JAKARTA, Kabarjateng.id – Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali tegaskan dukungan kebijakan pembatasan dan pelarangan Kembang Api pada perayaan Tahun Baru sejumlah daerah.
Sikap PSI ini sebagai langkah etis dan orientasi kemanusiaan, saat kondisi bangsa yang masih suasana duka akibat bencana alam beberapa wilayah, yakni Sumatera dan Aceh.
Menurut Ahmad Ali, kebijakan pembatasan Kembang Api bukan membatasi kegembiraan masyarakat menyambut tahun baru, melainkan perayaan agar lebih memiliki makna.
PSI, kata Ahmad Ali, memandang bahwa empati sosial harus menjadi ruh utama setiap momentum nasional, khususnya tahun baru.
“Tahun Baru seharusnya tidak hanya dengan sorak dan cahaya kembang api, tetapi keheningan hati dan kepedulian,” ujarnya, melansir dari portal resmi PSI.
Menurut Ahmad Ali, saat sebagian masih memulihkan hidup pascabencana, empati adalah bentuk perayaan yang paling memiliki makna.
Lebih lanjut, Ahmad Ali tegaskan bahwa PSI secara konsisten mendorong budaya perayaan tahun baru lebih reflektif.
Pembatasan kembang api, menurut PSI, juga penting dari sisi keselamatan publik.
Mengingat potensi risiko kebakaran dan gangguan keamanan kerap muncul setiap tahun baru.
Ajak Doa Bersama
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Ali mengajak masyarakat untuk mengisi malam tahun baru dengan doa bersama.
Ajakan ini disampaikan PSI sebagai bentuk kepedulian spiritual dan sosial, agar pergantian tahun baru menjadi momentum introspeksi nasional.
“Mari kita tundukkan kepala, bukan menyalakan kembang api. Kita mohon kepada Allah SWT agar bangsa ini dijauhkan dari perpecahan, diberikan ketenangan, serta dikuatkan menghadapi tantangan ke depan,” tegas Ahmad Ali.
Menurut Ahmad Ali, doa bersama di malam tahun baru juga menjadi sarana memperkuat solidaritas kebangsaan.
PSI menilai bahwa nilai persatuan dan kepedulian sosial harus terus dirawat, terutama ketika bangsa menghadapi ujian berat akibat bencana alam.
Secara khusus, Ahmad Ali menyoroti pentingnya doa dan dukungan nyata bagi masyarakat terdampak bencana di Sumatera dan Aceh.
PSI mendorong agar penanganan pascabencana tidak hanya bersifat darurat, tetapi berkelanjutan.
“Negara harus hadir bukan hanya saat kamera menyala. PSI ingin memastikan pemulihan berjalan jangka panjang, rumah dibangun kembali, mata pencaharian pulih, dan masyarakat bangkit dengan martabat,” jelas Ahmad Ali.
Dukungan PSI terhadap pembatasan kembang api juga sejalan dengan upaya aparat dan pemerintah daerah menjaga ketertiban selama tahun baru.
PSI menilai langkah ini sebagai bagian dari edukasi publik untuk membangun tradisi tahun baru yang lebih aman dan beradab.
Menutup pernyataannya, Ahmad Ali berharap tahun baru menjadi titik awal perubahan sikap kolektif bangsa.
PSI, kata Ahmad Ali, optimistis bahwa dengan doa, empati, dan kerja nyata, Indonesia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih damai.
“Tahun Baru adalah momentum memperbaiki niat. PSI berharap 2026 menjadi tahun kedamaian, persatuan, dan kerja nyata untuk rakyat Indonesia,” pungkas Ahmad Ali.
Editor: Wahyu Hamijaya







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.