Menu

Mode Gelap
 

Kabar Brebes · 14 Mar 2026 12:24 WIB

Festival Tukar Takir SMAN 1 Paguyangan, Tradisi Ramadan yang Menguatkan Budaya dan Kebersamaan


					Festival Tukar Takir SMAN 1 Paguyangan, Tradisi Ramadan yang Menguatkan Budaya dan Kebersamaan Perbesar

BREBES, Kabarjateng.id – SMAN 1 Paguyangan, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, menggelar Festival Tukar Takir bertema “Ajining Diri Seko Takir (Nata Pikir)” pada Jumat (13/3/2026).

Kegiatan di halaman sekolah ini menjadi ruang bagi siswa, guru, dan masyarakat untuk merawat tradisi lokal sekaligus mempererat kebersamaan di bulan suci Ramadan.

Festival yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa menghadirkan suasana religius yang berpadu dengan nuansa budaya daerah.

Ratusan siswa, tenaga pendidik, serta warga sekitar memenuhi area sekolah untuk mengikuti rangkaian kegiatan ngabuburit yang sarat nilai edukasi dan kearifan lokal.

Berbagai pertunjukan turut memeriahkan acara, mulai dari pentas seni tradisional, hadroh, qasidah, live musik religi.

Selanjutnya, penampilan Sanggar Andaka, hingga tausiyah keagamaan yang menyampaikan pesan moral dan spiritual kepada para peserta.

Tradisi Tukar Takir Jadi Simbol Kepedulian Sosial

Tradisi tukar takir menjadi inti kegiatan festival.

Dalam tradisi ini, para peserta saling berbagi makanan berbuka puasa yang terbungkus daun pisang.

Kegiatan tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial yang telah lama hidup di masyarakat Brebes bagian selatan.

Kepala SMAN 1 Paguyangan, Yuniarso Amirudin, S.Pd., M.Si., menjelaskan bahwa festival tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menanamkan nilai budaya sekaligus membangun karakter peserta didik.

Menurutnya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal serta menjaga warisan budaya daerah.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kita harus menghormati serta merawat budaya yang hidup di tengah masyarakat. Tradisi tukar takir merupakan kearifan lokal masyarakat Brebes bagian selatan yang perlu terus kita jaga bersama,” ungkapnya.

Filosofi Takir: Alam, Persatuan, dan Kebersamaan

Ia menambahkan, tradisi tukar takir secara sederhana merupakan kegiatan berbagi makanan menjelang berbuka puasa yang terbungkus daun pisang dan terikat lidi.

Meski demikian, walau terlihat sederhana, tradisi tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam.

Selanjutnya, daun pisang sebagai pembungkus melambangkan hubungan manusia dengan alam sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Sementara itu, lidi sebagai pengikat menjadi simbol kuatnya persatuan dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.

“Ketika daun pisang terikat dengan lidi, maknanya adalah persatuan. Ikatan yang kuat membuat semuanya tetap menyatu. Filosofi ini mengajarkan bahwa kebersamaan harus terus kita jaga dalam kehidupan sosial,” jelasnya.

Ramadan Momentum Menata Pikiran dan Kepedulian

Tema “Ajining Diri Seko Takir (Nata Pikir)” mengandung pesan agar setiap individu mampu menata pikiran dan hati selama menjalani ibadah di bulan Ramadan.

Menurut Yuniarso, Ramadan menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama.

“Ramadan mengajarkan kita menata pikiran, memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta meningkatkan empati sosial.

Nilai-nilai itulah yang ingin kami tanamkan melalui kegiatan ini,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan tukar takir tidak sekadar menjadi ajang berbagi makanan untuk berbuka puasa, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran sosial bagi para siswa agar memahami pentingnya solidaritas dan kebersamaan.

Harapan Menjaga Tradisi di Tengah Perkembangan Zaman

Melalui kegiatan ini, sekolah berharap generasi muda mampu menjaga identitas budaya sekaligus menumbuhkan sikap saling peduli dalam kehidupan bermasyarakat.

Di akhir acara, Yuniarso berharap Festival Tukar Takir membawa keberkahan sekaligus mempererat hubungan antara warga sekolah dengan masyarakat sekitar.

Antusiasme para peserta menunjukkan bahwa tradisi lokal tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

Kegiatan ini juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai budaya dan kebersamaan di tengah perkembangan zaman. (wb)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Pekerja Informal Terima Bantuan Beras Jelang Lebaran dari Pemprov Jateng

14 Maret 2026 - 13:36 WIB

Arus Kendaraan Mulai Meningkat di Tol Ungaran pada Hari Kedua Ops Ketupat Candi 2026

14 Maret 2026 - 13:20 WIB

Operasi Ketupat Candi 2026, Polda Jateng Batasi Kendaraan Sumbu Tiga di Sejumlah Titik Kota Semarang

14 Maret 2026 - 12:58 WIB

Bus Pariwisata Arah Guci Dihimbau Tidak Melintasi Jalur Clirit, dan Dialihkan ke Jalur Pemalang

14 Maret 2026 - 12:32 WIB

Bandara Ahmad Yani Semarang Salurkan 1.000 Paket Sembako di Bulan Ramadan

14 Maret 2026 - 10:34 WIB

Basarnas Semarang Dirikan Posko Siaga SAR Lebaran 2026, Tim Rescue Siaga 24 Jam di GT Kalikangkung

14 Maret 2026 - 09:42 WIB

Trending di KABAR JATENG