Menu

Mode Gelap
 

Ekonomi & Bisnis · 7 Nov 2025 10:36 WIB

Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional 8%, BRIN Minta Jawa Tengah Fokus Kembangkan Nilai Tambah Komoditas Lokal


					Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional 8%, BRIN Minta Jawa Tengah Fokus Kembangkan Nilai Tambah Komoditas Lokal Perbesar

SEMARANG, Kabarjateng.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk lebih serius menggarap peningkatan nilai tambah pada komoditas lokal.

Langkah ini dinilai strategis dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional yang ditetapkan pemerintah sebesar 8 persen.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi tidak hanya dapat dicapai melalui arus investasi besar, tetapi juga dengan mengoptimalkan potensi komoditas lokal yang diolah menjadi produk bernilai lebih tinggi.

“Pertumbuhan 8 persen hanya bisa diraih melalui dua hal, yakni masuknya investasi besar dan peningkatan nilai tambah dari produk lokal. Keduanya harus berjalan beriringan,” ujar Handoko dalam kegiatan Anugerah Karya Riset Pembangunan Jawa Tengah 2025 serta peluncuran platform DocRIDa di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Kamis (6/11/2025).

Menurutnya, pemerintah daerah perlu memberi perhatian serius pada sektor hilirisasi agar komoditas lokal memiliki daya saing dan nilai jual tinggi.

Upaya tersebut akan melengkapi strategi menarik investasi industri besar yang didukung dengan kebijakan insentif fiskal dan program nasional seperti Danantara.

Handoko menilai, keberadaan industri besar memang memberikan manfaat, terutama dalam menciptakan lapangan kerja.

Namun, dampaknya terhadap peningkatan ekonomi masyarakat sering kali masih terbatas.

Karena itu, pemerintah daerah didorong untuk memperkuat hilirisasi komoditas lokal agar manfaat ekonominya lebih terasa langsung di masyarakat.

“Itulah peran BRIN dan Brida Jateng, bukan sekadar melakukan riset, tetapi juga menjadi penggerak dan fasilitator dalam mengoptimalkan sumber daya daerah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Handoko mencontohkan potensi besar komoditas bawang merah di Jawa Tengah.

Menurutnya, sektor pertanian bawang merah telah kuat di hulu, dan sektor kuliner di hilir juga sudah berjalan.

Namun, bagian tengah rantai nilai—yakni inovasi produk olahan—masih perlu diperkuat.

“Bawang merah bisa dikembangkan menjadi berbagai produk hilirisasi seperti bubuk kemasan atau olahan lain. Inovasi seperti ini bisa menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan nilai jual petani,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa fenomena serupa terjadi di banyak daerah di Indonesia, di mana sektor inovasi pengolahan masih kurang diperhatikan. Padahal, nilai tambah terbesar justru muncul dari sektor tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan pentingnya riset dan inovasi untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di daerah.

Menurutnya, riset tidak harus berskala besar, tetapi bisa berfokus pada solusi konkret yang langsung dirasakan masyarakat.

“Intinya adalah menggali potensi yang dimiliki Jawa Tengah. Inovasi harus terus dilakukan agar manfaatnya bisa dirasakan luas dan berkontribusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (rs)

Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Publisher

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Polres Demak Tertibkan Balap Liar di Jalan Lingkar Terminal Baru, 114 Remaja Diamankan 

15 Maret 2026 - 12:22 WIB

OSIS SMPN 1 Bumiayu Gelar Safari Ramadan, Bagikan Ribuan Takjil untuk Warga

15 Maret 2026 - 12:10 WIB

Polda Jateng Ingatkan Pemudik Tidak Berhenti di Bahu Jalan Tol

15 Maret 2026 - 09:24 WIB

Kapolres Kendal Tinjau Pos Pengamanan, Pastikan Mudik Lancar

15 Maret 2026 - 09:02 WIB

Warga Brangkongan Geger, Seorang Pria Tewas di Atas Pohon Kelapa

15 Maret 2026 - 06:34 WIB

Fasilitas Kesehatan Jateng Layani Pemudik

15 Maret 2026 - 05:19 WIB

Trending di Daerah