JAKARTA, Kabarjateng.id – BMKG resmi merilis 10 Gempa Bumi Nasional terjadi dalam semalam, mulai pukul 00:18:50 hingga 01:21:40 WIB pada Jumat, 6 Februari 2026.
Rangkaian 10 Gempa Bumi Nasional terjadi pada wilayah Indonesia dan terasa hingga Semarang, Jawa Tengah.
Hal itu memicu perhatian luas dari masyarakat Nasional, khususnya warga Semarang serta wilayah Jawa Tengah.
Sejumlah warga Semarang melaporkan getaran Gempa Bumi terasa pada tengah malam.
Getaran Gempa Bumi Nasional mencakup kawasan Semarang Raya, meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kendal, dan Demak.
Dampak Gempa Bumi Nasional ini terasa cukup luas.
Sehingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat Semarang, mengingat frekuensi Gempa Bumi terjadi beruntun dalam waktu singkat.
Salah satu reaksi publik muncul melalui media sosial.
Akun Instagram kendalinfo.id mengunggah laporan tentang dampak Gempa Bumi Nasional hampir merata se-Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah dan Semarang Raya.
“Ya Allah, kok iso hampir sak Jawa Tengah ya dampak e,” tulis akun itu dalam unggahan yang ramai mendapat perhatian warganet.
Unggahan, mencerminkan keresahan warga Semarang dan daerah sekitar yang merasakan getaran Gempa Bumi Nasional waktu tengah malam.
Banyak warga sekitar Semarang mengaku bangun dari tidur akibat getaran terasa, meski tidak ada laporan kerusakan besar dan korban jiwa.
Keterangan Resmi BMKG
Di sisi lain, BMKG melalui Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG memberi keterangan resmi pada 6 Februari 2026 di Jakarta.
Yakni terkait salah satu Gempa Bumi Nasional, gempa tektonik yang mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur.
“Pada hari Jumat, 06 Februari 2026 pukul 01.06.10 WIB wilayah Pacitan, Jawa Timur ada guncangan gempa tektonik,” jelas BMKG dalam pernyataan resmi.
BMKG menyebut bahwa Gempa Bumi Nasional ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,2, yang signifikan dalam skala Nasional ke berbagai wilayah.
“Episenter gempabumi terletak pada koordinat 8,98° LS dan 111,18° BT, atau tepatnya lokasi laut jarak 89 kilometer arah Tenggara Kota Pacitan, Jawa Timur pada kedalaman 58 kilometer,” lanjut BMKG.
Berdasarkan lokasi episenter, kedalaman hiposenternya, BMKG menjelaskan bahwa Gempa Bumi Nasional itu merupakan jenis Gempa Bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng,” tulis BMKG.
BMKG juga mengungkapkan mekanisme sumber Gempa Bumi Nasional.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault,” jelas BMKG.
Mengenai dampak Gempa Bumi Nasional, BMKG merinci skala intensitas berbagai wilayah.
“Gempa bumi daerah Bantul, Sleman, dan Pacitan dengan skala intensitas IV MMI,” tulis BMKG dalam keterangan resmi.
BMKG menambahkan bahwa sejumlah daerah lain merasakan intensitas III MMI, meliputi Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Cirebon, Blitar, Surakarta, Karanganyar, Magelang, Jombang, Tulungagung, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, Wonosobo, dan Banjarnegara.
Dampak Gempa Bumi Nasional juga sekitar Jawa Tengah, meski dengan intensitas lebih ringan.
Untuk wilayah Tuban dan Jepara, BMKG mencatat intensitas II MMI denga intentisas getaran oleh beberapa orang melihat benda ringan sedikit goyang.
Warga Semarang juga melaporkan adanya getaran ringan akibat Gempa Bumi Nasional itu.
Tidak Ada Potensi Tsunami
BMKG menegaskan bahwa Gempa Bumi Nasional ini tidak menimbulkan ancaman tsunami.
“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak ada potensi tsunami,” tegas BMKG.
Selain itu, BMKG menyampaikan hasil pemantauan terkait potensi Gempa Bumi susulan.
“Hingga pukul 01.35 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan atau aftershock,” ungkap BMKG.
Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat Semarang, Jawa Tengah, dan wilayah Nasional lain untuk tetap waspada.
“Pastikan informasi resmi sumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi terverifikasi,” imbau BMKG.
BMKG juga mengingatkan potensi perubahan data Gempa Bumi Nasional pada menit-menit awal setelah kejadian.
“Dalam beberapa menit pertama setelah gempa bumi, parameter gempa bumi dapat berubah dan boleh jadi belum akurat, kecuali telah direvisi atau dianalisis ulang oleh ahli seismologi,” tulis BMKG.
Dalam tayangan real time BMKG, tercatat 10 Gempa Bumi Nasional teratas yang terjadi pada 6 Februari 2026 di berbagai wilayah Indonesia.
Rangkaian Gempa Bumi meliputi wilayah Java, Flores Sea, Sulawesi, dan Sumbawa, dengan magnitudo berkisar antara 2,1 hingga 5,9.
Mayoritas Gempa Bumi Nasional terjadi di kawasan Java, sehingga dampaknya terasa hingga Jawa Tengah dan Semarang.
Kesiapsiagaan Pemerintah
Kondisi ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah untuk masyarakat Semarang menghadapi potensi Gempa Bumi masa mendatang.
Bagi warga Semarang, peristiwa Gempa Bumi Nasional ini menjadi pengingat.
Yakni, akan pentingnya edukasi mitigasi bencana, penguatan bangunan tahan Gempa Bumi, serta kesiapan evakuasi darurat.
Pemerintah daerah Semarang dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah perlu memperkuat sistem penanggulangan Gempa Bumi.
Hal ini menuntut perhatian serius dari pemerintah Nasional dan pemerintah Jawa Tengah, khususnya Semarang, memperkuat sistem peringatan dini hingga respons darurat.
Dengan adanya 10 Gempa Bumi Nasional dalam semalam, masyarakat Semarang diimbau tetap tenang.
Namun tetap waspada, serta tidak terpengaruh informasi belum terverifikasi.
Gempa Bumi Nasional ini menjadi momentum penting memperkuat kesiapsiagaan Semarang, Jawa Tengah, dan seluruh wilayah Nasional Indonesia.
Tim Editor: Wahyu Hamijaya







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.