BATANG, Kabarjateng.id – Semangat pengabdian Nahdlatul Ulama kepada bangsa kembali ditegaskan melalui Apel Kemanusiaan yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah di Alun-alun Kabupaten Batang, Ahad (1/2/2026).
Kegiatan ini tetap berlangsung khidmat meski hujan rintik mengguyur sejak awal acara.
Ribuan relawan NU Peduli Bencana bersama kader muda NU dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah tetap berdiri tegap mengikuti seluruh rangkaian apel.
Hujan yang turun tidak menyurutkan semangat peserta untuk menunjukkan loyalitas dan kesiapsiagaan dalam melayani umat dan masyarakat.
Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, yang bertindak sebagai pembina apel, mengajak seluruh peserta melakukan refleksi atas perjalanan panjang NU yang telah menembus usia satu abad.
Menurutnya, ketangguhan NU dalam menghadapi berbagai tantangan zaman menjadi bukti bahwa organisasi ini selalu hadir untuk bangsa.
“Cuaca hari ini bisa dimaknai sebagai simulasi kecil dari ujian zaman. Hujan ini menguji keteguhan kita untuk tetap setia berkhidmah, meskipun situasi tidak selalu ideal,” ujar Gus Rozin dalam amanatnya.
Ia menambahkan, ketahanan peserta dalam mengikuti apel hingga tuntas di tengah hujan menjadi simbol optimisme bahwa NU akan tetap eksis dan relevan hingga 100 tahun ke depan.
Hal ini dinilai penting, terutama bagi Jawa Tengah yang dikenal sebagai wilayah rawan bencana alam.
Dengan mengusung tema “Mengabdi dengan Hati, Melayani Aksi”, apel tersebut menegaskan komitmen NU untuk tidak pernah absen ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
Salah satu bentuk nyata pengabdian itu ditunjukkan melalui kiprah Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PWNU Jateng yang hingga kini masih aktif membantu penanganan bencana, mulai dari wilayah Purbalingga hingga Aceh.
Memasuki abad kedua, Gus Rozin menekankan pentingnya transformasi NU dari sekadar kebanggaan pada besarnya jumlah jamaah menuju penguatan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, kuantitas tanpa diiringi kapasitas dan profesionalitas tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan masa depan.
“Kita tidak bisa lagi hanya berbangga pada jumlah yang besar. Ke depan, yang menentukan adalah kemampuan, keahlian, dan profesionalitas kader-kader NU,” tegasnya.
Di akhir amanat, ia mengajak seluruh badan otonom dan lembaga di lingkungan NU untuk bersatu padu membangun organisasi yang lebih solid dan profesional, sebagai bagian dari proses “metamorfosis” NU di abad kedua.
Apel Kemanusiaan diawali dengan penampilan marching band serta atraksi pencak silat dari para pendekar muda Pagar Nusa Batang.
Aksi tersebut sukses menarik perhatian masyarakat yang memadati area alun-alun.
Menanggapi atraksi tersebut, Gus Rozin berpesan bahwa kemampuan bela diri yang dimiliki kader Pagar Nusa bukan untuk mencari konflik, melainkan sebagai simbol ketangguhan mental dan kesiapan menghadapi tantangan zaman.
“Pagar Nusa tidak untuk berkelahi. Namun jika harus menghadapi tantangan, jangan sampai kalah. Ini adalah simbol kekuatan mental warga Nahdliyin dalam menapaki abad kedua NU,” pungkasnya. (arh)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.