BREBES | Kabarjateng.id – Warga Desa Kalijurang, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, menggelar tradisi Sedekah Bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki, kesehatan, keselamatan, dan hasil bumi yang melimpah.
Kegiatan yang berlangsung di Studio Alam Kalijurang Story (KJS), Sabtu (27/6/2026), tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan 1 Suro 1960 dan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
Rangkaian acara diawali dengan arak-arakan masyarakat yang membawa tumpeng, hasil bumi, aneka umbi-umbian, dan hasil pertanian sebagai simbol rasa syukur.
Suasana semakin khidmat saat dilakukan prosesi pemotongan tumpeng oleh dalang Ki Ulum Kartodiwiryo asal Sumpiuh Banyumas, yang kemudian diserahkan kepada Kepala Desa Kalijurang sebagai simbol kebersamaan dan harapan akan keberkahan bagi seluruh warga.
Puncak kegiatan dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit bertajuk “Methuk Sendhekala” dengan lakon “Harsa Menggala Mbangun Desa”.
Pertunjukan tersebut menjadi simbol penghormatan kepada para tokoh pendahulu yang dinilai memiliki jasa besar dalam membangun Desa Kalijurang hingga memperoleh penghargaan dari pemerintah.
Selain pagelaran wayang kulit, panitia juga menghadirkan berbagai kegiatan seni budaya, seperti pertunjukan tari tradisional, rembug kebudayaan, workshop batik, pameran benda-benda budaya, serta pertunjukan terbang Jawa dan doa bersama.
Beragam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan nilai-nilai budaya lokal agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.
Perwakilan panitia, Warsono, mengatakan Sedekah Bumi merupakan hajat bersama masyarakat Kalijurang sebagai bentuk rasa syukur sekaligus komitmen untuk menjaga warisan budaya leluhur.
“Kegiatan ini merupakan hajat seluruh masyarakat Kalijurang. Kami mohon maaf apabila karena keterbatasan waktu persiapan, belum semua tokoh masyarakat maupun perwakilan berbagai elemen dapat kami undang,” ujar Warsono.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pemuda yang dinilai menjadi motor penggerak terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Semangat, kreativitas, dan gagasan dari para pemuda menjadi kekuatan utama sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Kalijurang, Edi Riyanto, S.H., M.H., mengapresiasi seluruh panitia dan masyarakat yang telah bekerja sama menyukseskan penyelenggaraan Sedekah Bumi meski dengan waktu persiapan yang terbatas.
“Kami sangat mengapresiasi kerja keras seluruh panitia dan masyarakat yang dengan penuh semangat telah menyukseskan kegiatan ini. Meski masih terdapat berbagai keterbatasan, pelaksanaannya berjalan dengan baik dan menjadi kebanggaan bersama,” ungkap Edi Riyanto.
Menurutnya, kegiatan tersebut perlu terus dikembangkan agar penyelenggaraannya semakin baik pada tahun-tahun mendatang dengan melibatkan lebih banyak unsur masyarakat.
“Ke depan kami berharap koordinasi dengan tokoh masyarakat, tokoh pemuda, seluruh perwakilan RW, serta berbagai elemen masyarakat dapat lebih dimaksimalkan sehingga kegiatan ini semakin meriah dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ujarnya.
Edi menegaskan, tradisi Sedekah Bumi merupakan warisan budaya yang memiliki nilai luhur, tidak hanya sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi media untuk mempererat persaudaraan dan memperkuat kebersamaan warga.
“Tradisi Sedekah Bumi merupakan warisan leluhur yang sarat dengan nilai budaya dan spiritual. Selain sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas kesehatan, keselamatan, serta keberkahan hasil bumi, kegiatan ini juga menjadi momentum memperkuat persatuan, kerukunan, dan semangat gotong royong masyarakat,” tuturnya.
Melalui penyelenggaraan Sedekah Bumi, masyarakat Desa Kalijurang berharap tradisi leluhur tetap lestari, nilai-nilai kebersamaan semakin kokoh, serta menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya. (wb)






