KENDAL, Kabarjateng.id – Pesisir Kabupaten Kendal masuk sebagai lokasi pengembangan sekaligus upaya penurunan emisi karbon nasional.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI terus mendorong pengembangan ekosistem karbon biru dari wilayah itu.
Prioritasnya untuk wilayah 16 kabupaten/kota yang berada pada kawasan pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
Program ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kendal, Hudi Sambodo, mengatakan bahwa Kabupaten Kendal termasuk dalam daftar daerah Semarang Raya yang masuk persiapan.
Yakni menjadi lokasi pengembangan karbon biru nasional kawasan Pantura Jawa Tengah.
“Kabupaten Kendal masuk dalam 16 daerah pesisir Pantura Jawa Tengah, untuk pengembangan karbon biru nasional,” kata Hudi sebagaimana keterangan resmi dari Diskomdigi Jateng, Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, masuknya Kendal dalam program bukan tanpa alasan.
Pesisir Kendal memiliki potensi besar dalam pengembangan ekosistem mangrove.
Dengan tujuan mendukung upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus perlindungan wilayah pesisir dari ancaman abrasi dan kenaikan muka air laut.
Mangrove Relatif Luas
Menurut Hudi, pesisir Kendal masuk pengembangan karbon biru karena keberadaan dan kondisi ekosistem mangrove relatif luas dan strategis.
Mangrove memiliki peran ganda, baik sebagai pelindung alami pesisir maupun sebagai penyerap dan penyimpan karbon dalam jumlah besar.
“Ekosistem mangrove pesisir Kendal sangat potensial penyerap karbon. Keberadaan mangrove penting untuk melindungi garis pantai dari abrasi dan menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir,” imbuhnya.
Program pengembangan karbon biru nasional Kabupaten Kendal akan mulai masuk pembangunan pada tahun 2026.
Tahapan awal saat ini masih pada proses perencanaan, termasuk penentuan lokasi prioritas dan sosialisasi kepada masyarakat.
Serta penyusunan usulan teknis yang melibatkan pemangku kepentingan.
Hudi menuturkan, ekosistem mangrove memiliki kemampuan menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih besar daripada hutan darat.
Hal ini menjadikan mangrove sebagai salah satu komponen kunci dalam strategi penurunan emisi gas rumah kaca secara global.
“Secara ilmiah, mangrove memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, pengembangan, rehabilitasi mangrove menjadi langkah strategis menekan dampak perubahan iklim,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan program, beberapa jenis mangrove yang menjadi bahan penanaman wilayah pesisir Kendal.
Jenis-jenisnya, lanjut Hudi, meliputi Rhizophora, Avicennia spp.
Dan beberapa spesies lain yang memiliki daya serap karbon tinggi hingga mampu adaptasi dengan lingkungan pesisir.
Lokasi Pengembangan Mangrove
Adapun wilayah sebagai lokasi pengembangan mangrove meliputi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Patebon, Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Kangkung Desa Jungsemi, serta Kecamatan Rowosari, mencakup Desa Sikucing hingga Desa Gempolsewu.
Lokasi-lokasi ini memiliki karakteristik lingkungan yang sesuai untuk pengembangan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.
Hudi menambahkan bahwa saat ini program masih berada dalam tahap penentuan lokasi, sosialisasi, serta penjaringan masukan dari masyarakat setempat.
Selain itu, dilakukan pula identifikasi kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Penghitungan luasan area akan direhabilitasi, estimasi kebutuhan biaya, serta perencanaan pelibatan masyarakat dalam pelaksanaan dan pemeliharaan.
“Program ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi keterlibatan masyarakat pesisir, agar manfaatnya dirasakan secara langsung, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun ekologi,” katanya.
Pengendalian Perubahan Iklim
Ia berharap, dengan masuknya Kabupaten Kendal dalam program nasional ini, pengelolaan ekosistem pesisir dapat berjalan lebih optimal dan terintegrasi.
Selain mendukung pemerintah dalam pengendalian perubahan iklim, program diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.
Lebih jauh, Hudi menekankan bahwa keberhasilan program karbon biru sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, serta sektor swasta dalam menjaga dan memulihkan ekosistem pesisir.
Pengembangan ekosistem karbon biru sendiri merupakan langkah strategis menjaga keseimbangan lingkungan pesisir sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim.
Karbon biru merujuk pada karbon yang tersimpan dalam ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan rawa payau.
Melindungi Wilayah Pesisir
Ekosistem ini tidak hanya sebagai penyerap karbon yang efektif, tetapi juga melindungi wilayah pesisir dari bencana.
Salah satunya menjaga keanekaragaman hayati, serta mendukung mata pencaharian masyarakat.
Dengan pengelolaan tepat, karbon biru dapat menjadi solusi alamiah yang berkontribusi besar pada pembangunan rendah karbon di Indonesia.
Tim Editor: Wahyu Hamijaya







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.