JAKARTA, Kabarjateng.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada perdagangan Rabu (21/1) sore.
IHSG turun 113 poin atau sekitar 1,2% ke level 9.011, setelah sebelumnya mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Koreksi IHSG ini terjadi seiring investor melakukan aksi ambil untung setelah reli panjang yang membawa IHSG menembus rekor baru dalam beberapa sesi terakhir.
Menurut Analis Trading Economics, Farida Husna, pelemahan IHSG masih tergolong wajar mengingat tekanan teknikal pasca-rekor yang baru dicapai.
“IHSG mengalami koreksi sehat setelah menyentuh rekor tertinggi, di mana investor cenderung merealisasikan keuntungan pada saham yang sebelumnya menguat signifikan,” ujarnya, dilansir dari Trading Economics, Rabu (21/1).
Ia melihat bahwa tekanan IHSG juga datang dari memburuknya sentimen domestik.
Pasar saham pun merespons kebijakan Presiden Prabowo yang mencabut izin 28 perusahaan di sektor kehutanan, kelapa sawit, kakao, pembangkit listrik, dan pertambangan.
Kebijakan tersebut, menurut Farida Husna, diambil akibat pelanggaran lingkungan yang dikaitkan dengan banjir besar di Sumatra tahun lalu, sehingga memicu kekhawatiran terhadap prospek saham berbasis sumber daya alam.
Farida Husna juga menilai keputusan tersebut memberi dampak langsung terhadap persepsi risiko di pasar saham.
“Langkah pemerintah menambah tekanan jangka pendek pada IHSG, terutama pada saham sektor komoditas dan industri terkait, meski tujuannya memperkuat tata kelola lingkungan,” katanya.
Selain itu, kerugian saham terjadi secara luas dan menekan IHSG, terutama pada sektor properti, keuangan, dan infrastruktur.
Lebih lanjut Farida menerangkan saham United Tractors anjlok hampir 15% setelah unit usahanya, Agincourt, yang mengoperasikan tambang emas dan perak Martabe, termasuk perusahaan yang terdampak kebijakan tersebut.
“Penurunan saham United Tractors turut menyeret IHSG lebih dalam atas level rekor sebelumnya,” paparnya.
Sementara itu, saham Astra International turun 11,3% karena kepemilikannya di United Tractors, sedangkan saham Toba Pulp Lestari melemah 0,8% seiring upaya perusahaan mencari klarifikasi atas kebijakan pemerintah.
Tekanan saham-saham besar ini, sambung Farida, membuat IHSG gagal bertahan di dekat rekor.
Di sisi eksternal, pemulihan moderat untuk futures AS membantu menahan penurunan rekor IHSG agar tidak lebih dalam.
Investor global bahkan dinilai mencermati pidato Presiden Trump di Forum Ekonomi Dunia di Davos sebagai acuan arah rekor pasar saham global setelah rekor-rekor baru tercapai di sejumlah bursa utama.
Selain itu, pelaku pasar saham juga menantikan keputusan kebijakan Bank Indonesia.
“Pasar memperkirakan suku bunga acuan akan tetap tidak berubah untuk bulan keempat berturut-turut, yang berpotensi menjaga stabilitas IHSG usai koreksi dari rekor,” pungkas Farida.
Sebagai penutup, Farida Husna memprediksi kombinasi faktor pasar domestik-global, bahwa pergerakan IHSG ke depan diperkirakan masih fluktuatif, sementara saham akan terus mencermati arah kebijakan hingga sentimen risiko.
Tim Editor: Wahyu Hamijaya







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.