SALATIGA, Kabarjateng.id – Sebanyak 230 anak dari Kota Semarang dan Kota Salatiga telah mengikuti program Khitan Massal Seru yang diselenggarakan PT Pegadaian (Persero) Kantor Wilayah XI Semarang sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam dua tahap, yakni di Semarang dan Salatiga, dengan layanan pendampingan medis yang dipastikan berlangsung hingga seluruh peserta dinyatakan sembuh.
Program khitan massal tersebut telah diikuti sekitar 130 anak di Kota Semarang pada 2 Juli 2026, kemudian dilanjutkan di Kota Salatiga dengan hampir 100 peserta. Melalui kegiatan itu, Pegadaian berupaya membantu meringankan beban masyarakat sekaligus memperluas manfaat program sosial yang rutin digelar setiap tahun.
Khitan Massal Seru Pegadaian juga dilaksanakan dengan memanfaatkan metode medis modern. Tim tenaga kesehatan yang bertugas disebut telah melewati proses seleksi dan skrining sehingga teknologi yang digunakan merupakan metode terkini. Selain tindakan khitan, pendampingan pascaoperasi hingga masa penyembuhan juga disediakan melalui pemantauan langsung oleh tim medis.
Deputi Bisnis PT Pegadaian Area Semarang mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial kepada masyarakat yang telah dilaksanakan secara rutin selama lebih dari lima tahun. Menurutnya, pelayanan yang diberikan tidak berhenti pada pelaksanaan khitan, tetapi juga mencakup proses pemulihan peserta hingga sembuh total.
“Kegiatan ini merupakan komitmen dan tanggung jawab sosial kami kepada masyarakat. Mudah-mudahan bisa memberikan dampak positif sekaligus meringankan beban keluarga dalam proses khitan anak,” katanya, Jumat (3/7/2026).
Ia menjelaskan, jumlah peserta tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan perkiraan awal sehingga menjadi bahan evaluasi untuk menambah kuota pada penyelenggaraan berikutnya.
“Pesertanya ternyata di luar ekspektasi kami. Insyaallah kalau tahun depan kembali dilaksanakan, kuotanya akan kami tambah agar semakin banyak anak yang bisa mengikuti,” ujarnya.
Ia menambahkan, persyaratan mengikuti program tersebut dibuat sederhana. Masyarakat hanya diminta mengisi formulir pendaftaran secara daring serta mengunggah identitas dan kartu keluarga tanpa diwajibkan menjadi nasabah Pegadaian.
“Yang penting hanya mengisi link pendaftaran dan mengunggah identitas. Tidak perlu menjadi nasabah Pegadaian untuk mengikuti program ini,” jelasnya.
Terkait pelayanan kesehatan, ia memastikan seluruh tenaga medis dipilih melalui proses seleksi sehingga metode yang digunakan telah memenuhi standar teknologi terkini. Bahkan, tanggung jawab tim medis tetap berlangsung setelah pelaksanaan khitan hingga proses penyembuhan selesai.
“Tidak hanya pelaksanaan hari ini, tetapi mulai proses penyembuhan sampai benar-benar normal menjadi bagian dari tanggung jawab kami. Orang tua juga akan tergabung dalam grup bersama tim medis sehingga apabila ada kendala selama pemulihan dapat langsung ditangani,” katanya.
Program tanggung jawab sosial Pegadaian tersebut turut diapresiasi Pemerintah Kota Salatiga. Dukungan perusahaan dinilai mampu membantu masyarakat, terutama pada masa libur sekolah ketika banyak orang tua memilih mengkhitankan anaknya.
Kepala Dinas Sosial Kota Salatiga, Riyani Isyana Pramasanthi, mengatakan kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus membantu mengurangi beban ekonomi keluarga.
“Kami sangat mengapresiasi CSR yang diberikan PT Pegadaian kepada masyarakat Kota Salatiga dan sekitarnya. Ini bisa mengurangi beban hidup masyarakat dan waktunya juga sangat tepat saat liburan sekolah,” katanya.
Ia juga mengaku terkesan dengan tingginya antusiasme masyarakat. Menurutnya, jumlah peserta hampir mencapai 100 anak di Salatiga merupakan capaian yang cukup besar dibandingkan pelaksanaan khitan massal pada umumnya.
“Biasanya mencari peserta khitan massal tidak mudah, tetapi kali ini pesertanya luar biasa banyak. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan semakin bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Salah seorang peserta, Leonardo Michael Aprilio (10), mengaku sempat merasa gugup sebelum menjalani proses khitan. Namun rasa sakit hanya dirasakan saat penyuntikan anestesi.
“Lumayan sakit waktu disuntik. Setelah itu sudah tidak sakit lagi. Tadi sempat deg-degan, tetapi sekarang senang,” kata siswa kelas V sekolah dasar tersebut.
Sementara itu, sang kakek, Prasojo, warga Cebongan, mengaku mengetahui informasi program tersebut dari rekannya sebelum mendaftarkan cucunya. Ia menyambut baik penyelenggaraan khitan massal karena seluruh layanan diberikan tanpa biaya.
“Saya sangat senang karena semuanya gratis. Anaknya juga mendapat perlengkapan dan bingkisan. Program seperti ini sangat membantu masyarakat,” katanya. (Whs)






