SEMARANG, Kabarjateng.id – Genangan banjir yang melanda kawasan Kaligawe, Kota Semarang, selama sembilan hari terakhir meninggalkan banyak kisah pilu. Salah satunya dialami Dul Harsono (57), penjaga WC umum di Pasar Waru, Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari.
Pria yang akrab disapa Bugis itu terjebak banjir sendirian tanpa logistik memadai, sementara kondisinya tengah sakit akibat stroke yang dideritanya.
Pasar Waru menjadi salah satu titik yang paling lama terendam air. Aktivitas perdagangan lumpuh, banyak pedagang memilih mengevakuasi diri, namun tidak demikian dengan Bugis.
Ia tetap tinggal di bilik kecil dekat area pembuangan sampah pasar, tempatnya biasa bekerja menjaga WC umum. Dengan tubuh lemah dan bertumpu pada tongkat, ia memilih bertahan sambil berharap air segera surut.
Bantuan akhirnya datang dari tim NU Peduli yang dikoordinasikan oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PCNU Kota Semarang.
Para relawan menembus banjir menggunakan sepeda motor hingga depan pasar, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju lokasi Bugis.
Mereka membawa paket logistik berupa makanan siap saji, air minum, serta sejumlah kebutuhan dasar lainnya.
Kondisi di sekitar pasar tampak memprihatinkan. Air setinggi betis orang dewasa masih menggenang di antara kios-kios yang tertutup lumpur.
Beberapa warga tampak hanya bisa menatap barang dagangan mereka yang rusak terendam air.
Di sudut pasar, terlihat sosok Bugis menyambut para relawan dengan senyum lemah.
Kepada tim NU Peduli, Bugis menuturkan bahwa ia sudah tinggal di pasar tersebut sejak istrinya meninggal sepuluh tahun silam.
Seorang teman yang juga hidup di sekitar pasar menjadi satu-satunya orang yang menemaninya.
“Saya biasa dipanggil Bugis. Sudah lama di sini. Hidup dari menjaga WC,” ujarnya lirih.
Bugis tak kuasa menahan haru saat menerima bantuan nasi bungkus, air minum, rokok, dan sedikit uang dari relawan NU Peduli.
“Alhamdulillah, terima kasih. Semoga semua yang membantu diberi keberkahan dan keselamatan,” tuturnya sambil menadahkan tangan berdoa.
Ia mengaku akan tetap bertahan di tempat itu selama masih memungkinkan.
Namun, jika kondisi banjir semakin parah, Bugis siap dievakuasi menuju posko NU Peduli yang berjarak sekitar beberapa ratus meter dari pasar.
“Kalau air makin tinggi, saya yang akan ke posko NU,” ucapnya sambil menunjuk batas genangan air di sekitar tempatnya berdiri.
Bagi tim relawan, kisah Bugis menjadi potret nyata ketangguhan warga kecil yang bertahan di tengah bencana, sekaligus pengingat pentingnya kepedulian sosial untuk membantu sesama tanpa pamrih. (arh)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.