SEMARANG, Kabarjateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempercepat proses relokasi ratusan rumah warga terdampak bencana tanah gerak di sejumlah wilayah.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebutkan, hingga kini tercatat sekitar 900 rumah masuk dalam rencana pemindahan ke lokasi yang lebih aman.
Wilayah terdampak tanah gerak terbesar berada di Kabupaten Tegal, disusul Purbalingga, Pemalang, dan Batang.
Langkah percepatan relokasi dilakukan karena kondisi lingkungan lama dinilai tidak lagi layak huni serta tingginya intensitas hujan yang masih berpotensi memicu bencana susulan.
Pemerintah menargetkan para korban segera dipindahkan dari pengungsian menuju hunian sementara yang telah disiapkan.
Gubernur Ahmad Luthfi menjelaskan, pemerintah kabupaten telah diminta segera menindaklanjuti proses relokasi.
Lahan untuk hunian sementara disebut sudah tersedia di kawasan Perhutani dan telah melalui proses pengecekan kelayakan serta keamanan.
Selain memastikan lokasi aman, pemerintah juga mempertimbangkan akses pendidikan bagi anak-anak serta peluang mata pencaharian bagi warga setelah direlokasi.
Hal tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.
Dari data sementara, sekitar 800 rumah yang terdampak berada di Desa Padasari, Kabupaten Tegal.
Sementara itu, terdapat sekitar 50 rumah di Purbalingga, 30 rumah di Pemalang, dan 20 rumah di Batang yang juga masuk dalam program relokasi.
Setelah lokasi ditentukan, pemerintah bersama TNI dan Polri melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat agar bersedia menempati hunian sementara.
Sebagian warga masih ragu pindah karena mempertimbangkan pekerjaan maupun barang berharga yang harus ditinggalkan.
Oleh karena itu, pemerintah daerah diminta terus melakukan sosialisasi dan pendampingan.
Di sisi lain, Dinas Sosial diminta melakukan pendataan menyeluruh terhadap warga terdampak, mulai dari identitas, pekerjaan, hingga aset yang dimiliki.
Pendataan ini penting agar proses relokasi berjalan tertib dan tidak ada warga yang terlewat dari bantuan.
Saat ini, sebagian warga terdampak di Kabupaten Tegal masih berada di lokasi pengungsian.
Pemerintah memastikan kebutuhan dasar seperti logistik, layanan kesehatan, serta akses pendidikan tetap terpenuhi melalui dapur umum dan posko kesehatan yang disiagakan.
Gubernur juga menginstruksikan para kepala daerah untuk segera menetapkan status tanggap darurat bencana lokal jika terjadi situasi berbahaya, meskipun skalanya terbatas.
Penetapan status tersebut dinilai penting agar penanganan bisa dilakukan secara cepat, mulai dari evakuasi hingga pemulihan pascabencana.
Menutup pernyataannya, Ahmad Luthfi mengimbau masyarakat Jawa Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam.
Curah hujan yang masih tinggi berpotensi memicu longsor, banjir, rob, maupun pergerakan tanah di sejumlah wilayah. (dkp)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.