Menu

Mode Gelap
 

Kabar Semarang

FH Untag Semarang Teguhkan Pancasila sebagai Landasan Etika di Tengah Perkembangan Kecerdasan Buatan

badge-check


					FH Untag Semarang Teguhkan Pancasila sebagai Landasan Etika di Tengah Perkembangan Kecerdasan Buatan Perbesar

SEMARANG | Kabarjateng.id – Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang menggelar tasyakuran dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 2026.

Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat tersebut mengusung tema “Pancasila Kompas Moral di Era Kecerdasan Buatan”, sebagai pengingat pentingnya nilai-nilai kebangsaan dalam menghadapi pesatnya perkembangan teknologi digital.

Acara diikuti oleh jajaran pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan pemotongan tumpeng sebagai bentuk rasa syukur atas lahirnya Pancasila yang menjadi dasar negara sekaligus pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dekan Fakultas Hukum Untag Semarang, Dr. Edi Pranoto, SH, MH, mengatakan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh dipandang sekadar agenda seremonial tahunan.

Menurutnya, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali komitmen terhadap nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi bangsa Indonesia.

Ia menegaskan, Pancasila merupakan pijakan utama yang menjaga keutuhan bangsa sekaligus menjadi sumber inspirasi dalam membangun kehidupan bernegara yang berkeadilan.

Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial menjadi landasan yang harus terus dihidupkan dalam setiap aspek kehidupan.

Dalam pandangannya, hukum di Indonesia tidak cukup hanya berorientasi pada kepastian aturan.

Hukum harus mampu menghadirkan keadilan, melindungi hak-hak masyarakat, serta menjunjung tinggi martabat manusia.

Oleh karena itu, hukum yang dibangun harus memiliki dimensi moral dan kemanusiaan yang kuat.

Edi juga menyoroti berbagai tantangan yang muncul di era digital.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga memunculkan persoalan seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, manipulasi informasi, hingga menurunnya etika dalam ruang publik.

Menurutnya, Pancasila memiliki peran penting sebagai pedoman moral dalam menghadapi berbagai fenomena tersebut.

Nilai kemanusiaan mengajarkan masyarakat untuk tetap mengedepankan empati dalam berinteraksi di ruang digital.

Sementara semangat persatuan menjadi pengingat agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi perpecahan.

Ia menambahkan, penerapan nilai Pancasila di dunia digital dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana, seperti melakukan verifikasi informasi sebelum membagikannya, menyampaikan pendapat secara santun, serta tidak ikut menyebarkan fitnah maupun perundungan terhadap orang lain.

Lebih lanjut, Edi menyoroti hadirnya teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kini semakin berkembang dan digunakan dalam berbagai sektor.

Menurutnya, AI menawarkan banyak peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, pelayanan publik, dan efisiensi kerja.

Meski demikian, teknologi tersebut juga membawa sejumlah tantangan, mulai dari bias data, penyalahgunaan informasi, plagiarisme, manipulasi konten, hingga persoalan tanggung jawab moral.

Karena itu, pemanfaatan AI harus tetap berada dalam koridor etika yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

“Teknologi boleh berkembang dengan sangat cepat, tetapi nilai kemanusiaan tidak boleh ditinggalkan. Mesin bisa menjadi semakin cerdas, namun manusia harus tetap mengedepankan kebijaksanaan dalam setiap keputusan,” ujarnya.

Bagi dunia hukum, kehadiran AI dinilai sebagai tantangan sekaligus peluang. Teknologi dapat membantu proses penelitian, pengelolaan data perkara, hingga layanan hukum yang lebih efektif.

Namun seluruh pemanfaatannya harus tetap mengedepankan prinsip keadilan, transparansi, akuntabilitas, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Edi juga menegaskan bahwa pendidikan hukum memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya memahami aturan hukum, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, serta keberanian moral untuk menegakkan keadilan.

Menurutnya, kampus hukum harus menjadi ruang pembentukan karakter yang mampu melahirkan insan hukum beretika, berpikir kritis, dan memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Melalui peringatan Hari Lahir Pancasila, Fakultas Hukum Untag Semarang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam menghadapi perubahan zaman, termasuk dalam menyikapi perkembangan teknologi yang semakin kompleks.

“Selama nilai-nilai Pancasila tetap menjadi pedoman, Indonesia akan mampu menghadapi berbagai tantangan masa depan sebagai bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, dan sejahtera,” pungkasnya. (hdw)

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Donor Darah Warnai Peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Polres Demak Kumpulkan 40 Kantong Darah

15 Juni 2026 - 21:51 WIB

Ahmad Luthfi Kawal Investasi EV Rp15 Triliun, Kendal Bersiap Jadi Pusat Industri Masa Depan

15 Juni 2026 - 21:42 WIB

New PM Diresmikan, Bangkitkan Kembali Legenda Pasar Maling di Johar

15 Juni 2026 - 21:13 WIB

Pangdam IV/Diponegoro Resmi Pimpin Pergantian Komandan Yonif 400/Banteng Raiders

15 Juni 2026 - 17:04 WIB

Uji Kebugaran ARFF Digelar, Bandara Ahmad Yani Pastikan Personel Siap Hadapi Situasi Darurat

15 Juni 2026 - 16:19 WIB

Ratusan Warga Pati Padati Pengadilan Tipikor Semarang, Kawal Sidang Perdana Sudewo

15 Juni 2026 - 16:00 WIB

Trending di Hukum & Kriminal