KUDUS, Kabarjateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus melakukan kajian mendalam terkait wacana penerapan sistem sekolah enam hari yang belakangan menjadi perbincangan publik. Rencana perubahan dari pola lima hari sekolah ini masih dalam tahap analisis dan belum diputuskan.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menyampaikan bahwa Pemprov Jateng terbuka terhadap berbagai pandangan yang muncul dari masyarakat maupun para pemangku kepentingan di sektor pendidikan.
“Wacana ini sedang kami pelajari. Semua masukan akan kami akomodasi sebagai bahan pertimbangan sebelum diambil keputusan,” ujar Sumarno usai menghadiri peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah serta Milad ke-27 Universitas Muhammadiyah Kudus di auditorium kampus setempat, Sabtu (22/11/2025).
Ia menegaskan bahwa setiap persoalan di bidang pendidikan, termasuk isu perundungan atau bullying yang kini banyak terjadi melalui media digital, selalu menjadi bagian dari evaluasi Pemprov Jateng untuk memperbaiki kualitas pendidikan.
Secara terpisah, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) menambahkan bahwa gagasan pengembalian sistem sekolah enam hari bukan tanpa alasan.
Menurutnya, sejumlah pihak, termasuk kalangan akademisi, telah menyampaikan dasar pemikiran dan kajian awal mengenai wacana tersebut.
“Kalangan kampus sudah melakukan kajian, termasuk asal mula mengapa usulan ini muncul. Ada juga masukan dari masyarakat yang ingin sistem sekolah enam hari dikaji kembali,” jelasnya.
Gus Yasin menegaskan bahwa seluruh proses masih berjalan dan belum ada keputusan final. Pemerintah, katanya, berupaya menampung seluruh aspirasi secara objektif.
Wacana ini sebelumnya memicu reaksi publik setelah muncul petisi penolakan di Change.org pada 12 November 2025.
Petisi yang dibuat oleh Alfariz Hadi itu menyoroti potensi dampak negatif jika sistem sekolah enam hari diberlakukan kembali, khususnya bagi kesehatan mental dan fisik siswa.
Dalam petisi tersebut, disampaikan bahwa sistem lima hari sekolah yang saat ini diterapkan di jenjang SMA/SMK di Jawa Tengah telah memberikan manfaat signifikan bagi peserta didik.
Libur dua hari pada akhir pekan dinilai membantu siswa mendapatkan waktu istirahat yang cukup, melakukan aktivitas rekreasi, serta mempererat kedekatan dengan keluarga.
Melalui petisi itu, masyarakat meminta Pemprov Jateng mempertimbangkan kembali wacana tersebut dan mempertahankan sistem lima hari sekolah yang dinilai lebih efektif dan ramah bagi perkembangan siswa. (ks)






