Menu

Mode Gelap
 

Kabar Semarang · 6 Nov 2025 13:57 WIB

Warga Tambakrejo Masih Langganan Banjir, Sejumlah Rumah Butuh Bantuan Perbaikan


					Warga Tambakrejo Masih Langganan Banjir, Sejumlah Rumah Butuh Bantuan Perbaikan Perbesar

SEMARANG, Kabarjateng.id – Setiap kali musim hujan tiba, sejumlah warga di Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, kembali harus menghadapi kenyataan rumah mereka terendam air.

Ketua RT 7 RW 1 Tambakrejo, Nur Chadlir, menyebut sekitar 50 kepala keluarga (KK) atau sekitar 150 jiwa terdampak banjir di wilayahnya.

Menurutnya, sebagian besar rumah warga sudah berusaha meninggikan bangunan agar tidak terendam.

Namun, tidak semua mampu melakukan hal serupa karena keterbatasan ekonomi. Akibatnya, setiap kali hujan deras turun, air tetap masuk ke rumah dan merusak perabotan.

“Kerusakan paling sering terjadi pada perabot rumah tangga karena terendam air. Beberapa rumah juga sudah tidak layak huni dan sebenarnya perlu bantuan perbaikan melalui program bedah rumah,” ujar Nur Chadlir saat ditemui di kegiatan pengobatan gratis NU Peduli yang digelar LPBINU Kota Semarang di serambi Masjid Besar Terboyo, Rabu (5/11/2025).

Chadlir menilai, proyek Tol Tepi Laut atau Giant Sea Wall yang dibangun pemerintah memang bermanfaat untuk menahan air laut, namun di sisi lain membuat air hujan sulit mengalir ke laut.

Kondisi ini diperparah dengan posisi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) yang lebih tinggi dari permukiman warga.

“Dulu waktu Pak Hendi jadi wali kota, sudah ada langkah-langkah konkret seperti penambahan pompa dan pengerukan lumpur di BKT. Tapi sekarang banjirnya malah lebih lama surut, bisa sampai seminggu lebih,” jelasnya.

Salah satu warga terdampak, Ngatini (62), tinggal seorang diri di rumah yang lebih rendah dari jalan kampung. Setiap hari ia bekerja mengupas kulit udang di usaha rumahan tetangganya.

Kondisi serupa dialami Nur Cholis (54), warga RT 1 RW 4, yang harus tinggal bersama istri dan tiga anak dalam rumah yang hampir selalu kemasukan air.

Anak sulung Nur Cholis kini bekerja di toko ritel, sedangkan anak keduanya tidak melanjutkan sekolah karena kendala biaya.

“Kalau hujan lebat, kami tidak bisa tidur karena khawatir air naik,” ungkapnya.

Beberapa rumah lain yang juga sering terendam air antara lain milik Supri (38), Kholifah (74), dan Slamet Riyadi (53), semuanya warga RT 7 RW 1 Tambakrejo.

Supri bekerja sebagai juru parkir di sekitar Jalan Kaligawe, sementara Kholifah adalah janda lansia yang hidup dari bantuan keluarga. Slamet Riyadi kini membantu istrinya berjualan mi ayam di rumah karena tidak memiliki pekerjaan tetap.

Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kota Semarang, dr. Muhammad Hayyi Wildani, berharap kondisi warga Tambakrejo mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

“Saya juga warga Tambakrejo, jadi tahu betul kondisi di sini. Kami berharap pemerintah bisa berkolaborasi dengan kelompok masyarakat seperti LPBINU untuk mencari solusi jangka panjang, agar banjir tidak terus menjadi langganan setiap musim hujan,” ujarnya. (arh)

Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Publisher

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Langkah Tegas Agustina, Semarang Night Carnival Dibatalkan Demi Keselamatan Warga

3 Mei 2026 - 00:22 WIB

Gubernur Luthfi Temui Massa May Day, Serap Aspirasi dan Siapkan Solusi untuk Buruh Jateng

2 Mei 2026 - 15:09 WIB

Saat Soeharto Tak Ingin Menjadi Presiden

2 Mei 2026 - 14:30 WIB

May Day 2026 di Ungaran, Ahmad Luthfi Tegaskan Buruh Jadi Pilar Utama Ekonomi Jateng

2 Mei 2026 - 08:33 WIB

Ahmad Luthfi Gandeng TNI, Jateng Ubah Gunungan Sampah Jadi Energi Alternatif

2 Mei 2026 - 08:03 WIB

Pemprov Jateng Dukung Penuh Raperda Pelayanan Publik

2 Mei 2026 - 07:32 WIB

Trending di KABAR JATENG