MAGELANG, Kabarjateng.id – Gelaran Bank Jateng Borobudur Marathon (BJBM) 2025 kembali menjadi magnet sport tourism di Jawa Tengah. Lomba lari berskala internasional yang berlangsung pada Ahad, 16 November 2025 itu diikuti 11.500 pelari dari 38 negara dan sukses terlaksana di Kabupaten Magelang.
Tahun ini, BJBM telah mengantongi predikat Elite Label dari World Olympic, yang semakin menguatkan reputasinya sebagai salah satu marathon bergengsi di Indonesia.
Selain menampilkan kompetisi atletik kelas dunia, ajang ini juga memberi dampak langsung terhadap perekonomian daerah.
Sektor penginapan, transportasi, hingga pelaku UMKM merasakan peningkatan signifikan pada omzet dan kunjungan selama penyelenggaraan berlangsung.
Salah satu peserta, Saut Sitorus (60) asal Bandung, mengatakan bahwa tahun ini merupakan keikutsertaannya yang keempat.
Meski sudah memasuki usia lanjut, ia justru semakin bersemangat berlari. Pada edisi 2025, ia menuntaskan kategori marathon 42 kilometer dengan waktu sekitar lima jam.
“Setiap hari saya latihan minimal dua kilometer untuk menjaga stamina. Persiapan ini juga saya manfaatkan untuk mengikuti event lari lainnya,” ujarnya.
Ia menilai penyelenggaraan tahun ini semakin baik, terutama dari sisi lintasan yang dianggap lebih mulus dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Saut pertama kali mengikuti Borobudur Marathon sebelum pandemi Covid-19, dan kembali ambil bagian tiga tahun berturut-turut setelah pandemi mereda.
Dengan status Elite Label yang kini disandang, ia berharap penyelenggaraan selanjutnya akan semakin profesional, terutama dalam hal sterilisasi jalur dari lalu lintas kendaraan.
Tak hanya peserta, pelaku usaha lokal pun turut merasakan berkahnya. Unfa Agustia (33), pengelola Homestay Sandyakala di Dusun Brongkol, Desa Tanjungsari, mengaku momentum BJBM selalu membawa manfaat besar bagi bisnisnya.
“Kami senang, karena event seperti ini benar-benar mendongkrak pendapatan. Permintaan kamar selalu meningkat setiap menjelang penyelenggaraan,” katanya.
Ia bercerita bahwa pada 2023, ketika pembangunan homestay masih setengah selesai, pesanan kamar justru sudah masuk hingga enam bulan sebelumnya.
Hal itu membuat pihaknya mempercepat penyelesaian pembangunan agar siap menerima tamu saat event berlangsung.
Sejak berdiri, Homestay Sandyakala telah mendampingi tiga edisi Borobudur Marathon hingga 2025. Menurut Unfa, antusiasme masyarakat juga selalu tinggi.
Banyak warga yang turun langsung memberikan dukungan kepada pelari sejak pagi hari, bahkan berharap event semacam ini bisa diadakan lebih dari sekali dalam setahun.
Dari sisi penyelenggara, Direktur Utama Bank Jateng, Irianto Harko Saputro, menjelaskan bahwa BJBM juga menjadi wadah promosi bagi puluhan UMKM melalui program Bank Jateng Pawone dan Berdikari.
Sebanyak 46 UMKM Berdikari dan 20 UMKM Pawone terlibat untuk memasarkan produk kuliner, kerajinan, hingga fesyen.
“Tujuannya agar manfaat BJBM tidak hanya dirasakan pelari, tetapi juga masyarakat Jawa Tengah, khususnya di Magelang,” ujarnya.
Irianto menambahkan, jelang satu dekade penyelenggaraan Borobudur Marathon, kolaborasi lintas sektor menjadi semakin kuat.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemkab Magelang, Yayasan Borobudur Marathon, Harian Kompas, sponsor, komunitas pelari, dan masyarakat setempat terus bergandengan tangan demi memperbesar dampak ekonomi dan pariwisata.
“Setiap langkah para pelari bukan hanya soal olahraga, tetapi menjadi bagian dari perputaran ekonomi yang menghidupkan Jawa Tengah,” pungkasnya. (can)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.