SEMARANG, Kabarjateng.id – Penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menjadi perhatian utama di Jateng.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin, M.S.I., optimistis pelaku UMKM di Jateng mampu berkembang lebih pesat, semakin tangguh, dan siap bersaing di pasar internasional.
Hal itu disampaikan Nawal saat menghadiri kegiatan UMKM Grande (Green, Kerakyatan, Digital & Export) 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Atrium Mall Paragon Semarang, Jumat (8/5/2026).
Acara bertema “Tumbuh, Tangguh, dan Mendunia” tersebut menghadirkan sebanyak 90 pelaku UMKM dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Selain pameran produk unggulan, kegiatan ini juga menjadi wadah business matching serta fashion show untuk memperluas jaringan pemasaran.
Menurut Nawal, sinergi antara Dekranasda dan Bank Indonesia sangat penting dalam membangun ekosistem UMKM yang kuat, mulai dari pembinaan usaha, peningkatan kualitas produk, hingga perluasan akses pasar.
“Kami ingin UMKM Jawa Tengah tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh besar, kuat, dan mampu menembus pasar dunia,” ujarnya.
UMKM Lokal Tembus Pasar Internasional
Nawal menyebut sejumlah UMKM lokal telah membuktikan kualitasnya di pasar internasional.
Salah satunya Naruna Ceramic asal Salatiga yang sukses mengekspor produknya ke 18 negara.
Selain itu, Roro Kenes Semarang juga berhasil menarik perhatian pasar global lewat produk tas anyaman kulit premium.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa produk lokal Jawa Tengah memiliki daya saing tinggi jika pelaku usaha mendapat pendampingan yang tepat dan akses pasar yang luas.
Kurasi Produk dan Akses Permodalan
Nawal menjelaskan, penguatan UMKM dimulai melalui pelatihan, inkubasi usaha, serta proses kurasi agar produk lokal memiliki standar yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Setelah itu, pelaku usaha juga memperoleh akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Kurasi menjadi langkah penting agar produk UMKM benar-benar siap masuk pasar yang lebih luas. Setelah itu, akses modal juga harus diperkuat,” jelasnya.
Data menunjukkan, penyaluran KUR di Jawa Tengah selama 2015 hingga 2025 mencapai Rp361,36 triliun dengan total 10,31 juta debitur.
Sementara sepanjang Januari hingga Oktober 2025, sebanyak 667.067 debitur menerima pembiayaan senilai Rp34,73 triliun.
Digitalisasi dan Business Matching
Selain pembiayaan, digitalisasi pemasaran terus diperkuat agar UMKM mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga aktif mempertemukan pelaku usaha dengan buyer potensial dari dalam maupun luar negeri.
Dalam ajang UMKM Grande 2026, Bank Indonesia menghadirkan buyer internasional untuk melakukan business matching secara langsung dengan pelaku usaha lokal.
Langkah ini membuka peluang besar bagi UMKM untuk memperluas jaringan bisnis sekaligus meningkatkan volume ekspor produk unggulan daerah.
Kolaborasi untuk UMKM yang Lebih Maju
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Andi Reinasari, mengatakan pihaknya terus mendukung pengembangan UMKM, terutama sektor wastra seperti batik dan tenun yang menjadi identitas khas Jawa Tengah.
“Kami fokus mengangkat potensi wastra karena batik dan tenun memiliki nilai budaya sekaligus kekuatan ekonomi yang besar,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua II Dekranas Pusat, Sri Suparni Bahlil Lahadalia, mengapresiasi pelaksanaan UMKM Grande 2026 karena mampu menghadirkan ruang promosi, edukasi, dan transaksi bisnis dalam satu kegiatan terpadu.
Ia berharap kolaborasi antarinstansi terus semakin kuat agar UMKM Indonesia semakin maju dan mampu bersaing di tingkat global. (dkp)






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.