SEMARANG, Kabarjateng.id – Dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Semarang berkolaborasi dengan Pepadi Jawa Tengah menggelar Pagelaran Wayang kulit di Kampung Budaya, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Unnes, Sabtu (15/11/2025) siang.
Acara juga menjadi momentum mengenang haul ke-40 Ki Nartosabdo, sekaligus menguatkan tradisi pedalangan bagi generasi muda di wilayah Semarang dan Jawa Tengah.
Pagelaran yang berlangsung di lingkungan kampus Unnes ini, dihadiri anggota DPRD Jateng, perwakilan FBS Unnes, pengurus Pepadi Kota Semarang, Pepadi Jawa Tengah, serta perwakilan Disbudpar Kota Semarang.
Seluruh unsur hadir memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya yang terus digencarkan di Kota Semarang.
Ketua Pepadi Kota Semarang, Dr. H. Anang Budi Utomo, SMn., M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya menjaga keberlanjutan budaya pedalangan.
“Kegiatan ini menguri-uri budaya wayang kulit sekaligus kegiatan kolaborasi antara Pepadi, FBS Unnes, Disbudpar Jawa Tengah dan Kota Semarang. Dan rencana nanti akan ada kegiatan pagelaran Hari Gamelan Nasional pada Desember 2025 ini. Semoga uri-uri budaya di Kota Semarang, Jawa Tengah dapat membawa prestasi seni pedalangan semakin tumbuh, inovatif, kreatif dan berkembang sepanjang masa,” ujar Anang Budi Utomo.
Pada kesempatan sela acara, ketika diwawancarai awak media, Anang Budi Utomo menambahkan sejumlah penjelasan langsung mengenai rangkaian kegiatan Pepadi pada Hari Wayang Nasional.
“Pertama, kemarin kita hadir di Simpang Lima memperingati Hari Wayang Nasional ke-7 di tahun 2025. Yang kedua, ini tanggal 15, kita berkolaborasi dengan Pepadi provinsi dengan pagelaran wayang kulit di Unnes ini, sekaligus mengapresiasi Danendra yang juara festival dalang anak tingkat nasional,” jelasnya.

Acara talk show dalam rangkaian Pagelaran Wayang Kulit Pepadi, siaran langsung di Unnes TV. (Foto: Wahyu Hamijaya)
Mengenai haul dan penghargaan tokoh pedalangan, Anang juga menyampaikan peran Ki Nartosabdo mengembangkan seni pedalangan.
“Dan sekaligus ini adalah peringatan haul ke-40 Kinarto Sabdo, 100 tahun mengenang beliau. Peran Ki Nartosabdo dalam pengembangan seni pedalangan terutama wayang kulit ini sangat patut kita apresiasi,” ungkap Anang.
Ia juga menyinggung tantangan Pepadi terkait pelestarian wayang di era digital.
“Sekarang kan Gen Z sudah agak asing. Kalau tidak kita tutupi dengan kegiatan seperti ini, nanti bisa terkubur budaya luhur,” imbuhnya.
Pagelaran Wayang di FBS Unnes turut menghadirkan penampilan dalang cilik Danendra Dananjaya, putra daerah Semarang yang meraih Juara 1 Kelompok A pada Festival Dalang Anak Nasional 2025.
Hadiah utama diserahkan langsung oleh Menko PMK, Pratikno, turut memberikan mengapresiasi prestasi Danendra sebagai talenta muda pedalangan dari Kota Semarang.
Selain pertunjukan, sesi talk show turut digelar menghadirkan Ketua Pepadi Kota Semarang, Disbudpar Kota Semarang, dan pelatih dalang anak.
Diskusi tersebut menyoroti upaya menguatkan regenerasi pedalangan di Kota Semarang, termasuk peran sanggar, adaptasi era digital, dan pengembangan ruang publik budaya di Kota Semarang.
Dalam kesempatan itu, Anang turut menegaskan rencana penguatan kegiatan rutin pedalangan yang sudah ada di Kota Semarang.
“Setiap Jumat Kliwon di TBRS pasti ada pentas wayang. Lalu Wayang Orang Pandowo tiap malam Minggu, dan nanti ada Wayang on The Street. Tahun 2026 juga kita anggarkan agar pagelaran wayang bisa masuk kampung-kampung di Semarang,” terangnya.
Dengan berbagai rangkaian kegiatan tersebut, Pepadi optimistis seni pedalangan akan terus berkembang di Kota Semarang, memperkuat identitas budaya wayang kota sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian Pagelaran Wayang.
Editor: Wahyu Hamijaya







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.