SEMARANG, Kabarjateng.id – Sentuhan jemari maestro gitar klasik Indonesia, Jubing Kristianto, sukses memikat penonton dalam konser amal bertajuk “Konser Untuk Sahabat 3.0” yang berlangsung di Borobudur Ballroom Hotel Santika Premiere Semarang, Sabtu (20/12).
Konser tersebut digelar sebagai bentuk dukungan terhadap program pendidikan Sekolah Hidup Indonesia.
Bagi Jubing, tampil di Semarang memiliki makna emosional tersendiri. Kota ini merupakan tempat ia dilahirkan sekaligus dibesarkan.
Setelah sekitar 15 tahun tidak menggelar konser terbuka di kota kelahirannya, Jubing mengaku rindu kembali bertemu para sahabat dan penikmat musik di Semarang.
“Sebagian besar teman saya justru ada di Semarang. Banyak cerita dan kenangan di sini, termasuk soal makanan. Buat saya, kuliner Semarang tetap juaranya,” ungkap Jubing di sela-sela konser.
Ia menuturkan, konser amal tersebut dipersiapkan secara khusus dan berbeda dari penampilannya pada acara tertutup atau undangan internal.
Konser di Semarang dirancang sebagai pertunjukan yang terbuka untuk publik, dengan konsep yang lebih intim dan personal.
“Ini bukan sekadar tampil mengisi acara. Konser ini dipersembahkan untuk sahabat-sahabat semua, jadi harus disiapkan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Dalam penampilannya, Jubing membawakan sekitar 20 repertoar, terdiri dari karya-karya orisinal serta aransemen solo gitar.
Salah satu lagu yang menyita perhatian adalah “Kaki Langit”, serta aransemen gitar tunggal lagu “Selalu Ada di Nadimu”, yang merupakan soundtrack film Jumbo. Lagu tersebut untuk pertama kalinya ia bawakan di hadapan publik.
Menurut Jubing, “Selalu Ada di Nadimu” memiliki pesan yang kuat tentang perjalanan hidup seorang anak dan relasinya dengan orang tua.
Lagu tersebut menggambarkan kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan, namun setiap kesedihan dan tantangan menyimpan pelajaran berharga.
“Semua itu harus dihadapi. Dari proses itulah manusia bisa bertumbuh,” tuturnya.
Kesan Mendalam Penonton
Konser amal ini juga menarik perhatian penonton dari berbagai daerah.
Salah satunya Arif Nurcahyo (60), purnawirawan asal Yogyakarta, yang hadir bersama istri dan anaknya khusus untuk menyaksikan permainan gitar solo Jubing Kristianto.
“Konser gitar solo itu jarang, dan Jubing sendiri juga tidak sering tampil,” ujar Arif, yang akrab disapa Yoyok, saat jeda pertunjukan.
Yoyok mengaku mulai mengenal Jubing sekitar satu dekade lalu melalui sang istri.
Sejak itu, ia mengikuti perjalanan musik Jubing, meski sebagian besar melalui media sosial. Konser di Semarang menjadi pengalaman keduanya menyaksikan Jubing secara langsung.
Menurutnya, kekuatan Jubing tidak hanya terletak pada teknik bermain gitar, tetapi juga pada kejujuran dalam bermusik.
“Musik itu cerminan jiwa. Ketika Jubing memainkan karya siapa pun, karakter bermusiknya tetap terasa kuat,” ucapnya.
Ia menilai Jubing mampu menjaga keseimbangan antara karakter pribadi dan esensi lagu yang dibawakan, sehingga setiap komposisi tetap memiliki ruh yang utuh.
“Lagu tidak kehilangan jiwanya, dan Jubing juga tidak kehilangan ciri khasnya. Itu yang membuatnya istimewa,” pungkasnya. (day)






