BANYUMAS, Kabarjateng.id – Langit di atas Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, tampak berselimut mendung. Awan kelabu yang menggantung justru menghadirkan hawa sejuk yang menenangkan, seakan ikut merestui rangkaian peringatan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas.
Suara gamelan mengalun lirih di halaman Rumah Dinas Wakil Bupati, Minggu (15/2/2026).
Di bawah langit yang teduh, para peserta kirab mengenakan pakaian adat Jawa Banyumasan dengan penuh kebanggaan.
Warna-warni busana tradisional itu tampak semakin elegan berpadu dengan suasana pagi yang sejuk.
Semilir angin membawa aroma dupa ketika Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, memulai prosesi penyerahan pusaka.
Ia menyerahkan langsung empat pusaka kebesaran daerah, yakni Tombak Kiai Genjring, Keris Nala Praja, Keris Gajah Endra, dan Keris Kiai Sempana Bener, kepada para pembawa pusaka untuk dikirabkan.
“Rika kabeh tak jaluki tulung supaya ngirepna pusaka piandele Praja Banyumas (Kalian semua saya minta tolong agar membawa pusaka kebanggaan Praja Banyumas),” ujar Sadewo saat melepas peserta kirab.
Suba Manggala memimpin barisan dengan langkah tegap dan tenang menyusuri aspal Purwokerto yang masih lembap.
Kilauan logam pusaka sesekali memantul, menciptakan kontras indah dengan latar langit mendung.
Warga memenuhi tepian jalan dengan tertib. Mereka menikmati prosesi tanpa harus berdesakan karena cuaca sejuk menaungi seluruh rangkaian acara.
Rombongan kirab juga membawa foto para Bupati Banyumas ke-2 hingga ke-31 menuju Pendopo Si Panji.
Prosesi ini tidak sekadar menjadi parade budaya, tetapi menjelma sebagai jembatan waktu yang menghubungkan kejayaan masa lalu dengan cita-cita masa depan kabupaten itu.
Panitia menempatkan pusaka-pusaka tersebut di Gedung Pusaka setelah kirab berakhir.
Suasana khidmat tetap terasa hingga akhir acara dan meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat yang menyaksikan.
Sadewo menegaskan, momentum hari jadi harus mendorong masyarakat menjadi lebih sejahtera, produktif, dan adil sesuai visi Banyumas PAS.
Tarik Perhatian Warga
Kirab pusaka menarik perhatian warga dari berbagai kalangan. Desi, warga Banyumas yang datang sejak pukul 09.00 WIB, mengaku terpukau.
Ia merasa kirab memberi kesempatan mengenal sejarah para pemimpin terdahulu sekaligus menyaksikan pusaka asli daerahnya.
“Acara ini bagus sekali, kita jadi tahu sejarah Banyumas dan bupati-bupati terdahulu,” katanya antusias.
Imam Arif Budiman juga memanfaatkan kirab sebagai sarana edukasi bagi keluarganya.
Ia mengajak istri dan kedua anaknya agar mereka mengenal budaya Banyumasan sejak dini.
“Supaya anak-anak tahu sejarah Banyumas dan tetap mencintai budayanya,” ujarnya.
Kirab berlangsung pukul 08.40 WIB hingga 14.30 WIB dengan rute sekitar 1,2 kilometer.
Sehari sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meresmikan Wahana Wisata dan Edukasi Sejarah D’Sabin Banokeling di Desa Tamansari, Kecamatan Karanglewas.
Ia menegaskan pentingnya menjaga sejarah dan tradisi agar tidak luntur oleh perkembangan zaman, sekaligus memperkuat identitas budaya bagi generasi penerus. (ajp)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.