Menu

Mode Gelap
 

Headline · 12 Sep 2025 21:44 WIB

Fotografi Jurnalistik Sebagai Jejak Zaman dalam “Semarang Punya Cerita”


					Fotografi Jurnalistik Sebagai Jejak Zaman dalam “Semarang Punya Cerita” Perbesar

SEMARANG, Kabarjateng.id – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang menggelar kegiatan Semarang Punya Cerita #Kelas 1 dengan tema “Jejak Visual Penanda Zaman” di Rumah Pohan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (12/9/2025).

Acara ini dipandu oleh Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang, Aris Mulyawan, dengan menghadirkan fotografer senior Beawiharta sebagai narasumber utama.

Diskusi yang terselenggara berkat dukungan Rumah Pohan, AJI Semarang, Pertamina Patra Niaga, PT Perkebunan Nusantara I, Telkomsel, dan Draft Beer tersebut membahas peran foto jurnalistik tidak hanya sebagai dokumentasi peristiwa, melainkan juga sebagai catatan sejarah yang merekam dinamika sosial dan budaya masyarakat.

Beawiharta menjelaskan bahwa di era digital yang serba cepat, visual memiliki kekuatan lebih dibandingkan teks panjang.

“Hari ini, orang cukup melihat foto untuk memahami peristiwa. Narasi hanya sebagai pelengkap berupa informasi singkat: kapan, di mana, siapa, dan apa yang terjadi. Selebihnya, gambar yang berbicara,” ujarnya.

Mantan fotografer Reuters yang kini aktif di berbagai proyek independen itu menekankan bahwa foto jurnalistik berfungsi sebagai arsip publik.

Berbeda dengan karya dokumenter yang lebih personal, foto jurnalistik harus berpihak pada kepentingan masyarakat luas. Meski begitu, ia mengingatkan pentingnya kesadaran risiko di lapangan.

“Tidak semua peristiwa perlu didatangi. Kita perlu melakukan pemetaan, mana yang aman dan layak diliput, mana yang lebih baik ditinggalkan demi keselamatan,” katanya.

Menurutnya, foto bisa menjadi penanda zaman bila dikerjakan secara konsisten dan berkelanjutan. Ia mencontohkan dokumentasi perkembangan transportasi.

“Kalau dulu kereta penuh pedagang asongan dan penumpang berdesakan, sekarang lebih nyaman dan modern. Perubahan itu bisa terekam jika sejak awal fotografer merencanakan apa saja yang perlu dipotret, baik interior, eksterior, maupun penumpangnya,” tambahnya.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat memberi perspektif baru bagi jurnalis, fotografer, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum tentang pentingnya fotografi dalam merekam perubahan sosial.

Foto bukan sekadar hasil bidikan kamera, tetapi juga media yang menyimpan memori kolektif dan menjadi saksi perjalanan sebuah era.

Sekretaris PFI Semarang, Aprillio Akbar, menegaskan komitmen organisasi dalam menghadirkan ruang edukasi melalui program Semarang Punya Cerita.

“Kami ingin memperkuat kapasitas pewarta foto sekaligus menegaskan fotografi sebagai sarana dokumentasi sejarah dan refleksi sosial. Dengan begitu, PFI Semarang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga ingatan kolektif masyarakat,” jelasnya.

Melalui forum ini, fotografi ditegaskan bukan hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga nilai historis.

Setiap foto yang dihasilkan dapat menjadi warisan visual lintas generasi sekaligus penanda perjalanan masyarakat dan bangsa. (day)

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Publisher

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Sabung Ayam dan Dadu di Jetis Tengaran Diduga Masih Beroperasi, Warga Tuntut Penindakan Tegas

26 April 2026 - 12:34 WIB

Polresta Pati Tertibkan Balap Liar di JLS, Tujuh Remaja Terjaring Operasi Dini Hari

26 April 2026 - 11:18 WIB

Perkuat Sinergi, Polres Jepara Gandeng Komunitas Trail ATC Desa Bondo Jaga Kamtibmas

26 April 2026 - 11:07 WIB

Sekda Jateng Soroti Peran Olahraga bagi Veteran: Bangun Kebersamaan hingga Jaga Kesehatan

26 April 2026 - 10:02 WIB

Aksi Debt Collector di Semarang Bikin Heboh, Laporan Palsu Damkar Berujung Sanksi Unik

26 April 2026 - 09:41 WIB

Polres Jepara Rombak Struktur, Pejabat Utama dan Kapolsek Berganti

26 April 2026 - 09:27 WIB

Trending di Daerah