PURWODADI | kabarjateng.id – Ribuan jamaah memadati Pondok Pesantren Al Marom, Menduran, Purwodadi, dalam Haul Akbar ke-20 Kyai Ageng Kafiluddin K. Munawar Kholil dan para masyayikh, Minggu (12/7/2026).
Selain menjadi ajang doa bersama dan mempererat ukhuwah, kegiatan tersebut juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Sepanjang akses menuju lokasi acara, puluhan pedagang membuka lapak yang menjajakan beragam kebutuhan, mulai dari aneka kuliner, pakaian, sandal, hingga perlengkapan rumah tangga. Kehadiran ribuan pengunjung membuat dagangan mereka laris manis.
Salah seorang pedagang, Andi, mengaku setiap tahun selalu mengikuti kegiatan haul di Al Marom karena mampu meningkatkan pendapatannya.
Pria asal Kaligawe, Kota Semarang, itu menyebut acara tahunan tersebut menjadi salah satu kesempatan terbaik untuk berdagang.
“Hasil jualannya lumayan. Karena setiap ada haul di sini, pengunjung selalu ramai,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Widi, penjual lontong pecel khas Menduran. Bersama sang ibu, ia tetap menjual dagangannya dengan harga Rp5.000 per porsi.
Meski tidak menaikkan harga, omzet yang diperoleh meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat dibandingkan hari biasa.
“Alhamdulillah, pendapatan jauh lebih baik karena pembeli sangat ramai,” katanya.
Tak hanya pedagang, para jamaah dari luar daerah juga menikmati beragam kuliner khas Menduran.
Asih, pengunjung asal Jakarta, mengaku sengaja membeli jajanan lokal yang sulit ditemukan di kota asalnya.
Menurutnya, penyelenggaraan haul memberikan manfaat ganda, yakni memperkuat nilai-nilai keagamaan sekaligus membuka peluang usaha bagi warga sekitar.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, yang turut menghadiri kegiatan tersebut mengatakan acara keagamaan berskala besar terbukti mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
Selama perjalanan menuju lokasi, ia melihat aktivitas perdagangan berlangsung sangat ramai.
“Saya melihat sendiri sepanjang jalan menuju lokasi, dagangan para pedagang laris semua,” ujar pria yang akrab disapa Gus Yasin.
Ia menilai, di tengah tantangan ekonomi saat ini, kegiatan keagamaan seperti haul dapat menjadi pengungkit ekonomi lokal karena menghadirkan ribuan orang yang turut membelanjakan uangnya di lokasi acara.
Menurutnya, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan oleh penyelenggara, tetapi juga oleh para pedagang kecil yang mengandalkan momentum tersebut untuk meningkatkan penghasilan.
“Semua ikut merasakan manfaatnya. Para pedagang bisa membawa pulang hasil usaha, bahkan ada yang bisa melunasi utangnya,” ucapnya.
Haul Akbar Ponpes Al Marom yang berlangsung selama empat hari itu diikuti jamaah dari berbagai daerah di Jawa Tengah, seperti Demak, Rembang, dan Semarang, serta dari luar provinsi, termasuk Jakarta dan Jawa Barat.
Besarnya antusiasme masyarakat menjadikan Haul Akbar Al Marom bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang memberikan berkah bagi pelaku usaha kecil dan warga di sekitar pondok pesantren. (di)






