TEMANGGUNG | Kabarjateng.id – Kebakaran hutan dan lahan di Gunung Sumbing yang melanda wilayah Wonosobo, Magelang, dan Temanggung akhirnya berhasil dipadamkan.
Meski demikian, dampak kebakaran seluas 974,29 hektare itu masih menyisakan sejumlah persoalan, mulai dari kerusakan vegetasi hingga terganggunya saluran air bersih milik warga.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta penanganan pascakebakaran segera dilakukan.
Selain memulihkan lingkungan, pemerintah bersama pihak terkait diminta memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya ketersediaan air bersih, kembali terpenuhi.
Hal itu disampaikan Luthfi saat meninjau lokasi kebakaran dan menemui relawan di Basecamp Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Minggu (25/10/2026).
Menurutnya, keberhasilan memadamkan api harus diikuti langkah pemulihan yang terencana.
Evaluasi diperlukan untuk mengetahui tingkat kerusakan sekaligus menentukan kebutuhan masyarakat yang harus segera ditangani.
“Hari ini wilayah Gunung Sumbing telah padam, tetapi yang kita evaluasi adalah upaya pascabencananya. Di antaranya, kebutuhan dasar masyarakat harus terpenuhi,” kata Luthfi.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kerusakan jaringan pipa air bersih akibat kebakaran.
Sejumlah saluran dilaporkan terbakar atau mengalami kerusakan sehingga perlu diperbaiki agar pasokan air kepada masyarakat dapat kembali berjalan normal.
Luthfi juga mendorong rehabilitasi kawasan hutan melalui penanaman kembali vegetasi yang terdampak.
Usulan masyarakat mengenai penyediaan tanaman untuk penghijauan akan menjadi bagian dari upaya pemulihan tersebut.
“Banyak pipa-pipa kita yang terbakar atau rusak itu harus kita recovery kembali. Kemudian, lakukan reboisasi terkait dengan pascabencana. Beberapa masyarakat mengusulkan untuk diberikan tanaman-tanaman yang siap untuk direboisasi kembali. Reboisasi kita lakukan bersama,” ujarnya.
Administratur Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara, Dimyati, menyampaikan bahwa kebakaran di kawasan Gunung Sumbing yang mencakup tiga kabupaten telah padam sejak Sabtu (24/10/2026).
Pemantauan melalui aplikasi Sipongi milik Kementerian Kehutanan juga tidak lagi menemukan titik api maupun asap kebakaran.
Kendati demikian, petugas tetap menyisir kawasan terdampak untuk memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran baru.
“Kita pantau hari ini dari Sipongi, Gunung Sumbing bersih dari titik api dan asap kebakaran,” kata Dimyati.
Data Perhutani mencatat total lahan yang terbakar mencapai 974,29 hektare.
Dari jumlah tersebut, sekitar 362 hektare berada di Kabupaten Wonosobo, 213 hektare di Kabupaten Magelang, dan 398,89 hektare di Kabupaten Temanggung.
Kerugian akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai Rp189,3 juta. Area yang terbakar didominasi sabana dengan tutupan ilalang dan rumput hutan.
Namun, sejumlah titik di wilayah Wonosobo juga mengalami kerusakan vegetasi berkayu.
Luthfi menekankan pentingnya pendataan secara menyeluruh untuk memastikan luas lahan yang terbakar serta dampaknya terhadap ekosistem, termasuk keberadaan satwa liar.
Hasil evaluasi tersebut akan menjadi acuan dalam menentukan program rehabilitasi yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Di sisi lain, pencegahan kebakaran berulang perlu diperkuat melalui keterlibatan masyarakat.
Warga diingatkan agar tidak membuang puntung rokok sembarangan atau menyalakan api tanpa pengawasan ketika berada di kawasan gunung.
Mengenai penyebab kebakaran, Luthfi mengatakan proses penyelidikan masih berlangsung.
Dugaan awal mengarah pada faktor kelalaian manusia, tetapi kepastian penyebabnya tetap menunggu hasil pemeriksaan.
“Penyebab kebakaran atau titik mula api masih dilakukan penyelidikan, indikasi awal adalah human error. Jangan sampai nanti terulang, apalagi sengaja,” tegasnya.
Luthfi menyebut penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Jawa Tengah masih terkendali.
Selain Gunung Sumbing, kebakaran juga terjadi di Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, serta Gunung Pakuwaja di kawasan Dieng.
Untuk mengurangi risiko kejadian serupa, imbauan penutupan sementara jalur pendakian di sejumlah gunung di Jawa Tengah masih diberlakukan sambil menunggu hasil evaluasi dan pertimbangan keselamatan.
Ia turut mengapresiasi kerja sama BPBD provinsi dan kabupaten/kota, BNPB, relawan, serta masyarakat dalam proses penanganan kebakaran.
Pemadaman di Gunung Sumbing dilakukan melalui jalur darat dengan melibatkan berbagai unsur, sedangkan penanganan di Gunung Lawu turut memanfaatkan dukungan udara.
Setelah api berhasil dikendalikan, pemerintah kini dihadapkan pada pekerjaan lanjutan untuk memperbaiki fasilitas air bersih, memulihkan vegetasi, dan memperkuat pencegahan kebakaran.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat terdampak sekaligus menjaga kelestarian kawasan Gunung Sumbing. (dkp)






