Menu

Mode Gelap
 

Kabar Salatiga · 19 Jan 2026 14:36 WIB

Pawai Ta’aruf Pesantren Sunan Giri Salatiga Angkat Kekayaan Budaya Nusantara


					Pawai Ta’aruf Pesantren Sunan Giri Salatiga Angkat Kekayaan Budaya Nusantara Perbesar

SALATIGA, Kabarjateng.id – Pondok Pesantren Sunan Giri yang berlokasi di Desa Krasak Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga kembali menggelar pawai ta’aruf menjelang penutupan tahun pembelajaran atau akhirus sanah.

Pada pelaksanaan tahun ini, pawai dikemas dengan mengusung tema kebudayaan Nusantara sebagai bentuk syiar sekaligus edukasi kepada masyarakat.

Ribuan santri tampak berbaris rapi mengikuti pawai dengan mengenakan beragam kostum khas daerah.

Setiap rombongan menampilkan konsep yang berbeda, mencerminkan kekayaan budaya Indonesia.

Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah rombongan santri yang mengenakan atribut Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), lengkap dengan pengibaran Sang Merah Putih di barisan terdepan.

Selain itu, sejumlah santri tampil mengenakan busana adat Jawa dengan membawa gunungan, menyerupai prosesi adat panen raya.

Tak ketinggalan, penampilan barongan serta berbagai kostum tradisional lainnya turut memeriahkan suasana, menjadikan pawai layaknya perhelatan budaya rakyat.

Meski cuaca cukup terik pada Ahad pagi (18/1/2026), semangat para santri tidak surut.

Antusiasme warga yang memadati sepanjang rute pawai pun terlihat tinggi, terlebih setelah beberapa hari sebelumnya wilayah Salatiga diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi.

Keunikan pawai semakin terasa karena setiap rombongan menggunakan alat musik tradisional yang berbeda-beda. Iringan musik tersebut menciptakan suasana khas, menyerupai upacara adat yang sarat makna dan nilai tradisi.

Ketua Panitia, Muhammad Khoirul Umam, menjelaskan bahwa tema

“Merawat Keberagaman Budaya di Kota Toleransi” sengaja dipilih sebagai respons atas derasnya pengaruh globalisasi.

Menurutnya, generasi muda saat ini cenderung lebih dekat dengan budaya luar yang mudah diakses melalui gawai dan media digital, sementara budaya bangsa sendiri mulai terpinggirkan.

“Santri memiliki tanggung jawab moral untuk mengenal, menjaga, dan memperkenalkan kebudayaan bangsa kepada masyarakat,” ungkap Umam.

Ia menambahkan, pesantren memiliki peran strategis sebagai benteng budaya, bukan dengan menutup diri dari pengaruh luar, tetapi dengan menyaring dan mengolahnya agar selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa.

Hal ini sejalan dengan karakter Kota Salatiga yang dikenal sebagai Kota Toleransi, tempat bertemunya berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya dalam kehidupan yang harmonis.

Kampanye Peduli Lingkungan
Pesantren Sunan Giri yang diasuh oleh KH Maslihuddin Yazid, tokoh Jam’iyyah Ahlut Thariqah Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN), awalnya hanya menyelenggarakan pendidikan madrasah diniyah.

Namun seiring perkembangan zaman, pesantren ini kini juga mengelola pendidikan formal.

Sebagai lembaga pendidikan yang menaungi ribuan santri, Pesantren Sunan Giri turut menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.

Hal ini diwujudkan melalui penampilan drumblek, sebuah seni musik kreatif yang memanfaatkan barang-barang bekas sebagai alat musik.

Penampilan drumblek tersebut berhasil menarik perhatian masyarakat. Para santri ingin menyampaikan pesan bahwa sampah tidak selalu harus dibuang, melainkan dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat.

Melalui aksi ini, pesantren menegaskan bahwa keterbatasan sarana bukan penghalang bagi kreativitas.

Santri juga diajarkan bahwa meskipun fokus utama mereka adalah mendalami ilmu agama, ruang untuk berkesenian dan berinovasi tetap terbuka lebar.

Lebih jauh, pawai ta’aruf ini menjadi penegasan bahwa santri tidak hanya berkutat pada kajian kitab dan gramatika bahasa Arab.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia tetap adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan akar tradisi dan nilai spiritualitas.

“Di Pesantren Sunan Giri, seni dan agama berjalan beriringan. Kesenian menjadi bagian dari dakwah, menyampaikan pesan kebaikan secara lembut dan membumi,” tutur Umam.

Ia berharap pawai ta’aruf akhirus sanah ini dapat mengajak masyarakat untuk terus mencintai budaya Nusantara sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan demi masa depan yang berkelanjutan. (arh)

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Publisher

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Selama 2 Pekan, Polres Jepara Ungkap 24 Kasus Prostitusi dan Amankan 41 Orang

11 Maret 2026 - 19:33 WIB

Diduga Korsleting Listrik, Mobil Terbakar di Garasi Rumah Warga Delanggu

11 Maret 2026 - 19:13 WIB

Polda Jateng Matangkan Pengamanan Lebaran Lewat Lat Pra Ops Ketupat Candi 2026

11 Maret 2026 - 18:49 WIB

Gubernur Luthfi Tinjau Longsor Cilibur, Warga Desak Percepatan Perbaikan Jalan Penghubung

11 Maret 2026 - 17:59 WIB

Gubernur Jateng Tinjau Longsor di Cilibur Brebes, Perbaikan Jalan dan Sekolah Dipercepat

11 Maret 2026 - 17:39 WIB

Sambut Angkutan Lebaran 2026, Bandara Ahmad Yani Perkuat Kesiapan Fasilitas dan Layanan Penumpang 

11 Maret 2026 - 17:13 WIB

Trending di KABAR JATENG