SEMARANG | Kabarjateng.id – Suasana berbeda dirasakan para kafilah MTQ Nasional XXXI 2026 setelah menjalani rangkaian perlombaan.
Mereka diajak melepas penat dengan menikmati wisata dan permainan tradisional di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Puluhan kafilah dari berbagai provinsi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bersantai di Omah Alas.
Mereka mencoba sejumlah permainan tradisional sekaligus mengenal jemparingan, olahraga panahan tradisional yang menjadi salah satu aktivitas dalam kunjungan wisata tersebut.
Kafilah asal Sulawesi Tenggara, La Ode Adam, mengaku senang mendapat kesempatan berwisata setelah mengikuti perlombaan tafsir bahasa Arab.
Selain mencoba egrang, ia juga menjajal jemparingan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengalaman menarik di sela padatnya agenda MTQ Nasional.
“Senang, setelah berlomba tafsir bahasa Arab. Tadi coba egrang, panah tradisional yang harus duduk. Pokoknya Semarang menyala,” katanya, Rabu (16/9/2026).
Kesan serupa disampaikan Reza, kafilah asal DI Yogyakarta. Ia menilai kegiatan wisata tersebut menjadi cara menyenangkan untuk mengurangi ketegangan setelah mengikuti perlombaan.
Reza bahkan baru pertama kali mencoba egrang dan jemparingan dalam kunjungan tersebut.
“Iya pasti senang dong setelah melewati berbagai perlombaan, terus ketegangan. Setelah itu kita diajak untuk happy-happy, diajak berkeliling Kota Semarang,” ujarnya.
Ia mengaku tidak menyangka panitia menyiapkan agenda wisata bagi para kafilah. Baginya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda selama mengikuti MTQ Nasional.
“Enggak expect, ternyata ada program ini gitu, jadi kita senang. Luar biasa,” imbuhnya.
City Tour Leader Disbudpar Kota Semarang, Suhono, menjelaskan, wisata bagi kafilah dikemas dalam tiga pilihan.
Program tersebut meliputi Kafilah Mubeng-Mubeng Kota Semarang, Kafilah Dolan Neng Desa Wisata Ramah Muslim, serta Heritage Tour Kota Semarang.
Menurut Suhono, kunjungan ke Desa Wisata Kandri menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi wisata lokal kepada peserta dari berbagai daerah.
“Tujuannya adalah mengenalkan potensi yang ada di Omah Alas Desa Wisata Kandri, supaya dikenal oleh masyarakat luas di luar Jawa Tengah,” jelasnya.
Setelah menikmati aktivitas di Kandri, rombongan juga dijadwalkan mengunjungi Goa Kreo.
Destinasi tersebut diperkenalkan sebagai wisata alam sekaligus memiliki keterkaitan dengan jejak sejarah dan religi Sunan Kalijaga.
Suhono berharap pengalaman para kafilah selama berada di Semarang dapat menjadi promosi tidak langsung bagi destinasi wisata di Kota Semarang.
“Dengan promosi ini, secara tidak langsung beberapa provinsi di luar Jawa Tengah akan mengenal keramahtamahan Desa Wisata Kandri,” katanya.
Agenda wisata tersebut sekaligus mendukung upaya menjadikan MTQ Nasional XXXI 2026 tidak hanya sebagai ajang perlombaan keagamaan.
Pemerintah juga memanfaatkannya untuk memperkenalkan potensi pariwisata dan menggerakkan aktivitas ekonomi daerah.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen sebelumnya menyampaikan, perputaran ekonomi selama penyelenggaraan MTQ Nasional diperkirakan dapat mencapai Rp1,2 triliun.
Potensi tersebut terlihat dari aktivitas ekonomi di kawasan Simpang Lima.
Pameran Serambi Nusantara yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan MTQ disebut memiliki perkiraan transaksi harian sekitar Rp500 juta.
Pameran itu melibatkan sekitar 150 stan dari berbagai unsur. Di antaranya 24 provinsi, 70 kabupaten/kota, 12 kementerian, serta stan kuliner, mitra dan pelaku usaha mandiri.
Dampak ekonomi juga dirasakan sejumlah sektor pendukung, mulai transportasi, akomodasi, restoran hingga pelaku usaha lokal.
Dengan demikian, kehadiran ribuan peserta MTQ Nasional di Jawa Tengah tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga membuka ruang promosi wisata sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat. (dkp)






