Aziz saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Ketua GP Ansor Kota Semarang bidang organisasi.
Ia terlibat langsung dalam penataan struktur organisasi hingga tingkat kelurahan. Aziz juga aktif di kepengurusan DPD KNPI Kota Semarang dan Jawa Tengah, serta dikenal luas di kalangan aktivis kepemudaan Kota Semarang.
Ketiga kandidat tersebut sama-sama memiliki latar belakang ke-NU-an yang kuat dan kedekatan dengan lingkungan pesantren.
Meski tidak semuanya bermukim sebagai santri, namun tradisi mengaji dan pendidikan diniyah tetap menjadi bagian dari proses kaderisasi yang mereka jalani. (arh)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.