Menu

Mode Gelap
 

Semarang Raya · 3 Feb 2026 08:59 WIB

Pesisir Kendal Masuk Pengembangan Karbon Biru Nasional


					Peta kawasan potensi Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional Tertentu (RZKSNT) Cadangan Karbon Biru (CKB) | sumber: BRGM Perbesar

Peta kawasan potensi Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional Tertentu (RZKSNT) Cadangan Karbon Biru (CKB) | sumber: BRGM

KENDAL, Kabarjateng.id – Pesisir Kabupaten Kendal masuk sebagai lokasi pengembangan sekaligus upaya penurunan emisi karbon nasional.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI terus mendorong pengembangan ekosistem karbon biru dari wilayah itu.

Prioritasnya untuk wilayah 16 kabupaten/kota yang berada pada kawasan pantai utara dan selatan Jawa Tengah.

Program ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kendal, Hudi Sambodo, mengatakan bahwa Kabupaten Kendal termasuk dalam daftar daerah Semarang Raya yang masuk persiapan.

Yakni menjadi lokasi pengembangan karbon biru nasional kawasan Pantura Jawa Tengah.

“Kabupaten Kendal masuk dalam 16 daerah pesisir Pantura Jawa Tengah, untuk pengembangan karbon biru nasional,” kata Hudi sebagaimana keterangan resmi dari Diskomdigi Jateng, Senin (2/2/2026).

Ia menjelaskan, masuknya Kendal dalam program bukan tanpa alasan.

Pesisir Kendal memiliki potensi besar dalam pengembangan ekosistem mangrove.

Dengan tujuan mendukung upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus perlindungan wilayah pesisir dari ancaman abrasi dan kenaikan muka air laut.

Mangrove Relatif Luas

Menurut Hudi, pesisir Kendal masuk pengembangan karbon biru karena keberadaan dan kondisi ekosistem mangrove relatif luas dan strategis.

Mangrove memiliki peran ganda, baik sebagai pelindung alami pesisir maupun sebagai penyerap dan penyimpan karbon dalam jumlah besar.

“Ekosistem mangrove pesisir Kendal sangat potensial penyerap karbon. Keberadaan mangrove penting untuk melindungi garis pantai dari abrasi dan menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir,” imbuhnya.

Program pengembangan karbon biru nasional Kabupaten Kendal akan mulai masuk pembangunan pada tahun 2026.

Tahapan awal saat ini masih pada proses perencanaan, termasuk penentuan lokasi prioritas dan sosialisasi kepada masyarakat.

Serta penyusunan usulan teknis yang melibatkan pemangku kepentingan.

Hudi menuturkan, ekosistem mangrove memiliki kemampuan menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih besar daripada hutan darat.

Hal ini menjadikan mangrove sebagai salah satu komponen kunci dalam strategi penurunan emisi gas rumah kaca secara global.

“Secara ilmiah, mangrove memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, pengembangan, rehabilitasi mangrove menjadi langkah strategis menekan dampak perubahan iklim,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan program, beberapa jenis mangrove yang menjadi bahan penanaman wilayah pesisir Kendal.

Jenis-jenisnya, lanjut Hudi, meliputi Rhizophora, Avicennia spp.

Dan beberapa spesies lain yang memiliki daya serap karbon tinggi hingga mampu adaptasi dengan lingkungan pesisir.

Lokasi Pengembangan Mangrove

Adapun wilayah sebagai lokasi pengembangan mangrove meliputi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Patebon, Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Kangkung Desa Jungsemi, serta Kecamatan Rowosari, mencakup Desa Sikucing hingga Desa Gempolsewu.

Lokasi-lokasi ini memiliki karakteristik lingkungan yang sesuai untuk pengembangan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.

Hudi menambahkan bahwa saat ini program masih berada dalam tahap penentuan lokasi, sosialisasi, serta penjaringan masukan dari masyarakat setempat.

Selain itu, dilakukan pula identifikasi kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Penghitungan luasan area akan direhabilitasi, estimasi kebutuhan biaya, serta perencanaan pelibatan masyarakat dalam pelaksanaan dan pemeliharaan.

“Program ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi keterlibatan masyarakat pesisir, agar manfaatnya dirasakan secara langsung, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun ekologi,” katanya.

Pengendalian Perubahan Iklim

Ia berharap, dengan masuknya Kabupaten Kendal dalam program nasional ini, pengelolaan ekosistem pesisir dapat berjalan lebih optimal dan terintegrasi.

Selain mendukung pemerintah dalam pengendalian perubahan iklim, program diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.

Lebih jauh, Hudi menekankan bahwa keberhasilan program karbon biru sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, serta sektor swasta dalam menjaga dan memulihkan ekosistem pesisir.

Pengembangan ekosistem karbon biru sendiri merupakan langkah strategis  menjaga keseimbangan lingkungan pesisir sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim.

Karbon biru merujuk pada karbon yang tersimpan dalam ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan rawa payau.

Melindungi Wilayah Pesisir

Ekosistem ini tidak hanya sebagai penyerap karbon yang efektif, tetapi juga melindungi wilayah pesisir dari bencana.

Salah satunya menjaga keanekaragaman hayati, serta mendukung mata pencaharian masyarakat.

Dengan pengelolaan tepat, karbon biru dapat menjadi solusi alamiah yang berkontribusi besar pada pembangunan rendah karbon di Indonesia.

 

Tim Editor: Wahyu Hamijaya

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Publisher

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Tawuran Perang Sarung di Mranggen Berujung Pembacokan, Tiga Remaja Diamankan Polisi

15 Maret 2026 - 20:19 WIB

Korsleting Sepeda Motor Picu Kebakaran, Rumah Triningsih dan Dua Motor Hangus

15 Maret 2026 - 19:36 WIB

Dua Kendaraan Pemudik Terlibat Kecelakaan di Tol Semarang–Solo, Dua Penumpang Luka

15 Maret 2026 - 17:43 WIB

Tawuran di Jalan Raya Tuntang, Polisi Amankan Sejumlah Remaja

15 Maret 2026 - 17:26 WIB

Polres Demak Tertibkan Balap Liar di Jalan Lingkar Terminal Baru, 114 Remaja Diamankan 

15 Maret 2026 - 12:22 WIB

OSIS SMPN 1 Bumiayu Gelar Safari Ramadan, Bagikan Ribuan Takjil untuk Warga

15 Maret 2026 - 12:10 WIB

Trending di Daerah