Menu

Mode Gelap
 

Ekonomi & Bisnis

Banjir Ganggu Rute Trans Semarang, Antisipasi BLU dan Adaptasi BRT Listrik 2026

badge-check


					BUS KORIDOR 1: Koridor 1 Trans Semarang adalah salah satu koridor Trans Semarang yang melayani rute dari Mangkang yang berada di ujung barat Kota Semarang menuju Penggaron yang berada di ujung timur Kota Semarang | Foto: Wikipedia. Perbesar

BUS KORIDOR 1: Koridor 1 Trans Semarang adalah salah satu koridor Trans Semarang yang melayani rute dari Mangkang yang berada di ujung barat Kota Semarang menuju Penggaron yang berada di ujung timur Kota Semarang | Foto: Wikipedia.

SEMARANG, Kabarjateng.id – Genangan banjir sepekan di sejumlah titik seperti Kaligawe, Terboyo, dan Muktiharjo Kidul memaksa Badan Layanan Umum (BLU) UPTD Trans Semarang melakukan pengalihan rute sementara.

Langkah itu diambil untuk menjaga layanan transportasi publik tetap berjalan di tengah kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kota Semarang sejak Selasa, 21 Oktober 2025.

Kepala BLU UPTD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, S.STP., M.Si, dalam keterangan tertulis saat diwawancarai tim Kabarjateng.id menjelaskan sejumlah koridor mengalami penyesuaian akibat tingginya genangan air di jalur utama.

“Rute Trans Semarang Koridor 2, Koridor 7, dan Feeder 2 kami sesuaikan karena akses Kaligawe-Terboyo-Genuk tidak bisa dilalui armada,” ujarnya.

Sebagai langkah darurat, BLU Trans Semarang memindahkan sejumlah pool dan titik keberangkatan.

Pool Koridor 2 dari Terminal Terboyo sementara dialihkan ke Halte Raden Patah, Koridor 7 ke Halte Sedayu Tugu, serta Feeder 2 A, B, dan C ke Taman Bangetayu.

Sementara itu, Koridor 3 dan 4 yang semula beroperasi dari Pool Tantular dipindahkan ke Halte Layur.

“Perubahan ini agar layanan tetap berjalan maksimal meski beberapa titik masih tergenang,” lanjut Haris.

Menurutnya, pengalihan rute diberlakukan hingga jalur eksisting benar-benar aman dilalui.

Selain karena risiko rem tidak berfungsi akibat air, sistem kelistrikan pada armada juga berpotensi terganggu.

“Kami rutin melakukan evaluasi dan perawatan agar armada tidak rusak karena terendam air. Setiap tahun memang ada wilayah yang rawan banjir, jadi kami siapkan pola pengalihan dan pemindahan pool agar risiko bisa ditekan,” jelasnya.

Selama masa pengalihan, Trans Semarang memastikan penumpang tetap dapat naik-turun di halte yang masih beroperasi di jalur pengganti.

Untuk memudahkan pengguna jasa, BLU juga menyiapkan rambu sementara di titik-titik alternatif.

Trans Semarang aktif memberikan pembaruan informasi lewat media sosial resmi, aplikasi, serta layanan call center 0811-2884-447 dan 1500094.

Dampak banjir disebut menurunkan jumlah penumpang sekitar 5,29 persen.

Namun, BLU tidak menyiapkan kompensasi berupa penambahan armada, melainkan mengoptimalkan kendaraan yang ada agar distribusi layanan tetap merata.

“Rute alternatif memang lebih padat, karena masih menyatu dengan lalu lintas umum. Ini berpengaruh pada waktu tempuh yang jadi lebih panjang,” tutur Haris.

Koordinasi dengan Dinas Perhubungan, BPBD, dan kepolisian terus dilakukan guna memastikan rekayasa lalu lintas berjalan efektif di jalur utama Trans Semarang.

“Kami memiliki petugas lapangan dan pusat kontrol yang selalu berkoordinasi dengan instansi lain untuk memastikan kelancaran jalur BRT,” tambahnya.

Selain dampak banjir, BLU Trans Semarang juga tengah bersiap menghadapi program konversi bus listrik (BRT listrik) sesuai rencana pada Koridor 1 pada 2026.

Menurut Haris, rute Koridor 1 masih menggunakan jalur eksisting dengan beban penumpang yang tinggi.

Namun, kesiapan infrastruktur pengisian daya (charging station) masih perlu disesuaikan dengan kondisi topografi Semarang.

“Dari sisi ketersediaan lokasi cukup baik, tetapi kalau area charging berada di kawasan rendah yang rawan genangan air, tentu ada risiko teknis yang signifikan,” katanya.

Haris menambahkan, hasil evaluasi banjir menjadi bahan penting dalam perencanaan transportasi jangka panjang, meskipun perubahan rute permanen belum direncanakan.

“Rute eksisting tetap dipertahankan karena terhubung dengan simpul moda lain seperti Terminal Terboyo, Stasiun Tawang, Stasiun Poncol, dan Pelabuhan,” ungkapnya.

Terkait wacana pembangunan jalur tinggi (elevated) atau terminal tahan banjir di kawasan rawan seperti Kaligawe, Haris menyebut hal itu belum menjadi kajian di tingkat BLU.

“Kami fokus pada operasional. Pembangunan infrastruktur strategis itu kewenangan stakeholder terkait,” jelasnya.

Di akhir wawancara, Haris menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan layanan akibat kondisi cuaca.

“Kami optimalkan layanan armada Trans Semarang meskipun ada kendala lalu lintas dan genangan air. Mohon masyarakat tetap bersabar menunggu armada, dan terus pantau informasi resmi Trans Semarang,” ujarnya.

Ia berharap genangan air sejumlah wilayah segera surut secara keseluruhan agar layanan Trans Semarang kembali normal serta aktivitas warga tidak terganggu. (why)

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Uang Rp208 Juta dan Laptop Dicuri dari Mobil Warga Kudus, Polisi Lakukan Penyelidikan

8 September 2026 - 13:51 WIB

Maulid Nabi di Guworejo, Kasdim Sragen Tekankan Pentingnya Gotong Royong

8 September 2026 - 13:26 WIB

Anak Asal Salatiga Ditemukan di Bandung, Keluarga Evin Apresiasi Respons Cepat Polda Jateng

8 September 2026 - 11:49 WIB

Jaga Situasi Tetap Kondusif, Koramil Kismantoro Patroli Bersama Linmas

8 September 2026 - 10:55 WIB

Sindhu Laras Bocah Buktikan Seni Tradisional Tetap Diminati Generasi Muda

8 September 2026 - 10:40 WIB

Cegah Gangguan Kamtibmas, Polres Demak Sita 470 Botol Miras

8 September 2026 - 10:08 WIB

Trending di Daerah