Menu

Mode Gelap
 

Kabar Semarang

Agustina Dorong Ndas Maling Jadi Warisan Budaya Tak Benda

badge-check


					Agustina Dorong Ndas Maling Jadi Warisan Budaya Tak Benda Perbesar

SEMARANG | kabarjateng.id – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menginstruksikan jajaran Pemerintah Kota Semarang untuk serius mengusulkan jajanan tradisional Ndas Maling sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Kementerian Kebudayaan.

Hal itu disampaikan Agustina saat menghadiri Sedekah Bumi dan Haul Mbah Senari di Kelurahan Kudu, Kecamatan Genuk, Minggu (12/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, Agustina juga ikut mempraktikkan langsung pembuatan Ndas Maling bersama warga.

Menurut Agustina, Ndas Maling bukan sekadar kuliner tradisional, tetapi memiliki nilai sejarah dan filosofi yang kuat sehingga layak mendapat pengakuan sebagai warisan budaya.

“Ndas Maling ini nanti mau saya video, terus saya kirimkan ke Jakarta, supaya bisa jadi Warisan Budaya Tak Benda,” ujarnya.

Ndas Maling merupakan jajanan khas Kelurahan Kudu yang dibuat dari tepung beras, kelapa parut, dan gula jawa. Kudapan ini selalu hadir dalam tradisi Sedekah Bumi dan Haul Mbah Senari yang digelar setiap tahun oleh masyarakat Kudu dan Karangroto.

Nama Ndas Maling berasal dari cerita masyarakat setempat tentang kawasan Menanging yang dahulu dikenal sebagai tempat orang-orang memohon keselamatan, termasuk para pelaku kejahatan. Jajanan tersebut kemudian menjadi simbol harapan agar masyarakat menjauhi perbuatan buruk sekaligus menjaga ketenteraman lingkungan.

Selain mendorong pengusulan WBTB, Agustina juga meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengawal proses kurasi agar Ndas Maling dapat berkembang sebagai produk oleh-oleh khas Kota Semarang tanpa menghilangkan nilai tradisinya.

Pada kesempatan itu, Agustina turut menginstruksikan perangkat daerah menindaklanjuti sejumlah kebutuhan masyarakat, mulai dari penambahan dukungan hewan kurban, penyediaan toren air, hingga kajian pembangunan saluran di kawasan makam Mbah Senari.

Ia mengapresiasi pelaksanaan tradisi yang seluruhnya diselenggarakan secara gotong royong oleh masyarakat. Menurutnya, pelestarian tradisi lokal tidak hanya memperkuat identitas budaya daerah, tetapi juga berpotensi mendukung pengembangan pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui kuliner khas Semarang.(day)

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Unwahas Jadi Tuan Rumah Lomba Cerpen Peksimida Jateng 2026, Diikuti Delegasi dari 32 Perguruan Tinggi

13 Juli 2026 - 12:56 WIB

Hari Pertama Sekolah di SDN Ngaliyan 01 Semarang, Orang Tua Antusias Dampingi Siswa Baru Ikuti MPLS

13 Juli 2026 - 11:54 WIB

Agustina Wilujeng Resmikan Agro Eduwisata Masjid Agung Semarang

13 Juli 2026 - 09:40 WIB

Agustina Minta Karang Taruna Rawat Bibit Cemara Laut di Pulau Tirang

13 Juli 2026 - 08:20 WIB

Resta Pendopo KM 456 Hadirkan Ruang Temoe, Galeri Inklusif untuk Karya Difabel dan Neurodivergen

12 Juli 2026 - 16:02 WIB

UNWAHAS Gelar Pharma-Speak V, Bahas Inovasi Penanganan Penyakit Infeksi Bersama Akademisi dan Industri Farmasi

11 Juli 2026 - 13:58 WIB

Trending di KABAR JATENG