Menu

Mode Gelap
 

Opini · 2 Mei 2026 14:30 WIB

Saat Soeharto Tak Ingin Menjadi Presiden


					Saat Soeharto Tak Ingin Menjadi Presiden Perbesar

Di tengah situasi politik Indonesia yang penuh gejolak setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, nama Soeharto mulai tampil sebagai tokoh penting yang perlahan mengambil kendali pemerintahan.

Banyak orang menilai jalan menuju kursi presiden dilalui dengan ambisi besar, namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di balik proses pergantian kepemimpinan dari Soekarno menuju era baru, Soeharto justru menghadapi dilema besar.

Ia tidak hanya berdiri sebagai seorang jenderal yang siap mengambil alih kekuasaan, tetapi juga sebagai pribadi yang mempertimbangkan konsekuensi moral dan politik dari keputusan tersebut.

Dalam berbagai catatan sejarah, Soeharto disebut sempat tidak ingin menyandang jabatan presiden.

Bukan karena merasa tidak mampu, melainkan karena ia memahami beratnya legitimasi pada masa transisi itu.

Menggantikan Soekarno bukan perkara sederhana.

Sosok proklamator itu masih sangat dihormati dan memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat.

Soeharto menyadari bahwa menerima jabatan tersebut dapat memunculkan anggapan bahwa dirinya menyingkirkan Soekarno dari kursi kekuasaan.

Ia khawatir masyarakat akan menilai langkah itu sebagai tindakan yang tidak etis dan memicu penolakan luas.

Namun situasi politik saat itu menuntut adanya kepemimpinan yang kuat dan stabil.

Negara membutuhkan figur yang mampu mengendalikan keadaan serta menjaga keamanan nasional.

Dalam kondisi tersebut, Soeharto akhirnya menerima amanah besar itu sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap bangsa.

Keputusan tersebut kemudian mengubah perjalanan sejarah Indonesia.

Sosok yang awalnya disebut ragu menjadi presiden justru memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade.

Masa kepemimpinannya melahirkan era Orde Baru, sebuah periode yang dikenal dengan pembangunan besar-besaran, stabilitas politik, sekaligus berbagai kontroversi yang terus menjadi bahan perdebatan hingga kini.

Kisah ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu lahir dari ambisi pribadi.

Terkadang, sejarah justru mendorong seseorang melangkah ke posisi besar yang sebelumnya tidak pernah benar-benar diinginkan.

Soeharto menjadi salah satu contoh bagaimana pergulatan batin seorang pemimpin dapat tersembunyi di balik wajah kekuasaan yang terlihat kuat.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Publisher

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Gubernur Luthfi Temui Massa May Day, Serap Aspirasi dan Siapkan Solusi untuk Buruh Jateng

2 Mei 2026 - 15:09 WIB

May Day 2026 di Ungaran, Ahmad Luthfi Tegaskan Buruh Jadi Pilar Utama Ekonomi Jateng

2 Mei 2026 - 08:33 WIB

Ahmad Luthfi Gandeng TNI, Jateng Ubah Gunungan Sampah Jadi Energi Alternatif

2 Mei 2026 - 08:03 WIB

Pemprov Jateng Dukung Penuh Raperda Pelayanan Publik

2 Mei 2026 - 07:32 WIB

Pemkab Brebes Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Kemarau 2026, Fokus Cegah Kekeringan dan Karhutla

2 Mei 2026 - 01:40 WIB

Motoran dan Ngopi Bareng Buruh, Polres Kendal Jaga May Day 2026 Tetap Aman dan Kondusif

2 Mei 2026 - 01:29 WIB

Trending di Daerah