SEMARANG, Kabarjateng.id — Susilo H. Prasetiyo, aktivis senior angkatan 95 sekaligus Ketua LSM RPK-RI, mendorong perubahan besar di tubuh Forum Komunikasi Semarang Bersatu (FKSB).
Ia menilai momentum suksesi kepemimpinan menjadi waktu yang tepat untuk menghadirkan kepengurusan baru yang lebih inklusif dan mampu menjawab tantangan zaman.
Ormas Harus Jadi Jembatan Aspirasi
Susilo menegaskan bahwa organisasi kemasyarakatan memiliki fungsi penting sebagai penyalur aspirasi masyarakat.
Ormas tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga berperan aktif menyampaikan gagasan, kritik, serta solusi bagi pembangunan daerah.
Menurutnya, ormas harus menjembatani komunikasi antara masyarakat dan pemerintah secara seimbang.
Dengan peran itu, pembangunan berjalan lebih efektif karena melibatkan partisipasi publik secara luas.
FKSB Kehilangan Arah Kolektif
Susilo menyoroti kondisi internal FKSB yang belum mencerminkan semangat kebersamaan.
Ia melihat pengelolaan organisasi kurang terbuka sehingga memicu potensi gesekan antaranggota.
Ia juga menilai pola kepemimpinan yang terlalu berfokus pada kelompok tertentu membuat organisasi kehilangan daya rangkul.
Akibatnya, FKSB belum mampu mengakomodasi kepentingan seluruh elemen masyarakat secara optimal.
Regenerasi Jadi Kunci Perubahan
Dalam menghadapi dinamika tersebut, Susilo menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan.
Ia berharap figur-figur baru muncul dengan visi luas, terbuka terhadap perbedaan, serta mampu membawa FKSB ke arah yang lebih modern.
Menurutnya, perubahan tidak cukup pada struktur, tetapi harus menyentuh pola pikir dan budaya organisasi.
Kepengurusan baru harus menciptakan sistem yang transparan, partisipatif, dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Soroti Aturan Pencalonan
Susilo juga mengkritik aturan pencalonan Ketua FKSB yang terlalu sempit.
Ia menilai syarat yang mengharuskan calon berasal dari internal organisasi justru menutup peluang bagi tokoh muda yang memiliki kapasitas, tetapi belum tergabung dalam FKSB.
Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut menghambat proses kaderisasi dan mempersempit ruang inovasi.
Padahal, banyak potensi dari luar yang mampu memberi warna baru bagi organisasi.
Ajak Pemerintah Ikut Mengawal
Melihat kondisi itu, Susilo meminta Pemerintah Kota Semarang melalui Kesbangpol untuk ikut mengawal dinamika di FKSB.
Ia menilai peran pemerintah penting sebagai pembina agar organisasi tetap berjalan sesuai prinsip demokrasi dan keterbukaan.
Ia juga mengingatkan bahwa ormas harus menjunjung tinggi nilai kebersamaan, bukan menciptakan sekat yang memecah.
Bangun Sinergi, Tinggalkan Ego Sektoral
Susilo mengajak seluruh elemen FKSB dan ormas lain untuk mengedepankan sinergi dan kolaborasi.
Ia menilai ego sektoral hanya menghambat kemajuan organisasi dan merugikan masyarakat luas.
Menurutnya, dialog terbuka dan semangat kebersamaan menjadi kunci dalam membangun organisasi yang kuat dan bermanfaat.
FKSB Harus Jadi Rumah Bersama
Di akhir pernyataannya, Susilo menegaskan bahwa FKSB harus kembali pada tujuan awal sebagai wadah pemersatu.
Organisasi ini harus merangkul semua pihak tanpa membedakan latar belakang serta menjadi motor penggerak pembangunan di Kota Semarang.
Ia berharap kepengurusan baru benar-benar membawa perubahan nyata, bukan sekadar pergantian nama.
“FKSB harus menjadi rumah bersama yang terbuka, adil, dan mampu mewakili kepentingan semua elemen masyarakat,” tegasnya. (dkp)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.