KUDUS | Kabarjateng.id – Penantian panjang selama 25 tahun akhirnya berbuah manis bagi Hadi Mulyono, warga Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.
Buruh bangunan tersebut kini dapat menempati rumah yang lebih aman dan layak setelah memperoleh bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Sebelumnya, rumah yang dihuni Hadi bersama keluarganya kerap kebanjiran saat hujan turun karena posisi bangunan lebih rendah dari jalan.
Kondisi dinding yang mulai rapuh serta atap yang sudah tua membuat rumah tersebut jauh dari kata nyaman.
Rasa haru tak dapat disembunyikan ketika Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi datang meninjau langsung rumahnya pada Senin (29/6/2026).
Dengan penuh syukur, Hadi menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan yang telah mengubah kondisi tempat tinggal keluarganya.
“Terima kasih Pak Luthfi atas bantuannya. Saya sangat bersyukur akhirnya bisa memiliki rumah yang lebih layak,” ungkap Hadi.
Dalam dialog bersama Gubernur Ahmad Luthfi dan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Hadi menceritakan perjuangannya selama bertahun-tahun.
Sebagai buruh bangunan dengan penghasilan sekitar Rp100 ribu per hari, ia mengaku kesulitan menyisihkan uang untuk memperbaiki rumah.
Sementara istrinya bekerja di pabrik dan anak sulungnya juga membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di perusahaan kertas.
Menurut Hadi, kondisi rumah sebelumnya sangat memprihatinkan. Selain sering tergenang air, dinding yang menggunakan material pasir sungai mulai keropos sehingga mudah rusak.
Keterbatasan ekonomi membuat impian memiliki rumah layak terus tertunda.
Program RTLH akhirnya menjadi harapan yang terwujud.
Hadi termasuk satu dari 254 warga Kabupaten Kudus yang menerima bantuan RTLH dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada tahun anggaran 2025.
Peresmian bantuan dilakukan secara simbolis di Balai Desa Gondangmanis.
Pada 2026, Pemprov Jawa Tengah kembali mengalokasikan bantuan pembangunan 47 unit RTLH di Kabupaten Kudus.
Kebahagiaan juga dirasakan Suhadi, penerima bantuan lainnya.
Buruh proyek tersebut mengaku kini keluarganya dapat tinggal di rumah yang lebih nyaman bersama istri dan anak keduanya.
Gubernur Ahmad Luthfi menjelaskan, program RTLH merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan melalui penyediaan hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Sepanjang 2025, sebanyak 274.514 backlog perumahan di Jawa Tengah berhasil ditangani melalui berbagai sumber pendanaan, mulai dari APBN, APBD provinsi, APBD kabupaten/kota, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga swadaya masyarakat.
Dari jumlah tersebut, sekitar 17 ribu unit RTLH dibangun menggunakan APBD Provinsi Jawa Tengah.
Program tersebut terus berlanjut pada 2026 dengan target pembangunan 5.000 unit RTLH.
Selain itu, dukungan pemerintah pusat melalui Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) juga meningkat dari 7.532 unit pada 2025 menjadi 30.037 unit pada 2026.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memperkuat kolaborasi dengan Baznas, dunia usaha, serta sektor perbankan.
Pada 2025, sebanyak 4.012 unit RTLH berhasil diperbaiki melalui dukungan CSR dan Baznas.
Sementara pada tahun ini ditargetkan tambahan 1.550 unit dengan dukungan Baznas, PT Djarum, dan Bank Jateng.
Ahmad Luthfi menegaskan, pembangunan rumah layak huni bukan hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Menurutnya, penerima bantuan juga akan mendapat pendampingan melalui berbagai program lain, seperti bantuan permodalan, pendidikan, pemenuhan gizi, hingga layanan kesehatan.
Ia juga meminta pemerintah desa bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap keluarga penerima manfaat agar program penanggulangan kemiskinan dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (agh)






