SEMARANG | Kabarjateng.id – Bunda PAUD Provinsi Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin, mendorong pengembangan pembelajaran koding dan robotik di sekolah.
Menurutnya, pengenalan teknologi sejak dini dapat membantu anak membangun pola pikir logis, mengasah daya kritis, serta meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah.
Dukungan tersebut disampaikan Nawal saat membuka Training for Trainer Pelatihan dan Simulasi Kompetisi Sains, Koding, dan Robotik Berbasis STEAM bagi guru SD, SMP, SMA, dan SMK se-Jawa Tengah.
Kegiatan yang diselenggarakan Rumah Edukasi itu berlangsung di Gedung Kuliah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (8/10/2026).
Nawal menilai, koding dan robotik bukan sekadar sarana mengenalkan teknologi kepada peserta didik.
Kedua bidang tersebut juga berpotensi mendukung perkembangan kemampuan sosial dan emosional anak apabila diterapkan dengan metode pembelajaran yang tepat.
Karena itu, dia berharap penerapan koding dan robotik dapat menjangkau lebih banyak sekolah di Jawa Tengah dan menjadi bagian dari proses pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.
“Ini merupakan pembelajaran penting. Kita perlu memperluas jaringan pendidikan di Jawa Tengah agar koding dan robotik bisa diintegrasikan ke dalam kurikulum dan kegiatan belajar yang sudah berjalan,” ujar Nawal.
Upaya pengenalan teknologi sejak usia dini, lanjutnya, telah dilakukan melalui kerja sama Kelompok Kerja (Pokja) Bunda PAUD Jawa Tengah dengan Rumah Edukasi.
Kedua pihak tersebut telah menggelar pelatihan koding dan robotik berbasis STEAM yang diikuti lebih dari 600 guru PAUD.
Menurut Nawal, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun fondasi keterampilan teknologi sejak anak berada pada tahap pendidikan paling awal.
Program itu juga sejalan dengan Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 127/P/2025 tentang Pedoman Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.
Nawal menjelaskan, pembelajaran koding dan robotik dapat dikemas secara kreatif untuk membuat materi sains dan matematika lebih mudah dipahami.
Anak tidak hanya menerima penjelasan secara teoritis, tetapi juga diajak mencoba, bereksperimen, dan belajar melalui permainan.
“Anak-anak bisa belajar matematika sambil bermain. Begitu pula ketika mempelajari sains, mereka dapat merasakan proses belajar yang lebih menyenangkan,” tuturnya.
Ia juga menyinggung pengalaman sejumlah negara yang telah mengembangkan pembelajaran koding dan robotik dalam sistem pendidikan.
Jepang, misalnya, mulai menerapkan pembelajaran koding pada 2020, sedangkan Singapura turut mengembangkan pendidikan terkait koding dan kecerdasan artifisial (AI).
Meski demikian, Nawal mengingatkan bahwa penerapan pembelajaran tersebut tidak harus bergantung pada perangkat robotik berharga mahal.
Kreativitas guru dalam memilih metode dan media belajar justru menjadi salah satu faktor penting.
Kertas, kardus, serta berbagai bahan sederhana lainnya dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan konsep dasar koding dan robotik kepada siswa.
Dengan pendekatan tersebut, keterbatasan sarana di sekolah diharapkan tidak menjadi penghalang bagi pengembangan keterampilan teknologi.
“Kita bisa menggunakan berbagai media pembelajaran selain robot yang mahal. Kertas, kardus, dan bahan lainnya juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar,” jelasnya.
Sementara itu, Guru SMP Kesatrian 2 Semarang, Yuda Fathoni, mengatakan sekolahnya telah memberikan pengenalan teknologi dasar kepada para siswa.
Ia menjelaskan, pembelajaran teknologi di tingkat SMP masih berada pada tahap pengenalan atau pravokasional.
Pembekalan tersebut diharapkan menjadi dasar bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan yang lebih spesifik ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang SMK.
Yuda berharap pelatihan tersebut dapat memperluas wawasan guru sekaligus memberikan bekal praktis untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
“Harapannya, kegiatan pelatihan ini dapat menambah pengetahuan yang nantinya bisa diterapkan dalam pembelajaran kepada anak-anak,” katanya.
Dukungan terhadap peningkatan kompetensi guru juga disampaikan Wakil Dekan I FMIPA Universitas Negeri Semarang, Zaenal Abidin.
Ia menyebut keterlibatan perguruan tinggi dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, terutama melalui pengabdian kepada masyarakat.
Menurut Zaenal, kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas pendidikan, dan para pemangku kepentingan diperlukan untuk memperluas akses pelatihan serta meningkatkan kualitas tenaga pendidik di Jawa Tengah.
Ia berharap kerja sama serupa dapat terus dikembangkan agar semakin banyak guru memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi dalam menghadapi perkembangan teknologi di dunia pendidikan.
“Harapan kami, kerja sama ini semakin terbuka karena memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan kualitas guru di Jawa Tengah. Mudah-mudahan kesempatan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya,” pungkasnya. (dkp)






